Sekolah Blogger
Please Enable JavaScript!
Mohon Aktifkan Javascript![ Enable JavaScript ]

Legenda dan Sejarah Gunung Semeru

Legenda dan Sejarah Gunung Semeru. Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 mdpl dan masuk dalam daftar 7 Summit Indonesia, sekaligus menjadi gunung berapi tertinggi ke-3 di Indonesia. Gunung aktif bertipe stratovolcano ini sudah pasti sangat dikenal para pecinta alam khususnya pendaki gunung nusantara, karena selain fenomena meletus tiap 20 menit sekali yang bisa disaksikan langsung, Gunung Semeru memiliki pesona alam mempesona berupa Danau Ranu Kumbolo. Namanya yang populer di kalangan pecinta alam, bahkan wisatawan mancanegara, Gunung Semeru memiliki legenda menarik yang perlu untuk diketahui.
Legenda dan Sejarah Gunung Semeru
Gunung Semeru
Gunung Semeru berada di dua wilayah yaitu Kabupaten Malang dan Lumajang. Gunung Semeru masuk di dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang kaya akan budaya suku Tengger yang menjadi daya tarik utama wisatawan. 

Selain menyimpan keindahan panorama, Gunung Semeru menyimpan sejarah penting bagi umat Hindu. Gunung Semeru memiliki tempat khusus bagi umat Hindu dan Budha di Indonesia karena dianggap sebagai gunung suci yang berada di India. Gunung Semeru sendiri berasal dari bahasa sansekerta yang berarti Sumeru 'Meru Agung'. Semeru juga diartikan sebagai 'Lingga Acala'. Lingga berarti "tidak bergerak ; sesuatu bukan ciptaan manusia", dan Acala berarti "gunung ; karang".

Penjelajah Awal Semeru

Bagaimana pesona alam Gunung Semeru diketahui para petualang?. Yah, tentu ada orang di dunia yang pernah menjelajahi Gunung Semeru hingga kemudian terbentuk jalur pendakian resmi yang kini bisa dengan mudah dilalui oleh para petualang. Jauh sebelumnya, Gunung Semeru memang pernah didaki oleh beberapa orang, yaitu :
  1. 1838 : Clignet, ahli geologi asal Belanda mendaki Gunung Semeru untuk pertama kalinya lewat jalur pendakian Widodaren. Dia adalah orang pertama yang mendaki Gunung Semeru.
  2. 1911 : Van Gogh dan Heim, mendaki Gunung Semeru lewat lereng utara yang kini dikenal dengan jalur Ranupane.
  3. 1945 : Junhuhn, ahli botani asal Belanda melakukan pendakian pertama Gunung Semeru lewat jalur pendakian Ayek-ayek.
Setelah 1945, Pendakian Gunung Semeru pada umumnya dilakukan lewat jalur Ranu Pane.

Legenda Gunung Semeru

Dalam kitab Tantu Panggelaran pada abad 15, konon keadaan bumi miring karena Gunung Meru di India terlalu berat. Pulau Jawa menjadi tidak stabil. Terapung di lautan luas dan terombang-ambing karena ombak yang begitu ganas. Melihat pulau yang tidak menentu tersebut, para Dewa bersepakat untuk memaku Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke Pulau Jawa. Untuk melakukan tugasnya, para Dewa merubah dirinya. Dewa Wisnu menjelma sebagai kura-kura raksasa, Dewa Brahma menjelma sebagai ular yang sangat penjang. 
Legenda dan Sejarah Gunung Semeru
Legenda Gunung Semeru
Gunung Meru diletakkan di punggung kura-kura raksasa, sedangkan ular panjang bertugas melilit mereka agar tidak jatuh selama perjalanan. Sesampainya di pulau Jawa, Gunung Semeru diletakkan di bagian barat pulau Jawa, tetapi tidak seimbang karena bagian timur terangkat ke atas. Akhirnya para dewa memindahkan Gunung Meru ke timur. Saat membawanya ke timur, bagian Gunung Meru tercecer dan membentuk barisan pegunungan dari barat ke timur. Meski begitu, pulau Jawa masih tetap miring. Akhirnya para dewa memotong sebagian gunung dan menempatkannya di bagian barat laut.

Konon, penggalan Gunung Meru ini membentuk Gunung Penanggungan atau Gunung Pawitra. Sedangkan bagian utama gunung dikenal dengan nama Gunung Semeru dan dipercaya sebagai tempat bersemayam Dewa Siwa. Dikatakan juga dalam teks-teks "purana" India yang tergolong kitab Upaweda bahwa tuhan mahatunggal yang bersemanyam di puncak Mahameru dikenal sebagai Gunung Himawan atau Kailasa yang bersaljut abadi. Disanalan Dewa Siwa menurunkan ajaran-ajarannya kepada Dewi Parwati, Sang Dewi gunung. Sementara Pulau Jawa adalah nama yang diberikan dewa Siwa karena pulau ini dulunya banyak ditumbuhi pohon Jawawut.

Semeru Sebagai Gunung Suci

Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java, menyebut kata Semiru (Gunung Semeru) dan diyakini bahwa pemerintahan tertua di tanah Jawa berada di kaki Gunung Semeru bernama Giling Wesi yang didirikan oleh Tritresta sebagai penguasa pertama. 

Semeru disebutkan dalam prasasti Pasrujambe di Kabupaten Lumajang bahnwa dulu daerah tersebut merupakan padepokan dan tempat tinggal resi, tepatnya di Dusun Munggir. Resi Pasopati adalah penyebar Hindu di Jawa yang disebut-sebut moksa di Gunung Semeru

Menurut masyarakat Hindu di Bali dan Jawa, pemindahan Gunung Meru merupakan pemindahan kayangan para dewa dan nilai-nilai luhur dalam agama Hindu, karena sebelum dipindahkan, Gunung Meru dipercaya sebagai tempat bersemayamnya para dewa sekaligus tempat terhubungnya bumi dan kahyangan. Sampai sekarang'pun Gunung Semeru diyakini sebagai tempat abadi para dewa. 
Legenda dan Sejarah Gunung Semeru
Pura Mandhara Giri Semeru Agung
Menurut masyarakat Bali, Gunung Semeru juga dipercaya sebagai bapak dari Gunung Agung. Untuk menyembah para dewa, umat Hindu Bali dan umat Hindu Tengger mendirikan Pura Mandhara Giri Semeru Agung. Upacara sesaji kepada dewa-dewa di Gunung Semeru tiap 8-12 tahun sekali dilakukan orang Bali hanya ketika ada yang menerima suara gaib dari dewa Gunung Semeru

Arcopodo

Dikenal sebagai gunung suci, Gunung Semeru tentu memiliki misteri yang menyelimutinya, salah satunya adalah Arca Podo. Arcopodo dikenal sebagai pos terakhir dalam Pendakian Gunung Semeru. Nama Arcopodo ini berasal dari kata 'arca' dan 'pada' yang berarti 'arca yang sama'. Konon, Arca Pada ini menjaga sebuah gapura gaib yang hanya bisa dilihat oleh orang tertentu yang memiliki ilmu tinggi alam gaib.
Norman Edwin, 1984.
Arcopodo pertama kali ditemukan oleh Norman Edwin dan Herman o Lantang, mapala Universitas Indonesia tahun 1984. Dua tahun kemudian, Norman kembali ke tempat dua arca dan menuliskannya temuannya di majalah Swara Alam tahun 1986 dan setelah itu Arca Pada tidak diketahui keberadaanya seolah hilang secara misterius. Namun, pada November 2011 ketika Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas melakukan penelusuran untuk membuktikan keberadaan arca yang dianggap hilang lebih dari seperempat abad itu, ternyata kedua arca tidak pernah hilang dan tetap di tempatnya. Sepasang arca ini tepat menghadap ke utara, dimana tepat menghadap puncak Mahameru. 
Legenda dan Sejarah Gunung Semeru
Arca Pada
Menurut penduduk sekitar, jalur pendakian saat itu memang dirubah ke jalur baru seperti sekarang untuk melindungi keberadaan arca dari orang-orang tak bertanggung jawab. Selain itu juga terjadi kerusakan jalur karena perubahan kondisi alam, sehingga jalur baru dibuat. Keberadaan arca kembar ini tentu saja berhubungan dengan Gunung Semeru sebagai gunung suci bagi umat Hindu. 

Merujuk dari buku karya Prof. Soekmono, Arcopodo adalah Arca perwujudan dari Dewa Kala dan Anukala yang mempunyai tugas untuk menjada gerbang gapura candi pada gapura sebelah barat. Sedangkan bagian timur dijaga oleh Dewa Gana, gapura selatan dijaga oleh Dewa Agasti dan gapura utara dijaga oleh Dewa Gauri  (Dr. Pigeaud 1924:96-97). 

Menurut Dwi Cahyono, salah satu dosen arkeolog Universitas Negeri Malang, Arcopodo diperkirakan peninggalan jaman kerajaan Majapahit. Menurutnya kata Arcopodo juga berasal dari kata Arca dan Pada yang artinya 'tempat arca'. Salah satu arca kemungkinan adalah sosok salah satu dari pandawa, yaitu Bima karena badan dan tangannya mirip dengan foto arca Bima. Bima adalah perwujudan tokoh tolak bala dan dalam hal ini Bima bertugas menghalau bencana dari puncak Gunung Semeru yang aktif.

Arcapada bisa diartikan sebagai Adam - Hawa dan Kamajaya - Kamaratih (Hindu). Dalam kepercayaan Hindu, Kamajaya dan Kamaratih memulai kehidupan dari Sumber Mani, sumber air di bawah Arcapada. Sesuai namanya, Sumber Mani merupakan awal mula adanya kehidupan atau kehidupan selanjutnya. Sumber Mani adalah air suci pertama paling tinggi, kemudian turun menjadi Ranu Kumbolo, Ranu Pani, Ranu Regulo, Watu Klosot dan terakhir Selokambang.

Kini Gunung Semeru semakin dikenal oleh banyak petualang yang mencapai ratusan pendaki tiap minggunya. Sebagai tempat yang suci, sudah sepantasnya pendakian ke Gunung Semeru dilakukan dengan tidak melanggar aturan yang sudah dibuat oleh pihak taman nasional. Selain itu, menjaga sikap dan perilaku di gunung ini ataupun gunung yang lain juga harus dilakukan.

7 Wisata Pantai Populer di Jember yang Wajib Dikunjungi

Wisata Pantai di Jember. Mungkin belum banyak yang tahu kalau Jember menyimpan banyak tempat wisata menarik, khususnya pantai. Menghabiskan waktu liburan ke Jember, jangan hanya memburu pecel gudeg maupun pecel pincuknya saja. Menikmati suasana alam merupakan salah satu hal yang membuat liburan di Jember semakin lengkap. Berbatasan dengan Samudra Indonesia, Jember memiliki daya tarik tempat wisata pantai yang sangat mempesona dan tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Secara administratif, Jember merupakan bagian dari provinsi Jawa Timur yang berbatasan dengan Kabupaten Bondowoso dan Probolinggo di sebelah utara, Kabupaten Lumajang di sebelah barat, Banyuwangi di sebelah timur dan Samudra Indonesia di sebelah selatan. Ada banyak tempat wisata di Jember yang bisa dikunjungi, mulai dari wisata alam hingga wisata untuk berlibur keluarga. Letak Jember yang strategis membuatnya dikenal karena adanya wisata-wisata pantai yang mempesona.

Berikut 7 wisata pantai yang populer di Jember :

1. Tanjung Papuma

Wisata Pantai di Jember
Tanjung Papuma
Pantai Papuma merupakan wisata yang sangat populer di Jember. Terletak di Desa Sumberejo, kecamatan Ambulu, 30 kilometer ke arah selatan kota Jember. Tanjung Papuma memiliki pasir putih yang indah dengan pepohonan rimbun di tepinya. Disini bisa menikmati karang di tengah laut yang kokoh dari tepi sungai atau naik ke Sitihinggil, spot menarik untuk melihat keindahan karang-karang cantik Pantai Papuma yang keindahannya sangat fenomenal.


2. Pantai Watu Ulo

Wisata Pantai di Jember
Pantai Watu Ulo
Lokasi pantai Watu Ulo bersebelahan dengan Pantai Papuma. Disebut sebagai Watu Ulo (Batu Ular) karena ada sekumpulan batu karang memanjang dari pesisir pantai ke laut yang mirip dengan ular jika dilihat dari kejauhan. Keindahan pantai tidak jauh dengan Pantai Papuma karena lokasinya yang berdekatan. Pada tanggal 1-10 syawal masyarakat mengadakan larung sesaji ke laut sebagai ucapan syukur.

3. Pantai Puger

pantai puger
Pantai Puger
Pantai Puger termasuk salah satu pantai di Jember yang ramai dikunjungi.Terletak di desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, 40 kilometer arah barat laut kota Jember. Situs wisata yang terkenal dengan pasar lelang ikan ini dikenal sebagai desa nelayan, sehingga lokasi ini cocok bagi yang suka memancing. Selain melihat keindahan laut sambil memancing, bisa sekaligus menyaksikan aktivitas nelayan dengan perahu tradisionalnya di area pantai.

4. Pantai Bandealit

pantai bandealit
Pantai Bandealit
Pantai Bandealit terletak desa Andongrejo, kecamatan Tempurejo, 60 kilometer arah selatan kota Jember. Pantai ini berada di dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Oleh karena itu, disini juga bisa melihat hewan yang berkeliaran di sekitar lokasi. Memiliki ombak yang tenang, pantai ini cocok untuk  melakukan berbagai kegiatan seperti body surfing, kano dan speedbood ataupun memancing. Selain melihat berbagai jenis burung dan rusa timor di penangkaran, ada koleksi koleksi bunga anggrek yang bisa dilihat di green house.

5. Pantai Paseban

pantai paseban
Pantai Paseban
Pantai Paseban terletak di kecamatan Kencong, 52 kilometer ke arah barat laut Kota Jember. Pantai yang memiliki ombak tenang ini, wisatawan bisa mandi di laut, berselancar santai, sun-bathing, memancing maupun voli pantai. Menikmati sunset di Pantai Paseban yang menawan tidak boleh disia-siakan begitu saja karena sunsetdi Pantai Paseban inilah yang membuat kebanyakan wisatawan terpesona. Selain menikmati sunset, wisatawan juga bisa melihat Pulau Nusa Barong di sisi selatan.


6. Pantai Payangan

Wisata Pantai di Jember
Pantai Payangan
Pantai Payangan berada di Dusun Payangan, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Tempat wisata di Jember ini masih satu kawasan dengan Pantai Watu Ulo dan Pantai Papuma. Pantai Payangan memiliki pesona alam yang indah dengan tiga bukit dan sebuah pulau yang membentuk panorama sempurna dihiasi birunya air laut. Keindahan Pantai Payangan bisa dinikmati di bibir pantai maupun di atas bukit. 


7. Pantai Teluk Love

Wisata Pantai di Jember
Teluk Love
Teluk Love berada di Dusun Payangan, Desa Sumberrejo, Kecamatan Ambulu, Jawa Timur. Lokasi pantai Teluk Love tidak jauh dari Pantai Papuma, sekaligus masih satu kawasan dengan Pantai Payangan. Keunikan dari pantai ini adalah keindahan garis pantai membentuk hati yang dipercantik dengan perbukitan hijau di pinggir pantainya. Selain bermain di pantai, melihat view Teluk Love dari Bukit Domba akan membuat liburan di Teluk Love semakin sempurna. 

Itu adalah 7 pantai wisata di Jember yang populer dengan pesona menawan dan juga akses yang mudah dijangkau. Salah satu pantai di Jember yaitu Pantai Papuma'pun disebut-sebut menjadi pantai terindah di Jawa Timur. So, keindahan wisata pantai di Jember sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Let's packing!

Sejarah Gunung Lawu dan Sumpah Brawijaya V

Gunung Lawu dan Sumpah Brawijaya V. Selama ini Gunung Lawu dikenal sebagai pusat kegiatan spiritual di tanah Jawa dan ada hubungan dengan tradisi serta budaya keraton. Selain menjadi buruan para pelaku spiritual, Gunung Lawu juga sangat populer di kalangan pendaki gunung. Gunung yang terkenal angker dan menyimpan misteri ini memiliki mitos sebagai tempat sakral di tanah Jawa. Hal itu tak lain karena adanya beberapa peninggalan sejarah yang masih nampak di sekitar lerengnya, termasuk tempat moksa Prabu Brawijaya. Prabu Brawijaya sangat lekat kaitannya dengan Gunung Lawu dan hal itu membuat kisah Gunung Lawu sangat menarik untuk ditelusuri.
Misteri Gunung Lawu dan Sumpah Brawijaya V
Gunung Lawu
Secara administratif, Gunung Lawu berada di antara tiga kabupaten yaitu Kabupaten Karanganyar, Ngawi dan Magetan. Menjadi batas antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, Gunung Lawu masuk dalam jajaran 10 Gunung Tertinggi di Jawa Tengah dan Jawa Timur sekaligus 7 Seven Summit of Java.

Sebagai pusat kegiatan spiritual, Gunung Lawu memiliki beberapa hal unik, mulai dari peninggalan sejarah, kisah Prabu Brawijaya V, mitos dan misteri yang selalu menjadi cerita turun-temurun di masyarakat sekitarnya maupun pendaki gunung. 

Pelarian Prabu Brawijaya V

Pada masa akhir Kerajaan Majapahit (1400M), kerajaan mengalami pasang surut di dalam pemerintahan Prabu Brawijaya V. Putra Brawijaya V yang bernama Raden Patah mendirikan kerajaan islam yaitu Kerajaan Demak yang menjadi kerajaan besar di Jawa. Brawijaya gagal membujuk Raden Patah untuk kembali ke kerajaannya dan menolak jika Kerajaan Demak menjadi bawahan Kerajaan Majapahit. 

Berawal dari pemberontakan menantunya sendiri, Prabu Brawijaya pindah ke Kerajaan Demak. Raden Patah bermaksud mengajak ayahnya untuk memeluk agama islam, tetapi Prabu Brawijaya menolak ajakan Raden Patah. Prabu Brawijaya tidak ingin terus berdebat yang akan mengakibatkan peperangan dengan anaknya sendiri akhirnya memilih jalan untuk melarikan diri bersama pengikutnya ke Karanganyar. Ada beberapa peninggalan Prabu Brawijaya di masa pelariannya :
  1. Candi Sukuh : Berada di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kabupaten Karanganyar. Disini Prabu Brawijaya dan pengikutnya membangun Candi sukuh dan tetap memeluk agama Hindu. Sebelum candi selesai, pasukan Demak kembali mengejar sang prabu yang membuatnya berlari ke timur.
  2. Candi Cetho : Berada di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kab.Karanganyar. Disini Prabu Brawijaya membangun Candi Cetho. Disini dia dikejar pasukan dari Cepu di bawah pimpinan Adipati Cepu yang menaruh dendam lama. Prabu lari ke arah Gunung Lawu
  3. Bulak Peperangan : Berada di lereng Gunung Lawu via Candi Cetho. Di lokasi ini konon terjadi pertempuran antara pengikut Prabu Brawijaya dan pasukan yang mengejarnya.
Misteri Gunung Lawu dan Sumpah Brawijaya V
Candi Cetho
Misteri Gunung Lawu dan Sumpah Brawijaya V
Bulak Peperangan
Geram dikejar pasukan Cepu, dalam persembunyianya di puncak Gunung Lawu, Prabu Brawijaya mengeluarkan sumpah kepada Adipati Cepu :

"Sawijining ono anggone uwong cepu utawi turunane Adipati Cepu pinarak sajroning gunung lawu bakale kengeng nasib ciloko lan agawe biso lungo ing gunung lawu. "

artinya :

"Jika ada orang-orang dari daerah Cepu atau dari keturunan langsung Adipati Cepu naik ke Gunung Lawu, maka nasibnya akan celaka atau mati di Gunung Lawu."

Sampai sekarang, tuah sumpah Raja terakhir Majapahit Prabu Brawijaya masih diikuti oleh orang daerah Cepu khususnya keturunan Adipati Cepu.

Gunung Lawu dan Brawijaya V

Dalam pertapaannya di puncak Gunung Lawu, Prabu Brawijaya ditemani oleh abdi dalem setianya, Sabdo Palon dan Noyo Genggong. Di sekitar puncak Gunung Lawu, ada beberapa tempat yang pernah digunakan oleh Prabu Brawijaya, yaitu :
  1. Sendang Drajat : Mata air ini dulunya adalah tempat pemandian Prabu Brawijaya V. Air ini dipercaya memiliki khasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit. 
  2. Sendang Panguripan : Air ini pernah dimanfaatkan oleh Prabu Brawijaya dan kini dipercaya memiliki kekuatan magis.
  3. Sumur Jalatundo : Sumur Jalatundo merupakan gua vertikal sedalam lima meter yang dipercaya sebagai tempat Prabu Brawijaya V menerima wangsit selama di Gunung Lawu.
Misteri Gunung Lawu dan Sumpah Brawijaya V
Sendang Drajat
Raden Patah yang belum kehabisan akal, mengutus penasihat keraton Demak yaitu Sunan Kalijaga untuk memberikan pencerahan mengenai agama Islam kepada ayahnya.

Sunan Kalijaga pergi ke tempat pesanggrahan Prabu Brawijaya di Gunung Lawu. Sunan Kalijaga berhasil memberikan pencerahan kepada sang Prabu yang akhirnya bersedia masuk Islam. Masuknya Islam Prabu Brawijaya menyebabkan kemurkaan Sabda Palon dan Naya Genggong. Keduanya yang tidak bisa berbuat banyak di hadapan Sunan Kalijaga akhirnya pergi meninggalkan Prabu Brawijaya dan bersumpah akan kembali ke tanah Jawa 500 tahun lagi. 

Prabu Brawijaya'pun menjalani tapa brata hingga akhirnya moksa di salah satu puncak Gunung Lawu yaitu di puncak Hargo Dalem. Sedangkan puncak Hargo Dumiling dipercaya menjadi tempat moksa Sabda Palon.
Misteri Gunung Lawu dan Sumpah Brawijaya V
Petilasan Prabu Brawijaya

Dipa Menggala dan Wangsa Menggala

Ada versi lain yang menceritakan tentang pelarian Prabu Brawijaya ke Gunung Lawu dan kisah ini juga masih dipercaya masyarakat sekitar turun temurun. Konon diceritakan bahwa Prabu Brawijaya pergi sendiri ke Gunung Lawu untuk menghindari pasukan Demak dan Cepu. Di tengah perjalanan menuju puncak gunung, dia bertemu dengan dua orang kepala dusun di kaki gunung bernama Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Mereka menemani sang prabu untuk mengasingkan diri di Gunung Lawu.

Karena kesetiaannya kepada Sang Prabu, Dipa Menggala diangkat menjadi penguasa Gunung Lawu hingga ke barat meliputi Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, ke timur meliputi Gunung Wilis, ke selatan hingga pantai selatan dan ke utara hingga pantai utara. Dipa Menggala membawahi seluruh makhluk gaib dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Sedangkan Wangsa Menggala diangkat sebagai patih dengan gelar Kiai Jalak.

Sampai akhir hayat Prabu Brawijaya moksa di Gunung Lawu, kedua kepala dusun ini melakukan tanggung jawab yang diberikan Sang Prabu untuk menjaga Gunung Lawu

Hingga kini, Gunung Lawu masih sering dikunjungi oleh pelaku spiritual yang masih menjaga kebudayaan hingga kini. Salah satu kebudayaan yang masih dijalankan sampai saat ini adalah tradisi malam 1 suro atau 1 Muharam dalam penanggalan Islam. Tradisi memperingati malam 1 Suro di Gunung Lawu telah berlangsung turun-temurun dan selalu di jaga keberadaannya oleh masyarakat sekitar terutama masyarakat Jawa. Tidak hanya terbuka untuk masyarakat sekitar, panorama alam Gunung Lawu juga memikat mata para pecinta khususnya pendaki di pulau Jawa.

Mengenal 10 Gunung Tertinggi di Jawa Barat

10 Gunung Tertinggi di Jawa Barat. Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang memiliki kontur tanah lebih tinggi dibandingkan daerah lain di Pulau Jawa. Selain dikenal sebagai tempat jalan-jalan, Jawa Barat dikenal memiliki pegunungan yang akrab dengan para pendaki. Gunung di Jawa Barat rata-rata memiliki ketinggian antara 1000 - 2000 mdpl dan banyak dikenal karena indahan alamnya yang menakjubkan. Itulah kenapa gunung di Jawa Barat juga banyak menjadi sasaran para pendaki.

Wisata alam berupa pegunungan dan pendakian di Jawa Barat cukup ramai. Setidaknya ada sekitar 364 gunung dan bukit yang tersebar di wilayah Jawa Barat. Sebagai daerah cincin api, Jawa Barat juga memiliki gunung berapi yang tentunya dengan trek yang cukup menantang bagi para petualang. 

Berikut daftar 10 gunung tertinggi di Jawa Barat :

1. Gunung Ciremai

Gunung Ciremai berada di wilayah Kabupaten Kuningan, Cirebon dan Majalengka. Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 mdpl dan merupakan gunung berapi yang masih aktif. Puncak Gunung Ciremai berupa bibir kawah yang landai dan cukup lebar. 
Gunung Ciremai
Gunung Ciremai
Gunung Ciremai memiliki empat jalur pendakian resmi dengan trek yang tidak mudah. Trek yang paling terkenal di Gunung Ciremai adalah Tanjakan Bapa Tere yang masuk daftar Tanjakan Unik Pegunungan di Jawa.

2. Gunung Pangrango

Gunung Pangrango berada di wilayah Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi. Gunung Pangrango berketinggian 3.019 mdpl dan masuk dalam kawasan Taman Nasional Gede - Pangrango. Di Gunung Pangrango terdapat Lembah Mandalawangi yang menyajikan hamparan edelweis indah dan selalu menjadi lokasi tujuan para pendaki.
Gunung Pangrango
Gunung Pangrango
Selain keindahan pesonanya, Gunung Pangrango juga menyimpan cerita sosok Soe Hok Gie, seorang aktivis demonstran yang abunya ditebar di Lembah Mandalawangi, bahkan beberapa tulisannya sangat memotivasi para pecinta alam.

3. Gunung Gede

Gunung Gede masuk di dalam kawasan Taman Nasional Gede - Pangrango. Gunung Gede berketinggian 2.958 mdpl dan berseberangan dengan Gunung Pangrango. Gunung Gede memiliki kawah yang masih aktif yaitu Kawah Ratu, Kawah Wadon, Kawah Lanang dan Kawah Baru. 
Gunung Gede
Gunung Gede
Jika di Gunung Pangrango ada Lembah Mandalawangi, maka di Gunung Gede ada Alun-alun Surya Kencana. Area ini banyak ditemukan edelweis dan sering dijasikan tempat camping para pendaki.

4. Gunung Cikuray

Gunung Cikuray berada di wilayah Kecamatan Cikajang, Dayeuh Manggung dan Bayongbong. Gunung berketinggian 2.821 mdpl ini merupakan gunung kerucut yang tidak aktif. Puncaknya berupa area datar tidak terlalu luas yang terdapat sebuah pos bangunan. 
Gunung Cikuray
Gunung Cikuray
Sunrise di puncak Gunung Cikuray lumayan indah dengan pesona Gunung Papandayan di sebelahnya. Sayangnya di puncak Gunung Cikuray dikotori oleh coretan-coretan vandalisme.

5. Gunung Papandayan

Gunung Papandayan berada di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut. Gunung berapi ini berketinggian 2.665 mdpl dan menjadi salah satu tempat wisata alam yang sangat populer di Garut. Bukan hanya untuk pendakian, tapi juga eksotisme alamnya yang menarik.
Gunung Papandayan
Gunung Papandayan
Gunung Papandayan dikenal dengan Hutan Mati yang tersisa dari letusan yang pernah terjadi. Ladang hutan mati dan Alun-alun Tegal Alun merupakan spot paling menarik di Gunung Papandayan yang menyajikan pesona unik dan luar biasa indahnya.


6 Gunung Kendang

Gunung Kendang berada di Desa Neglawangi, Kecamatan Kertasari, Kebupaten Bandung. Gunung Kendang berketinggian 2.617 mdpl dan berupakan Gunung Berapi stratovolcano. Puncak gunung yang disebut juga dengan tanah tertinggi di Bandung ini menyajikan hamparan teh hijau di jalur pendakiannya.
Gunung Kendang
Gunung Kendang

7. Gunung Patuha

Gunung Patuha berada di Rancabali, Ciwidey, Kabupaten Bandung. Gunung ini memiliki ketinggian 2.440 mdpl. Gunung Patuha atau Gunung Sepuh memiliki kawah yang sangat eksotis bernama Kawah Putih. Kawah ini berwarna putih akibat campuran unsur belerang, sehingga bisa berubah warna sesuai dengan kadar belerang, faktor suhu dan cuaca. 
Gunung Patuha
Gunung Patuha

8. Gunung Guha

Gunung Guha merupakan gunung berapi yang bersebelahan dengan Gunung Kendang. Gunung ini memiliki ketinggian 2.397 mdpl. Tidak ada catatan sejarah mengenai meletusnya gunung ini. Diduga harimau jawa masih hidup di gunung ini. 
Gunung Guha
Gunung Guha

9. Gunung Malabar

Gunung Malabar berada di Banjaran, Kabupaten Bandung. Gunung berapi ini berketinggian 2.329 mdpl dan memiliki banyak puncak yaitu Puncak Malabar, Puncak Mega, Puncak Puntang dan Puncak Haruman. Gunung ini adalah inspirasi dari nama kereta api Malabar yang melayani rute Bandung-Malang.
Gunung malabar
Gunung Malabar

10. Gunung Guntur

Gunung Guntur berada di Sirnajaya, Tarogong Kaler, Kebupaten Garut. Gunung berapi tipe stratovolcano ini memiliki ketinggian 2.249 mdpl dan pernah menjadi gunung paling aktif di Pulau Jawa pada tahun 1.800an. Gunung Guntur memiliki kaldera besar dan dalam yang berasal dari bekas letusan. 
Gunung Guntur
Gunung Guntur

Itu adalah 10 Gunung Tertinggi di Jawa Barat yang selain memiliki keindahan alam yang berbeda, juga menyajikan trek pendakian yang cukup menantang. Meski dikenal sebagai gunung yang ramah pendaki, untuk melakukan pendakian ke gunung-gunung tersebut tetap harus memerlukan stamina yang baik. So, where to go?

Pendakian Gunung Wilis 2.300 mdpl via Bajulan

Pendakian Gunung Wilis via Bajulan. Gunung Wilis merupakan gunung berapi istirahat yang terletak satu rangkaian dalam Pegunungan Wilis. Di lereng gunung ini ada banyak air terjun yang sudah dikembangkan menjadi pariwisata seperti Air Terjun Dolo, Air Terjun Roro Kuning maupun Air Terjun Irenggolo. Gunung Wilis memiliki sekitar 40 puncak (id.wikipedia.org). Puncak tertingginya adalah puncak Liman atau puncak Ngliman dengan ketinggian 2.563 mdpl. Gunung Wilis memang jarang didaki seperti gunung-gunung tertinggi di Jawa Timur lainnya, itulah yang menyebabkan keasriannya masih sangat terjaga.
Pendakian Gunung Willis 2.300 mdpl via Bajulan
Gunung Wilis
Gunung Wilis terbilang bersejarah karena pernah dilalui oleh Jendral Sudirman sebelum melakukan penyerangan umum ke Yogyakarta pada 1 Maret 1949. Gunung Wilis masuk dalam wilayah enam kabupaten yaitu Kabupaten Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Madiun, Ponorogo dan Trenggalek. Dari banyaknya puncak yang ada, hanya lima jalur pendakian yang bisa dilalui, yaitu :
  1. Jalur pendakian via Candi Penampihan, Sendang, Tulungagung. 
  2. Jalur pendakian via Mojo, Kediri.
  3. Jalur pendakian via Bajulan (Roro Kuning), Nganjuk. 
  4. Jalur pendakian via Sedudo (Desa Ngliman), Nganjuk. 
  5. Jalur pendakian via Kare, Madiun 
Jalur pendakian Gunung Wilis via Bajulan bisa mengikuti jalur ke arah tempat wisata Air Terjun Roro Kuning, tepatnya di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Nganjuk, Jawa Timur. Rute jalur tidak begitu susah dan bisa dilalui kendaraan roda 4. 

Basecamp pendakian Gunung Wilis via Bajulan berada di sebelah kanan yang ditandai dengan banner dan plang 'Pos Pendakian Sekartaji". Sekartaji merupakan sebuah pos yang ada di jalur pendakian Gunung Wilis. Biasanya, pos Sekartaji menjadi tujuan pendaki selain puncak Limas.

Basecamp - Pos Panjer

Trek awal pendakian dari basecamp berupa jalan makadam tersusun rapi melewati rumah dan kebun penduduk. Trek akan berganti tanah ketika mendekati pintu hutan dengan jalan yang mulai menanjak dan masih di dalam area ladang warga sekitar. Trek terus menanjak ringan melalui hutan yang tidak terlalu lebat hingga sampai di Pos 1.
Pendakian Gunung Willis 2.300 mdpl via Bajulan
Pos Panjer
Pos Panjer, merupakan area lapang di jalur pendakian yang terdapat dudukan dari kayu untuk beristirahat sejenak.

Pos Panjer - Pos Gentongan

Jalur pendakian Gunung Wilis via Bajulan dilanjutkan dengan tetap mengikuti jalur setapak ke Pos 2. Bisa dibilang jalur dari Pos 1 ke Pos 2 merupakan jalur yang paling pendek dengan trek tanah yang cukup landai.
Pendakian Gunung Willis 2.300 mdpl via Bajulan
Pos Gentongan
Pos Gentongan, merupakan area terbuka di sisi jalur pendakian. Disini terdapat gubuk yang tinggal kerangka kayunya saja. Dari pos ini bisa terlihat view kota Nganjuk dan juga area lembah Gunung Wilis, Sekartaji.

Pos Gentongan - Pos Sekartaji

Dari Pos Gentongan, jalur pendakian Gunung Wilis via Bajulan sudah tidak terlalu membutuhkan banyak energi karena jalur setapaknya yang cenderung landai dan pada beberapa bagian ada jalur juga berupa turunan. Area terbuka dengan lembah savana menandakan Pos Sekartaji sudah dekat. Savana merupakan punggungan yang harus dilalui sebelum Sekartaji. Ilalang lebat yang cukup tinggi akan mengantar hingga Sekartaji. Di sisi kanan punggungan Savana ini ada jalur lama yang sudah tidak pernah digunakan lagi karena terlalu curam.
Pendakian Gunung Willis 2.300 mdpl via Bajulan
Pos Sekartaji
Pendakian Gunung Willis 2.300 mdpl via Bajulan
View Pos Sekartaji
Sekartaji, merupakan area terbuka, cukup luas, bisa menampung sekitar lebih 10 tenda dengan tiga area yang berbeda. View disini sangat indah dan terdapat sumber air, sehingga Sekartaji merupakan lokasi favorit dan terbaik untuk camp. Dari Pos Sekartaji tampak Gunung Butak, Gunung Kawi, Gunung Arjuno, Gunung Welirang dan juga Gunung Semeru di kejauhan. Di area paling atas terdapat candi.
Pendakian Gunung Willis 2.300 mdpl via Bajulan
Sunrise dari Pos Sekartaji

Pos Sekartaji - Pospan

Pendakian Gunung Wilis yang sebenarnya dimulai dari Pos Sekartaji ini. Selepas Pos Sekartaji, jalur pendakian Gunung Wilis dilanjutkan dengan trek menanjak melewati punggungan ilalang sama seperti trek sebelumnya. Ada setidaknya tiga puncak punggungan yang harus dilalui.
Pendakian Gunung Willis 2.300 mdpl via Bajulan
Trek Savana ke Pospan
Di sepanjang trek savana akan melewati Watu Lawang, berupa batu besar di area yang datar. Trek pendakian terus menanjak dengan trek yang sama hingga Hutan Pendek. Hutan Pendek merupakan area datar yang cukup luas sebelum kembali masuk ke hutan pegunungan Wilis. Dari Hutan Pendek, trek melipir ke kiri hingga Pospan. Pospan merupakan area datar teduh yang bisa digunakan untuk beristirahat sejenak.
Pendakian Gunung Willis 2.300 mdpl via Bajulan
Pospan

Pospan - Cemoro Besar

Jalur pendakian Gunung Wilis via Bajulan dilanjutkan dengan jalan setapak menanjak melalui hutan dan ilalang hingga Cemoro Besar. Cemoro Besar merupakan area di jalur pendakian yang terdapat pohon cemara besar. Itu saja.
Pendakian Gunung Willis 2.300 mdpl via Bajulan
Cemoro Besar

Cemoro Besar - Puncak Limas

Pendakian dari Cemoro Besar hingga ke puncak merupakan pendakian yang paling melelahkan di sepanjang jalur pendakian Gunung Wilis via Bajulan. Trek terus menanjak terjal tanpa bonus menyusuri punggungan gunung. Di tengah jalur akan ada tanjakan curam yang harus didaki dengan bantuan tali. Sudah ada tali yang terpasang untuk memudahkan pendakian di jalur yang memiliki ketinggian sekitar 5 meter ini.

Selepas tanjakan, trek masih menyusuri punggungan dengan trek yang berkelok-kelok menanjak menyusuri ilalang di jalur setapak hingga sampai di Puncak Limas. 

Puncak Limas dengan ketinggian 2.300 mdpl merupakan salah satu puncak Pegunungan Wilis via Roro Kuning atau Bajulan. Puncak Gunung Wilis ini ditandai dengan tugu, berada di area datar terbuka yang masih di dalam area hutan. Jadi, sampai di puncak hampir tidak ada view menarik apapun selain pepohan di sekitarnya.
Pendakian Gunung Willis 2.300 mdpl via Bajulan
Cheers...

Tips Pendakian Gunung Wilis via Bajulan :

  1. Lengkapi kebutuhan logistik sebelum pendakian. Basecamp juga menjual beberapa makanan ringan dan logistik untuk pendaki. 
  2. Pada musim hujan, jalur pendakian awal becek dan sangat licin, wajib berhati-hati agar tidak terpeleset ketika naik ataupun turun. 
  3. Jika perlu, bawalah alat penebas untuk membuka jalur setapak yang mulai tertutup. 
  4. Waspadai serangan pacet. Gunakan sepatu yang tertutup. 
  5. Agar tidak basah karena kabut, pakailah celana jas hujan saat melewati area savana yang sangat rimbun. 
  6. Lokasi camp terbaik ada di Pos Sekartaji, dimana tersedia sumber air, lokasi luas dan view yang menawan. 
  7. Area savana sebelum Pos Sekartaji hingga Pospan sangat panas ketika siang hari dan tidak ada tempat untuk berteduh. Bawalah pelindung kepala untuk menghindari dehidrasi yang disebabkan panas terik matahari. 
  8. Bawalah persediaan air yang cukup jika ingin melanjutkan ke Pos Limas. Setelah Pos Sekartaji tidak ada sumber air kecuali jika turun hujan. 
  9. Berhati-hatilah ketika menaiki ataupun menuruni tanjakan curam sebelum Puncak Limas. 
  10. Bawalah sampah turun dan jangan melakukan vandalisme. 

Itinerary Pendakian Gunung Wilis via Bajulan :
Basecamp - Pos Panjer : 1 jam 25 menit
Pos Panjer - Pos Gentongan : 35 menit
Pos Gentongan - Pos Sekartaji : 40 menit
Pos Sekartaji - Pospan : 1 jam 30 menit
Pospan - Cemoro Besar : 15 menit
Cemoro Besar - Puncak Limas : 1 jam