Taman Perenungan Bung Karno Ende - Tempat Lahirnya Butir Pancasila

Taman Perenungan Bung Karno. Pohon sukun mungkin tampak biasa tumbuh di kebun  atau halaman rumah, berbeda dengan pohon sukun di Ende yang memiliki nilai penting bagi bangsa Indonesia. Ya, pohon sukun yang berada di pusat Kota Ende tersebut menjadi saksi bisu serta pohon permenungan Presiden Pertama Ir.Soekarno dalam menemukan butir-butir Pancasila yang telah menjadi dasar negara. Kini, tempat tersebut diabadikan menjadi tempat wisata sejarah di Ende yaitu Taman Perenungan Bung Karno.
Taman Perenungan Bung Karno Ende
Taman Perenungan Bung Karno
Tempat wisata Taman Permenungan Bung Karno terletak di Kelurahan Kotaraja, Ende Utara, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Berada sekitar 300 meter dari Rumah Pengasingan Bung Karno. Taman Permenungan ini bersebelahan dengan Lapangan Pancasila (Lapangan Perse) dan Museum Tenun Ikat.

Kota Ende memang memiliki sejarah yang erat dengan presiden pertama Republik Indonesia Ir.Soekarno, karena disinilah Soekarno sempat diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda sebelum Indonesia Merdeka. Taman Perenungan Bung Karno ini sangat rindang, sejuk dan menenangkan. Dulu, di taman ini ada sebuah pohon sukun unik yang memiliki cabang dari bawah sebanyak lima. 

Dibawah pohon sukun inilah Soekarno kerap duduk untuk membaca buku, sambil menatap ke arah laut teluk Sawu. Dari pohon bercabang lima inilah Bung Karno mendapatkan inspirasi yang kelak disebut Pancasila. Namun, pohon sukun yang sekarang bukanlah pohon yang sama. Pohon yang lama sudah tumbang pada 1970 karena angin dan digantikan pohon baru sejak 17 Agustus 1981. Pohon itu kini berganti nama menjadi Pohon Pancasila.
Taman Perenungan Bung Karno Ende
Pohon Pancasila
Taman Perenungan Bung Karno di Ende ini sudah dipercantik, dimana disebelah pohon sukun terdapat patung bangku sepanjang 17 meter dan Bung Karno yang terbuat dari perunggu, yang dibangun di atas kolam air berukuran 8 x 45 meter. Ukuran tersebut menyesuaikan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Patung tersebut menggantikan patung lama Soekarno yang menggunakan pakaian kebesaran TNI.

Dulunya tempat ini bernama Taman Rendo yang berarti taman melepas rindu. Konon di taman ini Bung Karno kerap melihat ke arah pantai dan rindunya kepada keluarganya di Jawa menguat. Beliau rindu akan kemerdekaan dan rindu untuk lepas dari penjajah. Ende'pun menjadi tempat perkembangan penting dalam diri Bung Karno dari manusia 'singa podium' menjadi 'manusia perenung'. Kehidupan rakyat Ende yang berasal dari suku bangsa dan agama, tetapi hidup rukun, telah menjadi inspirasi Soekarno dan menjadi bahan renungannya setiap hari di bawah pohon sukun. 
Taman Perenungan Bung Karno Ende
Area Taman Perenungan Bung Karno
Sedangkan Lapangan Pancasila dulunya adalah satu-satunya stadion sepak bola yang disebut Lapangan Perse (Persatuan Sepak Bola Ende) yang terkenal pada tahun 1970'an. Dulu setiap puncak pertandingan antar klub atau kabupaten pasti digelar di lapangan ini. Tempat yang memiliki sejarah dengan munculnya Pancasila ini kemudian menjadi Lapangan Pancasila pada 1 Juni 2013 bertepatan peresmian patung Bung Karno oleh Wakin Presiden Boediono. 


Catatan Sejarah Pembuangan Soekarno ke Ende

Pancasila memang tidak muncul tiba-tiba, tetapi dari permenungan Bung Karno selama diasingkan di Ende. Sejarah menyebutkan bahwa Ir. Soekarno pernah dibuang ke Ende, Pulau Flores pada tahun 1934 hingga 1938. Pada 14 Januari 1934, Bung karno dan istrinya Inggit Garnasih, ibu mertuanya ibu Amsi dan anak angkatnya Ratna Djuami tiba di rumah tahanan di Kampung Ambugaga, Ende. Penjajah Belanda memang sengaja membuangnya ke tempat terpencil agar terputus hubungan Soekarno dengan para loyalitasnya. Namun di tempat pengasingan, Soekarno lebih banyak berfikir, mempelajari agama Islam, belajar pluralisme hingga bergaul dengan para pastor di Ende. (Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara)

Tempat favorit Soekarno adalah di bawah pohon sukun. Selain kerap merenung di bawah pohon sukun, tokoh proklamator ini juga sering bermain bola dengan masyarakat setempat. Ketika lelah, dia duduk di bangku kecil di bawah pohon sukun berbatang lima. Dia melihat cabang-cabang sukun dan mulai berpikir tentang Indonesia hingga menemukan konsep dasar Pancasila. 
Taman Perenungan Bung Karno Ende
Patung Bung Karno Merenung
Rumusan Pancasila Soekarno ini kemudian masih dimusyawarahkan dengan berbagai tokoh nasional yang kemudian dijadikan lima sila yang dikenal sebagai Piagam Jakarta yang lahir pada 22 Juni 1945. Sempat mengalami penghalusan bahasa, jadilah Pancasila yang seperti sekarang ini.  Nama Pancasila diambil dari dua kata Sansekerta, panca berarti lima dan sila berarti prinsip atau asas.


"Di kota ini kutemukan lima butir mutiara, di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila" _Ir. Soekarno

Tips wisata di Taman Perenungan Bung Karno :

  1. Tempa wisata sejarah Taman Perenungan Bung Karno ini cukup ramai sehingga lokasi parkir juga ramai. Bisa parkir di dalam lapangan Pancasila jika tidak ada tempat.
  2. Sebagai taman yang bernuansa sejarah, jagalah sikap dengan tidak naik di patung bangku dan patung Bung Karno.
  3. Jagalah kebersihan di area wisata dan jangan melakukan vandalisme.
  4. Meski tidak terawat, jagalah kebersihan di kawasan Musium Tenun Ikat yang bersebelahan langsung dengan Taman Perenungan Bung Karno. 



EmoticonEmoticon