Situs Ratu Boko, Warisan Sejarah Nan Eksotik di Atas Bukit - Manusia Lembah

Situs Ratu Boko, Warisan Sejarah Nan Eksotik di Atas Bukit

Yogyakarta menyimpan banyak tempat bersejarah, situs, serta menjadi salah satu tempat yang masih kental dengan adat, budaya dan kesenian lokalnya. Tak heran jika kota satu ini banyak menjadi tujuan para wisatawan domestik hingga mancanegara. 

Selain Marlboro yang populer, tempat wisata di Yogyakarta identik akan candi-candinya yang eksotis. Candi Prambanan atau Candi Roro Jonggrang adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang sudah menjadi wisata andalan yang patut untuk dikunjungi. Disamping Candi Prambanan, tentu masih ada candi eksotis yang bisa menjadi destinasi wisata selanjutnya. 

ratu boko yogya
Memandang Candi Prambanan yang megah dengan Gunung Merapi yang mistis sebagai latar belakangnya, reruntuhan Keraton Ratu Boko termasuk diantara sisa-sisa yang paling spektakuler dari zaman keemasan kerajaan Jawa Kuno yang berkembang dalam abad ke 8 -10 Masehi. 

Situs Ratu Boko terletak di atas perbukitan Boko dengan ketinggian 195,97 mdpl dengan luas sekitar 160.989 m². Situs Ratu Boko merupakan peninggalan sejarah yang bercorak Hinduisme dan Buddhisme, yang dibangun pada abad Vii - IX M. 

Tempat wisata di Yogya ini berada di Kec. Prambanan, Kabupaten Sleman. Lokasi Keraton Ratu Boko memiliki pemandangan yang spektakuler karena berada di atas bukit dengan ketinggian 196 mdpl. Pada waktu pertama kalinya, situs ini adalah sebuah kompleks wihara sebagaimana tercatat dalam prasasti Abhayagiri Wihara.

Abhayagiri Wihara

Prasasti Abhayagiri Wihara yang berangka tahun 792 M merupakan bukti tertulis yang ditemukan di Situs Ratu Boko. Dalam prasasti ini menyebut seorang tokoh bernama Tejahpurnapane Panamkarana atau Rakai Panangkaran (746 - 784 M), serta menyebut suatu kawasan wihara di atas bukit yang dinamakan Abhayagiri Wihara (wihara di bukit yang penuh kedamaian). 


Rakai Panangkaran mengundurkan diri sebagai raja karena menginginkan ketenangan rohani dan memusatkan pikiran pada masalah keagamaan. Rakai Panangkaran menganut agama Buddha demikian juga bangunan ini berlatar belakang agama Buddha, sebagai buktinya adalah adanya Arca Dyani Buddha. Namun, ditemukan pula unsur-unsur agama Hindu di situs Ratu Boko seperti adanya Arca Durga, Ganesha dan Yoni. 

Nama situs tersebut berubah menjadi Walaing Kraton dalam prasasti yang dikenal dengan prasasti Mandyasih. Dalam bahasa daerah, Keraton berarti istana. Rakai Walaing pu Kumbhayoni, yang dikenal sebagai raja dan memerintah dinasti 865 M yang mengubah nama situs tersebut. 

Pada awal ke-17, seorang pris Belanda H.J DeGraft mencatat bahwa orang-orang Eropa yang datang ke Indonesia telah melaporkan sebuah situs arkeologi dan merujuknya ke istana Prabu Boko, seorang raja yang berasal dari Bali. Inilah salah satu dasar legenda Prabu Boko dari cerita rakyat Loro Djonggrang. 

Wisata Keraton Ratu Boko


Jangan lupakan candi cantik satu ini juga sedang berkunjung ke Prambanan. Meski dulu tidak sepopuler sekarang, faktanya panorama di Candi Ratu Boko mampu menarik banyak wisatawan untuk menikmati keindahan alam yang berpadu dengan sejarah. 

Tempat wisata Keraton Ratu Boko Jogja memiliki luas kompleks 16 Ha dengan fasilitas yang sangat memadai, mulai dari toko cinderamata, plaza, resto dan sebagainya. Tempat wisata yang nyaman, bersih dan sejuk ini menawarkan pesona sejarah yang indah. Jadi, jika ingin jalan-jalan ke tempat ini, pastikan memiliki banyak waktu guys, karena setiap tempat yang ada di Ratu Boko sangat menarik untuk dinikmati dan diabadikan. 

Bangunan Situs Keraton Ratu Boko


Berbeda dengan peninggalan purbakala lain dari jaman Jawa Kuno yang umumnya berbentuk bangunan keagamaan, situs Ratu Boko merupakan kompleks profan, lengkap dengan gerbang masuk, pendopo, tempat tinggal, kolam pemandian hingga pagar pelindung. 

Kedudukan di atas bukit ini juga mensyaratkan adanya mata air dan adanya sistem pengaturan air yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kolam pemandian merupakan peninggalan dari sistem pengaturan ini, siasanya merupakan tantangan bagi para arkeolog untuk merekonstruksi kembali. 

Menurut Lokasinya, bangunan di Situs Ratu Boko dikelompokkan menjadi lima, yaitu kelompok gapura, kelompok paseban, kelompok kaputren, kelompok pendapa dan kelompok gua. Berikut beberapa bangunan di Ratu Boko :

1. Gapura Utama


Gapura utama terdiri dari tiga buah gapura yaitu gapura tengah dan dua gapura apit, yang disusun berimpit berjajar ke arah utara selatan, menghadap ke barat. Gapura tengah dan gapura apit berbentuk paduraksa. Gapura tengah memiliki ukuran lebih besar dibanding kedua gapura pengapitnya. Gapura utama berfungsi sebagai pintu masuk situs Ratu Boko, sekaligus sebagai penghubung halaman teras pertama dan kedua. 

Gapura ini adalah spot favorit di Candi Ratu Boko. Ada dua gapura di area keraton ini. Bisa dibilang gapura utama ini adalah tempat untuk ngantri bagi yang suka foto atau mencari view yang khas. Tidak sedikit wisatawan yang rela menunggu sore tiba untuk mendapatkan hasil sempurna. 

2. Candi Pembakaran


Candi pembakaran berbentuk bujur sangkar dan berteras dua berukuran panjang 22,60 m, bear 22,23 m dan tinggi 3,82 m. Dinding candi diperkuat dengan selapis batu andesit, sedangkan bagian dalamnya tersusun dari batu putih. Pada bagian tengahnya terdapat perigi (sumuran) berbentuk segi empat. 

Sebutan ini didasarkan pada penemuan abu yang terdapat di sumuran candi, sehingga orang-orang beranggapan bahwa bangunan ini pada masa lampau menjadi tempat pembakaran atau penyimpanan abu jenazah raja. Setelah diteliti lebih seksama, abu tersebut adalah sisa pembakaran kayu. Candi pembakaran diduga merupakan bangunan suci yang berfungsi sebagai pelengkap dalam upacara keagamaan dimana salah satu ritualnya adalah membakar sesajen.

Sumur berukuran 2,30 m x 1,80 m, kedalaman air pada musim kemarau sekitar 2 m, sedangkan kedalaman sumur sekitar 5 m dari muka tanah. Dahulu air sumur ini digunakan dalam kegiatan upacara keagamaan di candi pembakaran dan diyakini mengandung tuah. 

Saat dilaksanakan upacara Tawur Agung (H-1 hari raya Nyepi), sumur ini diambil airnya untuk digunakan sebagia air suci. Air suci diambil dari sumur dengan menggunakan wadah berbentuk kendi, selanjutnya diberi doa dan mantra oleh pada pendeta dan dibawa ke halaman Candi Prambanan yang menjadi tempat pelaksanaan upacara Tawur Agung.  

Di atas Candi Pembakaran ini terlihat area Alun-alun, termasuk gapura utama, reruntuhan di sekitar hingga Paseban. 

Sisa Reruntuhan di area Alun - alun

Bekas Bangunan

3. Paseban


Paseban berarti tempat untuk menghadap raja. Di sebelah tenggara pintu gerbang terdapat dua buah batur yang terletak berdampingan, yaitu Batur B1 dan B2. Kedua batur itu biasa disebut paseban. Batur B1 terletak di sebelah timur dan batur B2 berada di sebelah baratnya. Batur B1 (panjang 24.6 m, lebar 13.3 m, tinggi 1.16 m) berukuran lebih besar dari Batur B2 (panjang 24.42 m, lebar 13.34 m, tinggi 0.83 m). 


Dua bangunan paseban diperkirakan saling berhadapan, namun fungsinya belum dapat diketahui secara pasti. Paseban diperkirakan merupakan suatu bangunan dengan konstruksi kayu. Hal tersebut didukung dengan adanya temuan umpak-umpak batu yang berfungsi sebagai penyangga tiang yang terbuat dari kayu.

4. Pendopo


Bangunan pendapa berada di teras keempat dan mempunyai luas 14.000 m². Pagar pendopo berukuran 40.80 m, lebar 33.90 m dan tinggi 3.45 m.  Kaki dan atap pagar keliling terbuat dari batu andesit, sedangkan tubuhnya terbuat dari batu putih. Di bagian atas pagar diberi hiasan utpala. Pada kaki pagar terdapat jaladwara yang berfungsi untuk mengalirkan air dari dalam pagar ke luar yang kemudian ditampung dalam wadah yang berbentuk melengkung.

Batur Pendapa

Bangunan pendapa terdiri dari pagar pendapa dan dua tubuh batur. Satu batur di sebelah utara (panjang 20.57 m, lebar 20.49 m dan tinggi 1.43 m) dan satu batur di sebelah selatan yang disebut pringgitan (panjang 20.50 m, lebar 7.04 m dan tinggi 1.51 m).  Kedua batur terdiri dari batu andesit. Keduanya dihubungkan dengan selasar. Di atas batur terdapat pendapa 24 umpak, sedangkan di atas batur pringgitan terdapat 12 buah. 

Batur bangunan ini merupakan bangunan sentral yang dahulu di atasnya berdiri tiang-tiang penyangga bangunan dan diperkirakan mempunyai dinding. Bangunan ini diperkirakan berfungsi sebagai tempat tinggal. 

Miniatur Candi

Di bagian selatan pendopo terdapat teras segiempat dan miniatur candi. Sedangkan di bagian timurnya terdapat kolam penampung air yang masih lengkap dengan gapura, dan struktur talud (dinding penahan tanah) dengan pagar di bagian atasnya. 

5. Goa Lanang & Goa Wadon


Di sebelah utara dari pendopo, terdapat dua gua yang terisolasi dari tempat lain yang terbentuk dari batuan sedimen. Dinamakan gua wadon karena terdapat sebuah relief yang sedemikian rupa mewakili ganital wanita (wadon) dengan simbol Yoni. Sedangkan gua lanang (pria) disimbolkan dengan Lingga yang dianggap perwakilan Siwa dalam ajaran Hindu. 

7. Kaputren 

Kolam Penampung Air - Kaputren

Kaputren berarti tempat tinggal putri. Kaputren ini terletak di timur pendapa. Kaputren berada di teras keenam dan terbagi menjadi dua bagian, sisi timur dan barat. Kedua bagian ini dihubungkan oleh sebuah gapura. 

Bagian timur terdapat kolam yang berfungsi sebagai penyuplai kebutuhan air. Ada 34 kolam dengan kedalaman yang berbeda-beda dan pada tahun 2020, tim Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY telah melakukan pengukuran di sisi utara dan selatan. Kolam di sisi utara rata-rata memiliki kedalaman <0,5 meter hingga > 5 meter. Sedangkan di bagian selatan sekitar 0,5 - 2 meter.  

Pada bagian timur terdapat dua bangunan batur. Di batur yang berdenah persegi panjang terdapat umpak-umpak batu yang diduga sebagai tempat dudukan tiang kayu penyangga atap. 

Itu adalah beberapa bangunan utama di Situs Ratu Boko. Dari Alun - alun ke Pendopo memang terpaut cukup jauh. Tetapi jalan yang teduh, rapi dan beberapa reruntuhan di sekitarnya akan membuat siapapun semakin penasaran, apa lagi yang tersembunyi di keraton yang luas ini. 


Sejak ditemukan, Candi Ratu Boko Jogja ini pernah dipugar beberapa kali, mulai dari masa pemerintahan Hindia Belanda hingga masa pemerintahan Republik Indonesia. Berikut sejarah pemugaran Keraton Ratu Boko :
  • 1938 : Pemugaran menggunakan kerangka beton bertulang dan perekat semen. Dipimpin oleh Van Romond. 
  • 1949 - 1954 : Memugar gapura I dan II. 
  • 1960 - 1965 : Pemugaran gapura kolam.
  • 1978 - 1980 : Dilakukan pemugaran secara intensif. 

Kini, Situs Ratu Boko memiliki daya tarik yang cukup tinggi dan tidak pernah sepi dari kunjungan wisatawan. Berwisata ke situs pemukiman masa lalu ini memang sangat direkomendasikan. Tidak hanya dapat melihat bangunan bersejarah yang masih kokoh, tetapi juga sekaligus mempelajari bangunan tersebut melalui informasi yang tersedia pada masing-masing bangunan.

Selain itu, di kompleks Keraton Ratu Boko Jogja juga menyediakan Ratu Boko Resto yang menyuguhkan panorama alam dari ketinggian yang pasti bikin males pulang. Kalau mau pulang pun, juga ada toko cinderamata untuk oleh-oleh pulang. Hm.. menarik bukan?!.


Tips Wisata di Keraton Ratu Boko Jogja :

  1. Tiket untuk rombongan pelajar dan mahasiswa (minimal 20) lebih murah, tetapi harus dilengkapi surat pengantar sekolah/universitas. Selain itu ada tiket terusan Ratu Boko - Prambanan dan Ratu Boko - Borobudur. 
  2. Patuhi aturan yang ada di tempat wisata cagar budaya Keraton Ratu Boko. 
  3. Jangan mengambil, merusak dan melakukan vandalisme pada benda/bangunan purbakala di area situs.
  4. Hati-hati saat di sekitar kolam pemandian karena kedalaman bervariasi mulai 0,5 - >5 meter. 
  5. Ada camp area di tempat ini dan untuk camping bisa menghubungi pihak pengelola di kantor depan. 
  6. Jagalah kebersihan di area Keraton Ratu Boko. 

Informasi Wisata Keraton Ratu Boko Jogja :

  • Lokasi : Jl. Raya Piyungan - Prambanan No.2, Gatak, Bokoharjo, Kec. Prambanan, Kabupaten Sleman. (Map : Klik Disini)
  • Buka / Tutup : 09.00 - 17.00 WIB
  • HTM : Usia 10th keatas: Rp 40.000 ; Usia 3 - 10th: Rp 20.000
  • Fasilitas : Toko cinderamata, kantor pengelola, plaza Andrawina, pusat informasi, tempat parkir, resto, mushola.
  • Wisata Sekitar : Tebing Breksi, Candi Ijo, Candi Barong, Candi Banyunibo, Bukit Srumbung Indah, Watu Payung.
Ref : borobudurpark, kebudayaan.kemdikbud.
Baca Juga