Sejarah, Legenda dan Mitos Danau Tiga Warna Kelimutu

Danau Tiga Warna Kelimutu. Danau Kelimutu sangat populer karena menjadi buah bibir para wisatawan domestik dan mancanegara. Keunikah dan keindahan danau fenomenal ini membuat siapapun tak segan mengunjungi Flores untuk melihat kebenaran mitos bahwa air danaunya bisa berubah-ubah. Banyak yang mengaitkan perubahan air danau dengan mitos yang berkembang di masyarakat sekitar. Danau berketinggian 1.639 mdpl ini memiliki sejarah, asal-usul dan mitos yang cukup menarik untuk diketahui. Selain memiliki pesona alam yang indah, tentu tidak lengkap jika tidak tahu 'sesuatu' tentang Danau Kelimutu. 
Danau Tiga Warna Kelimutu
Danau Kelimutu
Danau Kelimutu berada di Desa Pemmo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Danau Kelimutu berada di ketinggian 1.639 mdpl dengan luas area ketiga danau sekitar 1.051.000 m2 dan menampung volume air sekitar 1292 juta m3. Literatur ilmiah tentang sejarah terbentuknya Danau Kelimutu hampir tidak ada, sehingga apapun yang berbau ilmiah kalah dengan unsur mistis yang berkembang di masyarakat.

Gunung Kelimutu

Kelimutu sendiri merupakan satu dari pegunungan yang disebut ribu, yaitu kelompok gunung dengan tinggi lebih dari 1.000 m. Gunung Kelimutu (1.640 mpdl) tumbuh didalam kaldera Sokonia atau Tubuss bersama dengan gunung Kelido (1.641 mpdl) dan gunung Kelibara (1630 mpdl). Ketiganya membangun kompleks yang bersambungan kecuali gunung Kelibara yang terpisah oleh lembah dari kaldera Sokonia. Dari ketiga gunung tersebut, gunung Kelimutu merupakan kerucut tertua dan masih menunjukkan aktivitas vulkanologi sampai sekarang, yang merupakan kelanjutan dari kaldera Sokonia. 
Danau Tiga Warna Kelimutu
Pegunungan Kelimutu
Dari puncak Kelimutu terdapat 3 sisa kawah besar yang mencerminkan perpindahan puncak erupsi. Ketiga sisa kawah tersebut sekarang berupa danau kawah dengan warna air yang berbeda dan ukuran diameter bervariasi, dimana ketiga danau tersebut bernama Tiwu Ata Polo, Tiwu Nuwa Muri Koo Fai , dan Tiwu Ata Mbupu.

Tahun 1830 Gunung Kelimutu meletus dahsyat dan mengeluarkan lava hitam Watukali. Tahun 1869-1870 kembali meletus disertai aliran lahar dan membuat suasana gelap gulita disekitarnya dimana hujan abu dan lontaran batu hingga mencapai Desa Pemo. Tercatat 11 kali aktivitas vulkanik di Taman Nasional Kelimutu sejak 1830-1997. (Direktorat Vulkanologi Ditjen Geologi dan Sumber Daya Mineral, 1990)

Arti Nama Danau Kelimutu

Nama Kelimutu dipercaya masyarakat sekitar sebagai gabungan dari kata 'keli' yang berarti gunung dan 'mutu' yang berarti mendidih. Jika diartikan 'gunung mendidih' dengan warna air yang berbeda. Dipercaya pula bahwa warna yang berbeda tersebut memiliki kekuatan alam yang sangat sangat dasyat.

Danau Kelimutu memiliki tiga danau kawah yang memiliki nama berbeda,yaitu :
  1. Tiwu Nuwa Muri Koo Fai : Tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda yang telah meninggal. 
  2. Tiwu Ata Polo : Tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang meninggal yang selama hidupnya melakukan kejahatan. 
  3. Tiwu Ata Mbupu : Tempat berkumpulnya jiwa-jiwa irang tua yang telah meninggal. 

Sejarah Danau Kelimutu

Danau kelimutu ditemukan pertama kali pada tahun 1915 oleh warga Belanda keturunan Lio bernama Van Such Telen. Kemudian semakin dikenal setelah Y.Bouman melukiskannya dalam tulisan pada tahun 1929. Sejak saat itu, tak hanya wisatawan yang berdatangan tapi juga ilmuwan yang ingin meneliti kejadian langka tersebut. Pada 26 Februari 1992, Kelimutu ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Alam Nasional. 

Legenda Danau Kelimutu

Konon, puncak Gunung Kelimutu atau Bhua Ria yang berarti “hutan lebat penuh awan”, tinggallah Konde Ratu dengan rakyat-rakyatnya. Dari kumpulan rakyat tersebut, ada dua orang yang menonjol yaitu Ata Polo - seorang penyihir yang dinilai kejam karena suka memangsa manusia dan Ata Bupu - seorang yang amat senang berbelas kasih dan mampu menangkal sihir milik Ata Polo.

Kehidupan di Bhua Ria sama seperti kehidupan di daerah lain, tenang dan biasa saja. Hal ini berubah ketika sepasang Ana Kalo (yatim piatu) datang dan meminta tolong kepada Ata Bupu untuk melindungi mereka karena kedua orang tuanya telah tiada. Hal ini disetujui Ata Bupu dengan syarat mereka tidak boleh meninggalkan ladang milik Ata Bupu, takut mereka akan menjadi mangsa Ata Polo.

Kecemasan Ata Bupu terbukti ketika Ata Polo datang menjenguk dan mencium bau mangsa yang keluar dari kedua Ana Kalo. Ata Bupu memohon pada Ata Polo untuk paling tidak menunggu mereka dewasa sebelum memangsanya. Ketika dewasa, Ata Bupu mencoba menghalau Ata Polo yang berusaha sekuat tenaga untuk memangsa para Ana Kalo. Sadar tidak bisa mengalahkan Ata Polo, Ata Bupu memutuskan untuk kabur ke perut bumi. Ata Polo semakin menggila dan ketika sedang mengejar dua remaja tadi, ia juga ditelan bumi, sementara para remaja tewas karena gempa dan terkubur hidup-hidup.

Danau Tiga Warna Kelimutu
Tiwu Nuwa Muri Koo Fai
Danau Tiga Warna Kelimutu
Tiwu Ata Polo
Tempat Ata Bupu kabur ke perut bumi menyembul air berwarna biru yang diberi nama Tiwu Ata Bupu. Di tempat tewasnya Ata Polo juga keluar air, tapi berwarna merah darah dan diberi nama Tiwu Ata Polo. Sementara itu, di gua persembunyian para remaja muncul air berwarna hijau tenang dan bernama Tiwu Nuwa Muri Koo Fai.
Danau Tiga Warna Kelimutu
Tiwu Ata Mbupu

Perubahan Warna Danau Kelimutu

Danau Tiga Warna Kelimutu masing-masing memang memiliki warna yang berbeda. Tetapi sesekali warna ketiganya bisa pula menjadi sama. Keunikan Danau Kelimutu mengundang para peneliti untuk menyibak fenomena tersebut. Danau Kelimutu jugakerap berubah-ubah warna.
  1. 1 abad silam, Van Suchtelen melihat Danau Tiwu Ata Polo menunjukkan warna merah darah, Tiwu Nua Muri Koo Fai hijau jamrud, sedangkan Tiwu Ata Mbupu berwarna putih.
  2. 1915 - 1960 : Danau Tiwu Ata Mbupu, lebih sering berwarna hijau lumut, hitam, coklat tua, terkadang juga biru, dan pernah dua kali menjadi putih.
  3. 9 April 1996 : Ketiga danau memancarkan warna hijau muda
  4. 2004 : Danau Tiwu Nua Muri Koo Fai, lebih sering berwarna hijau muda dan pernah berubah menjadi biru sebanyak 6 kali, putih 10 kali dan yang terakhir dari warna hijau ke putih telur asin.
  5. Akhir 2008 : Diawali Danau Tiwu Ata Polo yang saat itu berubah warna dari coklat kehitaman menjadi hijau tua. Disusul Danau Tiwu Ata Mbupu dari hijau lumut kehitaman jadi hijau muda. Ketiga danau menjadi satu warna, yaitu hijau muda.
  6. Juli 2010 : Danau Tiwu Nua Muri Koo Fai berwarna hijau muda kebiruan, danau Tiwu Ata Polo berwarna hijau, dan danau Tiwu Ata Mbupu berwarna hijau lumut kehitaman.
Danau Tiga Warna Kelimutu
Perubahan Warna Danau Kelimutu
Sebagai gunung api yang masih aktif, perubahan air kawah merupakan salah satu parameter yang digunakan dalam menentukan status kesiapsiagaan bencana gunung api. Menurut para peneliti LIPI itu, perubahan warna di ketiga danau menunjukkan adanya aktivitas vulkanik.

Warna air merupakan hasil refleksi kembali dari berbagai panjang gelombang cahaya sejumlah material yang berada dalam air yang tertangkap oleh mata. Warna air di ketiga kawah berbeda-beda. Menurut tim peneliti LIPI, air di Kawah Tiwu Nua Muri Koo Fai berwarna hijau muda disebabkan ion Fe2+ bereaksi dengan sulfat (SO4 2-), membentuk endapan ferosulfat (FeSO4). Kawah Tiwu Ata Polo berwarna cokelat kemerahan disebabkan Fe3+ membentuk senyawa ferihidroksida (Fe(OH)3) berupa koloid di dalam air kawah (bukan di permukaan air kawah) dan residu di dasar kawah. 

Sedangkan Kawah Tiwu Ata Mbupu yang berwarna hijau tua kehitaman diduga merupakan refleksi warna tumbuh-tumbuhan/cemara gunung yang banyak ditemukan di sekitar bibir kawah. Proses perubahan warna, menurut tim peneliti, terjadi karena pengaruh gas yang ada di dalam bumi. Di daerah vulkanik, ada jalur-jalur crack/korok sebagai saluran gas ke atas.

Mitos Gunung Kelimutu

Suku Lio di Flores percaya bahwa Danau Kelimutu menyimpan aura mistis dimana merupakan tempat persemayaman terakhir dari jiwa-jiwa orang yang meninggal. Menurut masyarakat sekitar dari pengalaman, perubahan warna Danau Kelimutu mengundang bencana besar. Penyebabnya, warga adat pemilik Kelimutu sudah lama tidak melakukan ritual adat Pati Ka Konde.
Danau Tiga Warna Kelimutu
Plakat Mitos Danau Kelimutu
Selain itu, masyarakat sekitar juga mulai resah karena dinding tebing yang menjadi sekat kedua danau kawah terus terkikis dan sekarang kondisinya sudah tidak setebal dulu lagi. Jika suatu hari dinding tebing tersebut ambruk dan kedua air kawah ini bercampur maka mereka yakin bahwa dunia juga akan berakhir.

Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata adalah acara adat yang diselenggarakan suku Lio untuk menghormati nenek moyang yang diselenggarakan setiap tanggal 14 Agustus (tentatif). Suku Lio mempersembahkan berbagai makanan kepada leluhur sebagai tanda ungkapan terima kasih atas berkat tahun lalu dan berdoa untuk mendapatkan berkat tahun selanjutnya. Sesaji yang dipersembahkan berupa sirih, pinang, rokok, nasi, daging dan tuak. Dalam upacara tersebut, masyarakat juga melakukan Tari Gawi secara masal sebagai ungkapan rasa syukur.
Danau Tiga Warna Kelimutu
Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata
Acara ini dimulai persiapan dan berkumpul di area parkiran, diikuti tracking menuju Tiwu Ata Polo dimana terletak altar mezbah batu, tempat diletakkannya segala persembahan makanan dan pusat acara ritual berlangsung. Sekarang upacara ini dikemas menjadi sebuah festival bernama Festival Danau Kelimutu yang digelar selama seminggu pada bulan Agustus.

Terlepas dari benar tidaknya mitos yang dianut masyarakat sekitar, tempat wisata di Flores ini memang sangat cantik dan menarik untuk dikunjungi. Tak heran jika banyak wisatawan lokal maupun mancanegara datang ke Ende hanya untuk melihat keindahan danau Kelimutu. Selain pemandangan danau Kelimutu, dapat pula disaksikan keindahan alam lain di Taman Nasional Kelimutu seperti Hutan Lindung yang banyak ditumbuhi pepohonan pinus dan cemara, serta kicauan burung-burung yang menghuni kawasan Taman Nasional Kelimutu.

Ref : Wikipedia, detik.com, kompas.com, lipi.go.id


EmoticonEmoticon