Mengenal 10 Gunung Tertinggi di Jawa Timur

10 Gunung Tertinggi di Jawa Timur. Pulau Jawa merupakan bagian dengan cincin api, sehingga banyak gunung berapi di seluruh bagian Pulau Jawa. Banyaknya titik gunung-gunung di Pulau Jawa menyebabkan pulau ini kaya akan sejarah, mengingat gunung adalah tempat suci pad ajaman dahulu. Jawa Timur adalah salah satu provinsi yang memiliki jumlah gunung paling banyak di Indonesia. Jawa Timur memiliki 181 gunung diatas ketinggian 1.000 mdpl. Dari gunung-gunung tersebut, hanya ada beberapa yang populer di kalangan pendaki maupun wisatawan.

Gunung-gunung besar di Jawa kebanyakan berupa gunung berapi yang masih aktif, tak berbeda dengan Jawa Timur. Selain di kenal keindahannya, Jawa Timur dikenal menyajikan trek pendakian yang menantang karena hampir semua gunungnya memiliki sejarah dan title, seperti gunung tertinggi, terpanjang dan tersulit disebut-sebut berada di Jawa Timur. Sehingga, siapa pendaki yang tidak tergiur untuk mencoba salah satunya?. 

Berikut 10 gunung tertinggi di Jawa Timur :

Gunung Semeru berada di antara Kab. Malang dan Kab.Lumajang Jawa Timur. Dengan tinggi 3.676, Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Jawa dan merupakan gunung berapi tertinggi ke 3 di Indonesia. Gunung yang sangat gagah ini mendapat julukan tempat abadi para dewa, sehingga pendaki pasti ingin mendaki gunung tertinggi di Jawa ini.
10 Gunung Tertinggi di Jawa Timur
Gunung Semeru
Gunung Semeru memiliki Danau Ranu Kumbolo yang sangat fenomenal dan menjadi tujuan selain puncak Mahameru. Gunung aktif dengan trek pasir yang meletus tiap 20 menit ini cukup berbahaya dan banyak memakan korban sejak 1969 (Soe Hok Gie), sehingga pendakian ke puncak tidak dianjurkan. 

Gunung Raung Berada di tiga kabupaten yaitu Kab. Besuki, Kab. Banyuwangi dan Kab.Bondowoso. Nama gunung yang memiliki tinggi 3.344 mdpl ini terdengar garang, seperti trek yang disajikan. Gunung Raung merupakan gunung aktif dengan title gunung tersulit di Jawa, karena teknik panjat tebing dibutuhkan di jalur pendakian hingga ke puncak. 
10 Gunung Tertinggi di Jawa Timur
Gunung Raung
Gunung Raung memiliki kaldera luas yang kadang masih terdengar suara gelegar dan aktivitas vulkanisnya. Puncak Sejati adalah puncak tertinggi Gunung Raung. Gunung ini tidak menyajikan trek pasir, tetapi bebatuan terjal dan jurang-jurang dalam yang harus dilalui. Berani?

Gunung Arjuno berada di Malang dan memiliki 3 jalur pendakian resmi. Gunung Arjuno memiliki ketinggian 3.339 mdpl dan merupakan yang tertinggi di gugusan Pegunungan Arjuno - Welirang. Sesuai namanya, gunung ini berdiri gagah dan menyimpan sedikit legenda tentang tokoh wayang tersebut. 
10 Gunung Tertinggi di Jawa Timur
Gunung Arjuno
Puncak Ogal-Agil adalah nama puncak Gunung Arjuno yang ditandai dengan batuan-batuan besar. Hal yang menarik di Gunung Arjuno adalah adanya Alas Lali Jiwo yang terdengar mistis dan telah menjadi mitos pada pendaki.

Gunung Lawu berada di batas antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Gunung dengan tinggi 3.625 mdpl ini begitu disakralkan karena terdapat petilasan Prabu Brawijaya di puncak. Di sekitar lerengnya juga ada beberapa sisa-sisa reruntuhan yang disebut Pasar Dieng. 
10 Gunung Tertinggi di Jawa Timur
Gunung Lawu
Hargo Dumilah adalah puncak tertinggi dari tiga puncak Gunung Lawu. Selain menyajikan pemandangan yang memikat mata dan beberapa tempat untuk ziarah, di puncak Gunung Lawu ada sebuah warung yang mendapat title warung tertinggi di Indonesia bernama warung Mbok Yem. Sangat meringankan beban para peziarah dan pendaki.

Gunung Welirang berada di Malang dan bersebelahan dengan Gunung Arjuno. Gunung ini memiliki tinggi 3.156 mdpl dan memiliki kawah belerang aktif yang masih ditambang hingga saat ini. Pendakian ke Gunung Welirang biasanya dilanjutkan dengan pendakian ke Gunung Arjuno
10 Gunung Tertinggi di Jawa Timur
Gunung Arjuno - Welirang
Gunung Welirang menyajikan trek makadam yang berakhir dengan trek pasir padat di area puncak. Area yang panas bercampur belerang tentu membuat pendaki tidak bisa berada di puncak terlalu lama.

Gunung Argopuro berada di Kabupaten Situbondo dan memiliki ketinggian 3.088 mdpl. Gunung ini sangat menarik karena menyimpan sejarah nasional sekaligus Legenda Dewi Rengganis. Gunung yang mendapat title jalur pendakian terpanjang di jawa ini memiliki sisa-sisa sejarah yang bisa dilihat dipuncaknya. 
10 Gunung Tertinggi di Jawa Timur
Gunung Argopuro
Gunung Argopuro menyajikan trek indah dengan adanya savana luas sekaligus Danau Taman Hidup. Gunung ini memiliki dua puncak yaitu Puncak Rengganis dan Puncak Argopuro. Adanya sejarah kelam sekaligus legenda yang melekat kuat, gunung ini dikenal angker di kalangan para pendaki dan masyarakat.

7. Gunung Suket

Gunung Suket berada di Kawasan Pegunungan Ijen dengan tinggi 2.950 mdpl. Meski ada di sebelah Gunung Raung dan bisa didaki dari jalur Sumber Waringin, jalur pendakian resmi Gunung Suket belum ada. Jadi, jika ingin mendaki ke Gunung Suket, harus mengajak warga sekitar sebagai penunjuk jalan. 
10 Gunung Tertinggi di Jawa Timur
Gunung Raung - Suket

Dengan ketinggian 2.868 mdpl, Gunung Butak merupakan puncak tertinggi di gugusan Pegunungan Putri Tidur. Gunung Butak berada di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar. Gunung Butak memiliki savana indah dan panorama alam yang cukup indah. Meski tidak sepopuler nama gunung-gunung yang lain, Gunung Butak menyajikan trek pendakian yang tidak mudah untuk sampai di puncaknya.
10 Gunung Tertinggi di Jawa Timur
Gunung Butak

Gunung Ijen berada di Kab.Bondowoso dan Kab.Banyuwangi. Gunung berketinggian 2.799 mdpl ini memiliki kawah belerang yang sangat terkenal di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara karena kawahnya menghasilkan api biru alami. Api biru alami hanya ada dua di dunia, salah satunya di Kawah Ijen
10 Gunung Tertinggi di Jawa Timur
Gunung Ijen
Selain Fenomena Api Biru Kawah Ijen  yang bisa dilihat saat dini hari. Pemandangan alam di area Kawah Ijen sangatlah indah, terlebih ketika air kawah berwarna tosca berpadu dengan lereng gunung yang putih ditambah sinar jingga mentari yang mulai muncul. It's amazing !

10. Gunung Merapi

Bukan hanya di Jawa Tengah, Jawa Timur juga memiliki Gunung Merapi. Gunung Merapi ini bersebelahan dengan Gunung Ijen dengan tinggi 2.799 mdpl. Meski sejalur dengan jalur ke Kawah Ijen, Gunung Merapi ini tidak boleh didaki untuk menjaga ekosistem di dalamnya.
10 Gunung Tertinggi di Jawa Timur
Gunung Merapi
Itu adalah 10 gunung tertinggi di Jawa Timur yang kebanyakan sangat memikat mata bagi wisatawan maupun para pendaki. Gunung-gunung dengan trek, kesulitan dan keindahan yang berbeda itu tentu saja selalu menarik minat para pendaki. Sehingga, banyak aturan umum yang digunakan agar ekosistem alam tetap terjaga. So, where to go?

Pendakian Gunung Panderman 2.045 mdpl via Dukuh Toyomerto

Pendakian Gunung Panderman via Batu. Siapapun yang pernah berwisata ke Batu, tentu tak asing dengan Gunung Panderman. Gunung yang menjadi latar belakang kota Batu ini bukan hanya ditujukan untuk para pendaki. Sekedar berwisata atau hiking ringan di Gunung Panderman bisa menjadi solusi untuk mencari suasana dingin khas kota Batu yang lebih dingin lagi ditambah pemandangan yang menarik. Meski tidak nampak tinggi, memang selalu dibutuhkan tenaga lebih untuk mendaki ikon kota Batu. 
Pendakian Gunung Panderman 2.045 mdpl via Dukuh Toyomerto
Gunung Panderman
Gunung Panderman terletak di Kota Batu, Jawa Timur. Berada di dalam gugusan Pegunungan Putri Tidur bersama Gunung Butak dan Gunung Kawi. Ada dua jalur Gunung Panderman yang bisa dilalui, yaitu :
  1. Jalur pendakian via Dukuh Toyomerto
  2. Jalur pendakian via Curah Banteng.
Jalur resmi yang biasanya digunakan adalah jalur pendakian via Dukuh Toyomerto, Desa Pesanggrahan, Batu. Sedangkan jalur Curah Banteng merupakan jalur pintas yang cukup menantang, sehingga jarang yang lewat jalur ini kecuali ingin bersusah-susahan. Merupakan salah satu bagian wisata Kota Batu, Gunung Panderman cocok sekali bagi pendaki pemula ataupun wisatawan yang ingin ngadem sejenak. 

Untuk ke basecamp pendakian Gunung Panderman bisa diakses dengan kendaraan roda 4 atau roda 2. Dari alun-alun Batu ikuti jalan ke arah barat -  perempatan ke 2 belok kiri - perempatan belok kanan - masuk gapura Wisata Gunung Panderman. Sampai di parkiran bawah, terus ikuti jalanan aspal yang mulai menanjak curam. Setelah keluar dusun, jalur akan melewati perkebunan penduduk dengan jalan makadam yang tidak terlalu panjang, sebelum akhirnya sampai di basecamp pendakian.

Selain tempat registrasi, di basecamp terdapat fasilitas yang lumayan lengkap seperti sebuah gasebo, pos jaga, tempat parkir, toilet umum dan warung. Ada peta jalur pendakian yang harus dipahami sebelum melakukan pendakian, karena mungkin ingin berganti haluan ke Gunung Butak.

Basecamp - Pos 1

Jalur pendakian Gunung Panderman dari basecamp bisa langsung mengikuti jalan tanah yang ada di depan dan di sisi basecamp. Kedua jalur tersebut sama dan akan bertemu di persimpangan. Dari basecamp ini bisa melakukan pendakian Gunung Panderman dan pendakian Gunung Butak. Aliran air masih bisa ditemui selepas basecamp karena masih melewati area kebun penduduk. Jalur berupa tanah padat dan cenderung landai hingga masuk ke hutan pinus. 

Setelah melewati perkebunan penduduk, jalur pendakian Gunung Panderman akan melipir bukit dengan vegetasi terbuka sampai masuk hutan pinus. Disini jalan setapak mulai menyempit dan time to hiking.

Pos 1 - Latar Ombo, berada di ketinggian 1.600 mdpl. Sesuai namanya, area Pos 1 sangat luas dan bisa menampung banyak tenda di area yang lapang terbuka. Ada sebuah shelter untuk beristirahat di tengah area. Saat malam, pemandangan kota Batu masih tampak di area Pos 1, sehingga bisa dibilang lokasi ini cocok untuk camping ceria maupun sekedar ngopi.
Pendakian Gunung Panderman 2.045 mdpl via Dukuh Toyomerto
Pos 1 - Latar Ombo

Pos 1 - Pos 2

Selepas Pos 1, jalur pendakian Gunung Panderman kembali memasuki vegetasi hutan pinus dengan trek tanah padat yang mulai menanjak dan pendakian sesungguhnya dimulai dari Pos 1. Jika sebelumnya jalur masih melipir bukit, kini jalur benar-benar menanjak ditambah adanya trek bebatuan yang mendominasi ketika mendekati Pos 2.

Pos 2 - Watu Gede, berada di ketinggian 1.730 mdpl. Pos 2 tidak seluas Pos 1, tetapi area di Pos 2 lebih teduh dan sejuk karena area datarnya masih terlindung oleh pepohonan tinggi di sekitarnya. Sebuah batu besar yang menandai Pos 2 juga menandai berakhirnya trek bebatuan di jalur pendakian Gunung Panderman. 
Pendakian Gunung Panderman 2.045 mdpl via Dukuh Toyomerto
Pos 2 - Watu Gede

Pos 2 - Puncak Gunung Panderman

Jalur pendakian Gunung Panderman dilanjutkan dengan tetap mengikuti jalur setapak di tanah padat menembus hutan. Trek masih menanjak dan membutuhkan banyak tenaga, vegetasi awal selepas Pos 2 tidak terlalu lebat sampai tiba di area terbuka. 
Pendakian Gunung Panderman 2.045 mdpl via Dukuh Toyomerto
Area Puncak Bayangan
Area terbuka yang menunjukkan pemandangan kota batu serta gagahnya Gunung Arjuno - Gunung Welirang menandakan bahwa puncak Gunung Panderman sudah dekat. Area terbuka berada di jalur pendakian dengan kontur yang agak miring dan cukup lebar sehingga bisa untuk beristirahat, mengolah logistik ataupun camp. Area terbuka ini bisa disebut dengan Puncak Bayangan. Suasana di puncak Gunung Panderman dan di lokasi tidak jauh berbeda dengan adanya kera abu-abu.

Kera abu-abu akan mulai tampak di area Puncak Bayangan, terlebih jika ada logistik yang menggoda iman, maka kera abu-abu akan mengajak keluarganya untuk ikut ambil bagian dalam mengkonsumsi logistik para pendaki. Meski area agak miring, pemandangan di Puncak Bayangan yang terbuka cukup indah terlebih jika malam hari. Jadi jika ingin camp, waspadai mahkluk lain di sekitar. Kera maksudnya..

Puncak Bayangan - Puncak Basundara

Selepas Pos Bayangan, pendakian Gunung Panderman dilanjutkan menyusuri lereng terbuka yang masih menampakkan Gunung Arjuno - Gunung Welirang. Jalur akan melewati tepi jurang, menyusuri rimbunan perdu yang hampir membentuk terowongan dan kembali dengan trek tanah padat bercampur akar-akar pohon yang dihuni kera abu-abu.
Pendakian Gunung Panderman 2.045 mdpl via Dukuh Toyomerto
View Pegunungan Arjuno - Welirang
Pendakian Gunung Panderman 2.045 mdpl via Dukuh Toyomerto
Trek ke Puncak Gunung Panderman
Puncak Gunung Panderman yang disebut Puncak Basundara, berada di ketinggian 2.045 mdpl, berupa area datar, lapang dan terbuka. Di puncak terdapat tugu bendera serta patok penanda Puncak Basundara (2.000 mdpl). 
Pendakian Gunung Panderman 2.045 mdpl via Dukuh Toyomerto
Puncak Basundara
Pendakian Gunung Panderman 2.045 mdpl via Dukuh Toyomerto
Kera abu-abu di area Puncak Panderman
Biasanya area puncak digunakan untuk camp karena area yang cukup luas dan datar. Nah, jika di pos bayangan akan dijumpai kera sekeluarga, di Puncak Basundara akan dijumpai kera abu-abu se-RT. Kera abu-abu paling banyak menghuni area puncak karena lokasinya yang strategis sekaligus banyak logistik dari pendaki yang camp di puncak. Seakan-akan puncak merupakan balai kota bagi para kera ini. Welcome to Planet of the Apes.


Tips Pendakian Gunung Panderman via Toyomerto Batu :
  1. Ada dua area parkir yaitu parkir bawah dan parkir di basecamp. Jarak keduanya cukup jauh dan jika ingin parkir di basecamp, bawalah kendaraan roda 2 non matic. Motor matic diwajibkan parkir di parkiran bawah untuk keamanan.
  2. Sebelum sampai di basecamp, jalan berupa makadam dan saat malam sangat gelap, kadang berkabut. Wajib berhati-hati.
  3. Lengkapi kebutuhan logistik terutama air karena mendekati Pos 1 hingga di puncak tidak ada sumber air. 
  4. Warung di dekat basecamp biasanya hanya buka disaat akhir pekan atau hari libur dan tutup di hari biasa. Jika haris biasa, siapkan logistik di kota.
  5. Dari basecamp ada jalur di sebelah kiri dan kanan warung untuk memulai pendakian. Kedua jalur tersebut akan bertemu di persimpangan. Ikuti jalan yang menanjak.
  6. Jika camp di Puncak Bayangan atau Puncak Basundara, masukkan logistik ke dalam tenda dengan aman agar tidak berpindah kepemilikan menjadi milik kera abu-abu.
  7. Kera abu-abu tidak akan mengganggu jika tidak diganggu, so keep enjoying your trip. Tidak masalah jika ingin memberi makan kepada kera se-RT di puncak, asalkan tidak meracuni.
  8. Jika musim kemarau, jalur pendakian Gunung Panderman cukup berdebu dan sangat panas ketika siang hari, bawalah pelindung kepala +masker.
  9. Bawalah sampah kembali turun dan jangan melakukan vandalisme di tugu, plakat, watu gede dan dimanapun.
Pendakian Gunung Panderman 2.045 mdpl via Dukuh Toyomerto
Cheers...

Itinerary Pendakian Gunung Panderman via Batu :
Basecamp - Pos 1 : 45 menit
Pos 1 - Pos 2 :  1 jam 
Pos 3 - Puncak Bayangan : 35 menit
Puncak Bayangan - Puncak Basundara : 15 menit

Air Terjun Toroan - Wisata Unik dan Cantik di Pulau Garam

Air Terjun Toroan Madura. Pulau Madura tidak hanya dikenal sebagai penghasil garam dan makanan khasnya, sate. Madura menyimpan pesona alam cantik yang satu-persatu mulai menampakkan diri. Dikenal dengan banyaknya wisata pantai, ada satu tempat wisata di Madura yang sangat unik yaitu Pantai Air Terjun Toroan. Bisa dibilang ini adalah tempat wisata yang tidak membosankan di Madura. Bukan sekedar air terjun biasa, Air Terjun Toroan berada tepat di tepi pantai. Pantai disertai air terjun merupakan wisata yang jarang ditemui sehingga sangat menarik untuk disinggahi.
Air Terjun Toroan Madura.
Air Terjun Toroan
Air Terjun Toroan berada di Desa Ketapang Daya, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang, Pulau Madura, Jawa Timur. Berada sekitar 105 kilimeter dari pusat kota Surabaya dan sekitar 4 kilometer dari pusat kota Sampang. Ada beberapa opsi rute untuk ke Air Terjun Toroan :
  1. Jika menggunakan kapal di Pelabuhan Kamal maupun kendaraan pribadi dari Jembatan Suramadu, bisa lewat arah Pantura (Pantai Utara) di Kabupaten Bangkalan.
  2. Dari Jembatan Suramadu bisa juga memutar arah melewati tengah Kota Sampang, kemudian ke Kecamatan Ketapang.
  3. Transportasi dari Pelabuhan Kamal naik mobil L300 ke Kecamatan Ketapang.
  4. Transportasi dari Terminal Bungurasih Surabaya naik bus akas tujuan Kabupaten Sampang - turun di kawasan Barisan - dilanjutkan L300 ke Kecamatan Ketapang.

Lokasi tempat wisata Air Terjun Toroan sangat strategis karena berada di pinggir jalan raya, sehingga mudah dijangkau dengan banyaknya angkutan umum yang melintas.

Air Terjun Toroan Madura.
Gerbang Masuk Wisata Air Terjun Toroan
Air Terjun Toroan atau Pantai Toroan berada di atas bukit yang membatasi area pantai, sehingga untuk ke bibir pantai atau ke air terjun, harus menuruni bukit melalui tangga beton yang sudah dibangun. Tepat di ujung tangga, aliran air dengan debit yang kecil mulai nampak, menandakan bahwa air terjun utama hanya tinggal beberapa langkah saja. 

Air Terjun Toroan terbilang unik karena airnya langsung jatuh ke pantai di bawahnya, tanpa melalui pesisir pantai. Air Terjun Toroan memiliki tinggi sekitar 20 meter dengan bentuk melebar seperti tirai-tirai alami. Ketika mengalir dalam debit air yang pas, keindahan dari air terjun sangat sempurna. Perpaduan pepohonan rindang, air tosca kebiruan dan deburan air yang putih melaju kencang menciptakan suasana nggreget di sekitar air terjun. Air terjun ini berasal dari Sungai Payung yang ada di Kecamatan Timur. Air terjun yang langsung berhadapan dengan laut lepas ini menyajikan panorama yang indah. Batuan karang yang menyembul di permukaan laut menghiasi area air terjun dan sebagian besarnya menahan hempasan ombak yang tidak terlalu kencang. 
Air Terjun Toroan Madura.
Landscape Air terjun - Pantai Toroan
Panas dan sejuk seakan menjadi satu di Toroan. Berjalan di pesisir pantai panas yang tenang dengan hiasan karang atau bercengkerama di bawah pohon rindang ditemani suara gemericik air terjun ditambah angin yang sepoi menghempas hawa panas, pasti menciptakan suasana yang sangat damai. Hm... be carrefull when sleepy attack. 

Selain menikmati panorama alam di pesisir Pantai Toroan dengan air terjunnya, bercengkerama di puncak air terjun juga tidak kalah mengasyikkan. Untuk menikmati suasana pantai di atas bukit, maka tidak perlu turun ke bawah. Dari lokasi parkir langsung menuju ke arah toilet umum yang terdapat jalan setapak di sebelahnya. Jalan setapak itu akan bertemu dengan aliran Sungai Payung yang terpotong menjadi air terjun. Panorama lepas pantai akan membentang luas dan indah dilihat dari atas bukit. Meski panas, ada sebuah pohon besar yang bisa untuk berteduh, tentu harus menyeberangi sungai yang debitnya tidak menentu. 
Air Terjun Toroan Madura.
Bagian Atas Air Terjun Toroan

Sejarah Air Terjun Toroan

Selain panoramanya yang unik, tempat wisata di Madura ini menyimpan sejarah yang dipercaya hingga kini oleh masyarakat sekitar. Konon, dahulu ada sepasang suami istri bersama adiknya di sebuah dusun Lengher Djeh. Sang suami bernama Sayyid Abdurrahman (birenggono), istrinya bernama Siti Fatima  dan adiknya bernama Sayyid Addurrokhim (birenggana). Mereka berdua dikenal sebagai ulama yang pantai ilmu agamanya, santun, terpuji dan sakti.

Suatu hari keluarga Birenggono diterpa musibah karena dianggap selingkuh oleh istrinya, begitu juga sebaliknya. Mereka saling beradu argumen dan sumpah serapah. Birenggono bersumpah bahwa jika dia tidak bersalah, maka kelak kuburannya dapat digali dengan batang daun jarak. Sedangkan Siti Fatima bersumpah jika dia tidak bersalah, kelak kuburannya di tengah sungai tidak akan hanyut dibawa banjir. 

Kedua sumpah suami istri tersebut benar terjadi. Makam Siti Fatimah yang ada di tengah hilir sama sekali tidak hanyut, bahkan air sungai mengalir melewati pengkuburan dan membentuk dua aliran sungai menjadi air terjun. Karea peristiwa itu, Air Terjun Toroan dikeramatkan oleh warga sekitar. Asal usul Air Terjun Toroan berasal dari legenda tersebut, sedangkan 'Toroan' berasal dari daerah setempat yang berarti 'turun' 
Air Terjun Toroan Madura.
Panorama dari Pondok Atas Bukit
Tempat Wisata Air Terjun Toroan terus dikembangkan dengan penambahan beberapa fasilitas. Meski tidak mengunjungi garis pantai maupun air terjunnya, tempat wisata di Madura ini cocok untuk bercengkerama dengan adanya pondok lesehan yang ada di atas bukit. Menampakkan panorama lepas pantai yang indah, melepas penat dan lelah dengan segelas minuman dingin akan terasa menyegarkan, sayang penampakan penambang di bagian kiri pantai tidak membuat segalanya menjadi sempurna. 

Tips wisata di Air Terjun Toroan Madura :

  1. Waktu terbaik untuk berwisata adalah menjelang pergantian musim. Debit air dan kejernihan air tergantung musim. Jika kemarau, debit air tidak terlalu banyak, sehingga air masih tampak jernih tosca. Jika musim hujan, debit air tinggi dan membuat air di sekitarnya terkesan keruh.
  2. Bawalah pelindung kepala untuk melindungi dari panas menyengat saat siang hari. 
  3. Warung hanya ada di atas bukit. Bawalah bekal untuk turun ke bawah untuk melengkapi enjoying time.
  4. Jika ingin menikmati panorama di bawah pohon yang ada di atas air tejun, perhatikan debit air saat akan menyeberang karena sangat berbahaya.
  5. Bukit di atas air terjun tidak dilengkapi pengaman. Berhati-hatilah agar tidak terjatuh.

Candi Kotes - Napak Tilas Anugerah Raja Majapahit

Candi Kotes Blitar. Jawa Timur lekat kaitannya dengan Kerajaan Majapahit. Berbagai peninggalan sejarah di jaman kerajaan itu tersebar di beberapa wilayah di Jawa Timur. Blitar, yang dikenal sebagai kota proklamator, menjadi salah satu tempat yang memiliki banyak peninggalan Kerajaan Majapahit. Disamping Candi Penataran sebagai kompleks candi terbesar di Jawa Timur, ada Candi Simping, Candi Sawentar dan sebagainya. Candi Kotes adalah salah satu candi yang berkaitan dengan Kerajaan Majapahit, tetapi keberadaannya mulai terhimpit jaman modern.
Candi Kotes Blitar
Candi Kotes
Sesuai namanya, Candi Kotes berada di Desa Kotes, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Letak Candi Kotes sangat mudah dijangkau karena akses jalan yang sudah baik dan lokasi Candi Kotes bisa dicari di google maps

Menurut cerita yang berkembang turun temurun, konon dulunya di daerah candi tersebut ada sebuah kolam berisi banyak ikan gabus yang disebut kotesan. Untuk itulah muncul sebuah nama untuk desa tersebut menjadi Desa Kotes. Candi Kotes tentu masih asing didengar dibanding Candi Penataran yang menjadi wisata populer di Blitar. Namun, sejarah tidak hanya ada di Candi Penataran, karena Candi Kotes ternyata mempunyai kisah sejarah yang berhubungan dengan perjuangan Raden Wijaya.

Area tempat wisata Candi Kotes memiliki dua candi utama di dalamnya yang dinamakan Candi Kotes I dan Candi Kotes II. Dua bangunan berupa batur tersebut tersusun dari batuan andesit dengan tangga naik di bagian barat. 
Candi Kotes Blitar
Area Cagar Budaya Candi Kotes

Bangunan utama Candi Kotes

1. Candi Kotes I
Candi Kotes I berada paling depan di sebelah utara di area candi dengan posisi menghadap ke barat. Candi Kotes I tidak terdapat hiasan dengan 6 anak tangga naik. Pada bagian atas pintu masuk dan relung-relungnya terdapat pahatan Kala. Candi Kotes I memiliki ukuran panjang 3,6 m, lebar 2,24 m dan tinggi 1,42 m. Struktur bangunan candi hanya bagian kaki dan berbentuk segiempat. Diatasnya terdapat tiga bangungan kecil berupa dua altar dan satu miniatur candi yang mirip dengan model candi Jawa Timur. Di bangunan batur terdapat pahatan tahun jawa kuno 1223 saka atau 1301 M.

2. Candi Kotes II
Candi Kotes II berada di tengah area, di belakang Candi Kotes I berbentuk persegi panjang dengan panjang 7,4 m, lebar 5,3 m dan tinggi 1 m. Di bagian pipi tangga ada pahatan tahun jawa kuno 1222 saka atau 1300 M. Di atas bangunannya terdapat beberapa umpak batu bekas penyangga tiang.

Sebelum pertama kali dipugar pada tahun 2921, ada beberapa laporan tentang Candi Kotes yang pernah dibuat yaitu :
  1. 1866 oleh Hoepermans
  2. 1908 oleh Kneble
  3. 1917 oleh Raffles yang termuat dalam History of Java.
Selain kedua bangunan utama candi, ada potongan-potongan candi di belakang candi utama yang ditata memanjang dari utara ke selatan. Benda-benda tersebut diantaranya adalah yoni yang ceratnya hilang, bongkahan batu candi, umpak dan potongan arca.

Beberapa arca pernah ditemukan di kompleks Candi Kotes seperti Ganesa, Durga Mahesasuwamardhini, Mahadewa, Agastya dan nandi. Namun keberadaan arca tersebut tidak diketahui hingga kini. Kemungkinan potongan arca ada di bagian belakang canti atau bisa saja hilang. Terbayang bukan bagaimana megahnya bangunan Candi Kotes pada jamannya?
Candi Kotes Blitar
Potongan Batuan Candi
Dilihat dari arca-arca, Candi Kotes merupakan candi Hindu. Dulunya, Candi Kotes merupakan tempat sembahyang dan ritual bagi umat Hindu. Selain itu, Candi Kotes digunakan sebagai tempat perabuan dan tempat nyadran sebelum melangsungkan pernikahan. Kini, nyadran masih dilakukan oleh segelintir orang saja.

Dilihat dari tahun yang terpampang di bangunan candinya, Candi Kotes diperkirakan berada di awal Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Raden Wijaya.

Candi Kotes dan Raden Wijaya

Dibangun sekitar 7-8 tahun dari berdirinya Kerajaan Majapahit, sejarah Candi Kotes berawal dari runtuhnya Kerajaan Singasari yang diperintah Raja Kertanegara dalam peperangan melawan Jaya Katwang dari Kediri. Raden Wijaya sebagai keturunan Kertanegara melakukan perjuangan cukup panjang untuk membentuk sebuah kerajaan seperti ayahnya. Raden Wijaya sempat mengasingkan diri dan singgah di suatu tempat dan membangun kekuatan prajurit.

Berdasarkan prasasti Gunung Butak, pada tahun 1294 M, ketika Raden Wijaya menyerang Jakatwang di Kediri, Raden Wijaya memperoleh bantuan dari orang-orang yang berada di daerah Kotes dan sekitarnya. 

Kewajiban yang harus dipenuhi bagi seorang raja yang memperoleh kemenangan biasanya menghadiahkan tanah kepada kepala desa berupa bangunan suci untuk ibadah (sima). Sehingga ketika Raden Wijaya menjadi raja, dia memberi bangunan suci keagamaan di daerah Kotes berupa candi untuk pemujaan yang dinamakan Candi Kotes.
Candi Kotes Blitar
Gerbang masuk Area Candi Kotes
Keberadaan bangunan suci Candi Kotes memberi bukti bahwa Blitar menjadi wilayah penting di masa pemerintahan Raden Wijaya. Candi Kotes menjadi salah satu warisan sejarah yang bisa menjadi destinasi tempat wisata di Blitar. Meski wisata sejarah mulai ditinggalkan, Candi Kotes tetap terawat baik dengan lingkungan yang bersih dari sampah. Yah... ini karena masyarakat desa tidak pernah melupakan sejarah Candi Kotes dan Majapahit.

Tips Wisata di Candi Kotes :
  1. Taati peraturan yang ada di area cagar budaya. 
  2. Jangan merusak, memindahkan, membawa cagar budaya tanpa ijin dari instansi terkait.
  3. Jangan melakukan vandalisme di area situs sejarah.
  4. Biasanya area wisata tetap terbuka meski pos penjagaan kosong. Jika ingin masuk, tetap taati peratuan. 
  5. Jangan mengotori area wisata yang susah terawat baik. 

Misteri dan Sejarah Letusan Gunung Agung

Gunung Agung Bali. Gunung Agung merupakan salah satu gunung berapi aktif yang masuk dalam deretan cincin api di Indonesia. Dengan ketinggian 3.142 mdpl, Gunung Agung merupakan gunung tertinggi di Bali yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya Batara Mahadewa atau Hyang Tolangkir. Dipercaya sebagai gunung yang disucikan, Gunung Agung masih lekat dengan kepercayaan masyarakat Hindu setempat, seperti adat dan istiadat. Untuk itulah, siapapun yang mengunjungi atau mendaki Gunung Agung tidak boleh sembarangan.
Legenda, Misteri dan Sejarah Letusan Gunung Agung
Gunung Agung
Gunung Agung terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia. Di lereng Gunung Agung berdiri kokoh Pura Besakih, pura tertinggi di Bali yang dibangun pada tahun 1284 M oleh Resi Markandeya. Selain untuk tempat beribadah, Pura Besakih juga menjadi jalan awal Pendakian Gunung Agung dengan beberapa aturan yang harus ditaati. 

Adanya gunung tertinggi yang disertai tempat peribadatan umat Hindu membuat tempat ini begitu istimewa, belum lagi adanya adat istiadat yang masih dilakukan di gunung suci Pulau Bali ini. Gunung Agung tentu menyimpan legenda, sejarah bahkan misteri yang menarik untuk ditelisik.

Asal Usul Gunung Agung

Masyarakat meyakini bahwa Gunung Agung merupakan tempat bersemayam Batara Mahadewa dan hal itu tidak lepas dari legenda Gunung Agung yang sudah melekat pada masyarakat sekitar. 

Konon saat para dewa memindahkan Gunung Meru yang ada di India, ada tiga bagian gunung yang jatuh dan membentuk gunung baru. Ketiga gunung yang terbentuk itu adalah Gunung Semeru di Pulau Jawa, Gunung Agung di Pulau Bali dan Gunung Rinjani di Pulau Lombok. Ketiganya menjadi gunung berapi tertinggi di masing-masing pulau dan diyakini sebagai gunung suci. 
Legenda, Misteri dan Sejarah Letusan Gunung Agung
Pura Besakih
Gunung Agung menjadi sakral karena masyarakat percaya bahwa semakin tinggi tempat maka semakin suci, dan di tempat suci itulah Sang Hyang Widi Wasa bersemayam. Untuk itulah Pura Besakih berdiri kokoh tepat di lereng Gunung Agung. Ada dua hal yang dipercaya masyarakat sebagai asal mula nama 'besakih' yaitu :
  • Besakih diambil dari bahasa Sansekerta berarti Selamat.
  • Besakih diambil dari nama seekor naga yang menghuni kawah Gunung Agung.

Misteri dan Mitos Gunung Agung

Sebagai gunung keramat, Gunung Agung menyimpan berbagai misteri dan mitos di dalamnya, yaitu :

1. Naga Besukih
Gunung Agung - Pura Besakih, tak lepas dari kisah naga yang menghuni kawahnya. Naga Besukih ini diceritakan di dalam legenda selat Bali. Dalam legenda tersebut, Naga Besukih diyakini sebagai penjaga harta karun yang ada di kawah Gunung Agung
Legenda, Misteri dan Sejarah Letusan Gunung Agung
Legenda Naga Besukih

2. Tempat Bersemayam Mahadewa
Selain dipercaya menjadi tempat bersemayam Batara Mahadewa, Gunung Agung diyakini sebagai replika Gunung Semeru yang dibelah oleh Dewa Pasupati. Gunung Agung juga dipercaya sebagai jelmaan gunung di sorgaloka tempat bersemayam Batara Siwa.

Untuk itulah pada zaman itu, tidak ada seorangpun yang berani mendaki Gunung Agung tanpa diiringi pendeta. Mendaki Gunung Agung harus membawa sesaji dan tidak boleh menggunakan perhiasan atau barang lain seperti sepatu, arloji maupun uang, karena dihadapan dewa, manusia harus sederhana. 

3. Sumber Air Suci
Ada sebuah sumber air di lereng Gunung Agung yang dianggap suci oleh masyarakat setempat, sehingga mengambilnya'pun tidak boleh sembarangan karena air digunakan untuk upacara adat. Sebelum mengambil harus bersembayang dahulu. Untuk itulah Pendakian Gunung Agung sangat diwajibkan memakai jasa guide setempat, karena jika hal buruk yang menyebabkan kematian terjadi di Gunung Agung, perlu diadakan upacara penyucian gunung.

4. Kera Putih
Bojog putih atau Sang Wanara Petak diidentikkan dengan sosok Hanoman yang diyakini membawa pertanda baik. Biasanya kera putih Gunung Agung ini muncul pada hari-hari baik tertentu, seperti saat gelaran pujawali Purnamaning di Pura Pasar Agung dan ritual Mulang Pakelem di kawah Gunung Agung. Menurut pamangku Pura Pasar Agung, kera putih ini dipercaya sebagai pengiring utusan Ida Batara Gunung Agung sekaligus penjaga keutuhan Gunung Agung.
Legenda, Misteri dan Sejarah Letusan Gunung Agung
What are you doing?

5. Pantangan Pendakian
Sampai kini, para pendaki Gunung Agung, tidak diperkenankan membawa daging sapi dalam bentuk apapun, karena sapi disucikan umat Hindu. Selain itu ada mitos dilarang memakai pakaian berwarna merah atau hijau dan pendakian tidak diperkenankan saat hari raya umat Hindu atau saat ada ibadah di Pura Besakih.


Upacara Adat

Sebagai gunung yang dikeramatkan, ada banyak upcara adat yang dilakukan di Gunung Agung, yaitu :
  1. Upacara untuk mengingatkan umat untuk menjaga kelestarian alam di sekitar tempat suci dilakukan setiap tahun dengan sesaji berupa kambing dan kerbau yang diceburkan ke dalam kawah atau sesai berupa buah-buahan kepada Dewa Kera Hanoman.
  2. Upacara Wana Kertih :  Dilakukan untuk memohon terwujudnya kelestarian lingkungan dan harmonisasi alam agar tidak terjadi bencana. Letusan gunung dipercaya terkait dengan ulah manusia, sehingga masyarakat selalu menjaga hubungan dengan penguasa gunung.
  3. Ritual menyucikan Gunung Agung dilakukan jika terjadi musibah, seperti orang hilang atau meninggal di Gunung Agung.
  4. Upacara Eka Dasa Rudra : upacara setiap 100 tahun saka. Ditujukan untuk meresapi segala ciptaan Tuhan yang tidak terbatas. 
  5. Upacara Pengelempana : Untuk memohon kepada Ida Shang hyang Widhi Wasa agar kondisi Gunung Agung tidak memburuk (saat erupsi).
  6. Upacara Meayu-ayu : Upacara untuk memohon agar terhindar dari bahaya yang ditimbulkan dari Gunung Agung.
Kegiatan Upacara Adat
Masih ada beberapa upacara adat maupun upacara keagamaan selain yang disebutkan di atas yang biasanya dilakukan di area lereng Gunung Agung khususnya Pura Besakih. Untuk itulah, siapapun yang ingin mendaki ke Gunung Agung sebaiknya bertanya pada masyarakat setempat tentang adanya kegiatan tersebut. 


Sejarah Letusan Gunung Agung

Gunung Agung merupakan gunung aktif paling eksplosif di Indonesia dibandingkan Gunung Merapi dan Gunung Sinabung. Eksplosif berarti letusan melontarkan batuan pijar, pecahan lava, hujan piroklastik dan abu. Berada di deretan cincin api sebagai gunung api  yang masih aktif, Gunung Agung memiliki sejarah letusan yang tercatat mulai dari tahun 1808. 
Legenda, Misteri dan Sejarah Letusan Gunung Agung
Letusan Gunung Agung
Sampai kini tercatat 4 letusan Gunung Agung yang pernah terjadi :
  1. 1808 : letusan melontarkan abu dan batu apung dengan jumlah besar.
  2. 1821 : letusan normal tanpa keterangan rinci.
  3. 1843 : diawali gempa bumi, letusan memuntahkan abu vulkanik, pasir dan batu apung. Tahun selanjutnya pada 1908, 1915 dan 1917 di berbagai area kawah dan pematang gunung tampak tembusan fumarola, yaitu lubang di dalam kerak bumi yang mengeluarkan uap dan gas seperti karbon dioksida, sulfur dioksida, asam hidroklorik dan hidrogen sulfida.
  4. 1963 : diawali gempa bumi, letusan dasyat bersifat magnatis sangat merusak dengan 1.148 korban meninggal dan 296 korban luka. Letusan ini berakhir pada 27 Januari 1964.
Setelah beristirahat cukup lama, Gunung Agung menunjukkan aktivitas vulkanis pada September 2017. Gunung suci yang dipercaya sebagai tempat bersemayam para dewa mungkin akan kembali bergejolak sebelum kembali tertidur pulas untuk mendatangkan kembali para wisatawan. Hm.... beautiful Balinese sanctity...