Manusia hidup di dunia pastinya
memiliki Hak dan juga Kewajiban. Kali ini bukan untuk membahas hak apa saja
yang didapatkan manusia tapi sebuah pemikiran tentang hak yang mungkin sedikit
disingkirkan oleh sebuah kebutuhan, atau mungkin kebutuhan yang jenisnya sudah
berubah menjadi keinginan.
Ada beberapa cerita berhubungan dengan
kenaikan UMK pagi ini :
- Pagi ini di sebuah ruangan kamar, seorang teman saya
langsung menyalakan ponsel dan mengecek rekening bank’nya. Ya… tentu saja
tentang gaji pertama setelah kenaikan UMK (Upah Minimum Kabupaten/Kota)
awal taun 2015. Sebelum kenaikan UMK, gajinya UMK + n dan setelah UMK naik
gajinya menjadi UMK – n. Dia hanya menggerutu sambil bilang, “Kalau
pelitnya wajar sih ga masalah. Kalau udah ga adil, aku bela hakku, rugi
aku jadi sarjana. Aku harus demo!.”
- Seorang lagi mengecek ATM pagi-pagi dan dengan muka
ceria. Sarjana itu dengan bangga dia katakan “Gajiku naik banyak jadi
UMK!”. Memang selama ini gajinya mengikuti UMK. Jika naik Rp.500.000 ya
akan naik Rp.500.000.
- Yang seorang lagi mukanya tampak biasa-biasa saja.
Biasanya dia digaji UMK+2n dan setelah kenaikan, dia digaji UMK+ n. Beda
dengan temannya yang digaji UMK gajinya naik lebih banyak dari pada dia
yang gajinya lebih besar namun tampak kenaikan hanya sedikit.
Tanggapan
dan ekspresi beberapa orang memang berbeda seiring naiknya UMK tahun ini, ada
yang puas, santai maupun tidak terima, bukan dengan UMK tapi dengan kebijakan
tempatnya bekerja.
Beberapa orang kadang berfikir kalau
uang adalah segalanya, jika uang bukan segalanya, segalanya memang butuh uang.
Yah… banyak yang mengatakan “yang penting kerja”, entah di dalam
pekerjaan itu mereka menerima keadilan atau tidak . Ada juga yang bangga
bekerja di salah satu perusahaan besar yang produknya terkenal, menjabat
sebagai seorang atasan yang pada hakikatnya tetaplah buruh. Bukan tentang
digaji berapa yang penting bisa ada uang untuk makan. Selama ini kekuasaan
memang sudah menindas manusia.
Manusia itu, "Semakin
banyak semakin merasa menang. Semakin tua semakin merasa benar. Semakin tinggi
semakin merasa berkuasa."
Bayangkan saja seorang Sarjana yang
bekerja dan digaji di bawah UMK. Yah…. Kalau kontraknya hanya selama percobaan
saja tidak masalah, kalau seterusnya dan maximal adalah UMK?, apa bedanya
dengan buruh-buruh lain dengan gaji sama namun hanya lulusan SMA dan hanya
unggul lebih lama atau disebut sebagai “senior”?
Mereka diam, apalagi kalau itu
merupakan pekerjaan pertama dan masih orang baru. Masih tetap dengan sebuah
sugesti “yang penting kerja dapat uang”, yang penting bisa makan, minum dan
membeli beberapa kebutuhan (karena oksigen gratis), kadang pula hal-hal kecil
yang menjadi hak mereka, yang sudah tercantum di Undang-undang itu
dilupakan.Mereka takut tidak akan mendapatkan yang lebih diluar dan terlalu
yakin bahwa tempat yang bisa mempekerjakannya hanya disitu, dimana ada oknum
yang mempermainkan kehidupan mereka sedangkan yang dipermainkan tidak ingin
membela Haknya.Yang memperkaya orang lain, sampai kapan akan terus dibodohi?.
Pekerja bukanlah kerbau dan ini adalah negara demokrasi, tak ada lagi kerja rodi.
Tuntut jika tidak adil, pergi jika kebenaran sudah tak terlihat lagi. Buat apa
mempertahankan harga diri yang sudah terinjak-injak hampir mati.
Dari sekitar pegunungan,
berpijaklah melihat realitas kehidupan yang mungkin tidak diinginkan.
Loading...
0 Response to "Kebutuhan yang Mengalahkan Hak"
Post a Comment