Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Candi Kalicilik & Candi Sumbernanas - Situs Sejarah di Ponggok Blitar

Candi Kalicilik dan Candi Sumbernanas. Candi Penataran bisa dibilang masih menjadi wisata sejarah andalan di kota Blitar. Namun, sejarah tidak hanya berpusat di situ saja. Selain Candi Penataran, banyak candi dan situs yang tersebar di area Blitar kota maupun kabupaten. Bagi pecinta sejarah, mengunjungi beberapa situs candi di Blitar pasti bisa menjadi pengalaman seru, karena masing-masing candi ataupun situs tersebut memiliki kisah sejarah yang berbeda. Sebut saja Situs Kalicilik atau Candi Sumber Nanas, pasti belum banyak masyarakat yang mengenal kedua situs tersebut. tetapi bagi pecinta sejarah, kedua situs itu memiliki nilai yang sangat penting. 
Candi Kalicilik
Situs Kalicilik
Situs Kalicilik dan Candi Sumbernanas berada di Desa Candirejo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar. Untuk ke lokasi kedua tempat tersebut ada dua alternatif rute :
  1. Jalan utama Pare - Blitar dan lurus ke arah timur sekitar 2 kilometer menuju Kantor Desa Candirejo. 
  2. Jalur alternatif Blitar - Kediri lewat Ponggok, tepatnya di Desa Bacem.
Letak kedua candi tersebut tidak terpaut jauh dan sudah sangat dikenal masyarakat sekitar. Jadi tidak perlu kuatir jika ingin mengunjungi salah satu situs sejarah di Kabupaten Blitar ini. Candi Kalicilik berada di pinggir jalan, di tengah kerumunan rumah-rumah warga di Desa Candirejo. Sedangkan Candi Sumbernanas berada agak jauh di tengah ladang warga. 


Situs Kalicilik

Berdasar penemuan arca Agastya, Candi Kalicilik adalah candi Hindu-Siwa dengan tampilan yang unik karena terbuat dari bata merah dan batu andesit yang masih utuh. Candi Kalicilik merupakan peninggalan Majapahit pada masa pemerintahan Tribhuwanatunggadewi dengan adanya tahun 1271 Saka (1349 M) yang terpahat di pintu masuk candi. Bangunan bujur sangkar ini memiliki ukuran 6,8 m2 dengan tinggi 8,3m. Pada bagian atas di keempat pintunya dihiasi oleh kala. 
Candi Kalicilik
Candi Kalicilik Masa Lalu

Pada bilik candi kosong dan di dindingnya terdapat relief Dewa Surya yang dikelilingi sinar matahari. Relief itu diyakini sebagai relief Surya Majapahit, yaitu simbol kerajaan Majapahit. Meski begitu, belum diketahui fungsi candi ini karena dalam Negarakertagama maupun prasasti tidak pernah menyebutkannya. 

Beberapa yang menyebut tentang Candi Kalicilik :
  1. Kitab Negarakertagama pupuh XL bait 5 : Pada tahun 1149 Saka (1227 Masehi) dia (Ken Angrok) berpulang ke sorgaloka, meninggalkan dunia. Dia didharmakan di dua tempat di Kagnangan sebagai Siwa dan sebagai Budha di Usana.
  2. Kitab Pararaton pupuh XV bait 25 : Sang amurwabhumi (Ken Angrok) mangkat pada tahun 1169 Saka (1247 Masehi) dia didharmakan di Kagenengan.
  3. Raffles (1817) dalam History of Jawa, menyebut Candi Kalicilik dengan nama Candi Genengan.
  4. Hoepermans (1866) menyebut candi ini dengan Candi Puton. 
  5. Agus Aris Munandar dalam Seminar Naskah Kuno Nusantara, kemungkinan Kagenengan tempat pendharmaan Ken Angrok adalah Candi Kalicilik. Sedangkan angka tahun yang menunjukkan masa Majapahit mungkin merupakan angka tahun peringatan terhadap peringatan  pemugaran dari bangunan yang telah ada sebelumnya dari masa Singasari.


Ken Angrok adalah pendiri dinasti Rajasa yang keturunannya memerintah di Kerajaan Singasari dan Majapahit. Mengenai Kagenengan sebagai tempat pendharmaan Ken Angrok sebagai Siwa belum diketahui secara pasti. 
Candi Kalicilik
Candi Kalicilik  
Candi Kalicilik terdiri dari tiga bagian yaitu candi, tubuh candi dan atap candi. Meski atapnya telah runtuh, tetapi masih ada ornamen kala yang diukir pada dinding batu bata merahnya. Sedangkan bagian kaki candi sebagian adalah hasil rekonstruksi karena bagian kaki yang asli sudah terkikis dan sulit untuk menopang bagian candi.

Tidak seperti tempat wisata sejarah di Blitar yang sudah populer, wisatawan yang datang ke Candi Kalicilik bisa dihitung dengan jari, bahkan sangat jarang. Sehingga tak heran jika gerbang pintu masuk ke area candi sering terkunci tanpa tahu dimana sang penjaga. Ini juga karena jarang'nya wisatawan yang berkunjung kecuali ada kunjungan khusus. Jadi jika tidak bisa masuk ya.... silahkan mencoba lagi. 

Candi Sumbernanas

Candi Sumbernanas
Candi Sumbernanas

Berbeda jauh dengan Candi Kalicilik, keadaan Candi Sumbernanas sudah runtuh ketika ditemukan pada tahun 1919 ketika tanah sekelilingnya longsor akibat letusan Gunung Kelud, menyisakan bagian kakinya san sisa-sisa reruntuhan. Candi Sumbernanas terdiri atas candi induk dan candi perwara, yang biasanya ada di depan candi induk.
Candi Sumbernanas
Sumuran Candi Bubrah
Karena kondisinya yang sudah runtuh, masyarakat sekitar sering menyebutnya sebagai Candi Bubrah. Pada bagian kaki candi terdapat lubang yang disebut sumuran. Sumur ini berbentuk persegi yang diduga sebagai tempat penyimpanan peripih atau benda-benda magis. Candi yang memiliki sumuran biasanya berlatar belakang agama Hindu. Di atas sumuran biasanya terletak Dewa Siwa dalam wujud Lingga yang diletakkan di atas Yoni.

Candi Sumbernanas masih minim informasi tentang kapan dan untuk apa candi ini dibuat. Dari gaya bangunannya yang mirip dengan candi di Jawa Tengah, candi ini diperkirakan berasal dari abad 10 - 11 M.


Tips Wisata Candi Kalicilik & Candi Sumbernanas :
  1. Taati peraturan yang ada di area cagar budaya. 
  2. Jangan merusak, memindahkan, membawa cagar budaya tanpa ijin dari instansi terkait.
  3. Jangan melakukan vandalisme di area situs sejarah.
  4. Biasanya area wisata tetap terbuka meski pos penjagaan kosong. Jika ingin masuk, tetap taati peratuan. 
  5. Jangan mengotori area wisata yang susah terawat baik.

Referensi :
Perpustakaan BPCB JATIM, K 070,930.
wikipedia
situsbudaya.id
Read More

Rumah Pengasingan Bung Karno Ende - Perjuangan Soekarno di Tanah Flores

Rumah Pengasingan Bung Karno Ende. Ende tidak hanya dikenal dengan fenomena alam wisata Danau Tiga Warna Kelimutu tetapi juga ada kisah sejarah dimana Bung Karno pernah diasingkan di Ende yang menjadi cikal bakal dasar negara Indonesia. Kota Ende menjadi saksi sejarah pengasingan presiden pertama Indonesia. Bukan hanya menjadi tempat pengasingan semata, Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende yang kini menjadi situs sejarah ini menjadi tempat Presiden pertama Indonesia itu merenungkan dan merumuskan konsep Pancasila. 
Rumah Pengasingan Bung Karno Ende
Rumah Pengasingan Bung Karno berada di Jl. Perwira, Kota Enda, Nusa Tenggara Timur. Rumah sederhana yang ada di  tengah rumah-rumah padat penduduk ini dilindungi sebagai situs sejarah berdasarkan UU No.5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

Pengasingan Bung Karno

Bung Karno diasingkan ke Pulau Flores pada 14 Januari 1934 - 18 Oktober 1938. Hal ini karena pergerakan Soekarno dan beberapa rekannya dianggap berbahaya oleh Belanda, yang akhirnya membuat Belanda kembali mengasingkan Soekarno setelah sebelumnya keluar dari penjara Sukamiskin. Untuk sampai ke Ende, Soekarno menempuh perjalanan 8 hari menggunakan kapal.

Belanda sengaja mengasingkan Soekarno jauh-jauh agar bisa memutus hubungan dengan para loyalitasnya. Di Ende, Soekarno bersama istrinya Inggit Garnasih, anak angkatnya Ratna Djuami dan ibu mertuanya Ibu Amsi, menempati rumah Abdullah Ambuwawu.
Rumah Pengasingan Masa Lalu
Di rumah yang sederhana itu, kehidupan Soekarno sangat sederhana. Dikucilkan dari keramaian, Bung Karno sempat depresi ketika menjalani pengasingan di Flores. Pemerintah Belanda memang sengaja membatasi pergaulan Bung Karno dengan ketat, khususnya masyarakat kalangan atas. Setiap hari, Soekarno harus melapor ke pos militer Belanda di Ende Utara yang kini menjadi Kantor Detasemen Polisi Militer IX/I.

Soakarno yang awalnya merasa frustasi mulai bangkit melawan pengawasan ketat Belanda. Dia rajin mendatangi kampung-kampung di Ende, menyapa warga, mengunjungi Danau Kelimutu - sehingga lahir naskah drama 'Rahasia Kelimutu'. Bung Karno juga bergaul dengan siapa saja dari berbagai agama. Waktu senggang digunakannya untuk banyak membaca dan berdialog.  Dia juga beberapa kali berkirim surat dengan T.A. Hassan di Bandung untuk membicarakan Islam. 


Dikutip dari Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara, di Ende, Sukarno menjadi lebih banyak berpikir ketimbang sebelumnya. Dia mulai belajar soal pluralisme dan bertukar pendapat dengan misionaris. Ada dua misionaris yang dijadikan tempat diskusi Bung Karno. Mereka adalah P Johanes Bouma, SVD dan P Gerardus Huijtink, SVD.


Di pengasingannya, selain menyapa masyarakat, Soekarno juga melukis dan menulis naskah drama pementasan. Di sekitar rumah pengasingannya, terdapat sebuah taman yang sering dikunjunginya untuk merenung dan salah satu perenungannya adalah Pancasila. Kini taman tersebut dikelan dengan Taman Renungan Bung Karno

Di rumah pengasingan ini pula Bung Karno kehilanagn mertuanya, Ibu Amsih yang wafat tahun 1935 dan dimakamkan di Pemakaman Karara, Ende. Karena sayangnya, Bung Karno sendiri yang mengerjakan makam mertuanya.  

Rumah Pengasingan Bung Karno

Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende dibangun pada tahun 1927 dan memiliki luas 12 x 9 meter persegi. Rumah ini memiliki beberapa ruang seperti ruang tamu, dua kamar tidur, kamar kerja, dan ruang bersemedi di bagian belakang. Di bagian belakang terdapat halaman yang cukup luas, kamar mandi, dapur dan sebuah sumur tua. Rumah pengasingan ini masih terawat dengan sangat baik.
Halaman Kiri Rumah Pengasingan

Halaman Rumah Pengasingan Bung Karno tidak begitu luas. Dulunya halaman ini digunakan Bung Karno untuk menanam berbagai rempah-rempah. Di halaman rumah terdapat Patung Bung Karno yang diresmikan Menteri Dalam Negeri pada 1 Juni 2018, setelah menjadi Irup Upacara Bendera Hari Lahir Pancasila di Lapangan Pancasila Ende.


Memasuki ruang pertama dari pintu masuk, perabotan masih diatur seperti dulu. Di sebelah kanan ruangan ada meja marmer dan kursi kayu yang sudah ditutup kotak kaca, hadiah dari almarhum Hj. MH Rotta. Selain itu terpajang juga beberapa peralatan yang pernah digunakan Soekarno ketika tinggal di rumah ini, seperti piring, ceret air, setrika dan biola. 
Ruang Tamu #1
Ruang Tamu #2
Ada lukisan Bung Karno berjudul 'Pura Bali' yang menggambarkan Umat Hindu di Bali sedang sembahyang.  Beberapa benda  di ruangan utama masih tampak bagus, meski ada yang sudah rapuh termakan usia. Di sudut ruangan terdapat surat keterangan kawin dan surat perjanjian cerai Soekarno dengan Inggit Garnasih. 
Lukisan dan Kamar Tidur Bung Karno
Di ruang tengah, ada kamar tidur Bung Karno. Berhadapan dengan kamar tidur Bung Karno, tersimpan tongkat Bung Karno. Sementara di seberang kamar tersebut terdapat ruang yang menjadi kamar tidur ibu mertua Bung Karno bersama anak angkatnya. Di masing-masing kamar, masih terjaga dengan rapi ranjang besi yang digunakan Bung Karno beristirahat, sedangkan sprei dan kelambu adalah tambahan dari penjaga Rumah Pengasingan Bung Karno.

Ruangan tengah terhubung langsung dengan halaman belakang rumah. Di halaman belakang ini ada kamar mandi, sumur, taman dan dapur. Konon, siapapun yang membasuh muka dengan air sumur tersebut, akan awet muda dan diberi keberuntungan. 
Halaman Belakang Ruman Pengasingan
Rumah Pengasingan Bung Karno ini menjadi situs bersejarah yang diresmikan oleh Bung Karno pada Minggu, 16 Mei 1954 ketika beliau menjadi Presiden RI pertama. Bung Karno pernah mengunjungi rumah ini pada tahun 1951,1954 dan 1957. Tahun 1952 rumah ini dijadikan Kantor Sosial Daerah Flores dan tempat bersidang DPRD Flores.

Rumah sederhana ini pernah mengalami perbaikan pada 2012 yang dilakukan pada sisi atap yang terbuat dari seng. Kemudian peremajaan warna dilakukan pada Februari 2017. Meski pernah perbaikan dan peremajaan, rumah dengan cat putih ini masih memperhatankan struktur aslinya. 

Rumah Pengasingan Bung Karno ini menjadi wisata sejarah di Ende yang banyak dikunjungi wisatawan maupun pejabat. Rumah ini masih terawat dengan baik dan perabotan masih ditata seperti dulu. Berjalan mengelilingi rumah pengasingan ini bagaikan dibawa mengenang kembali bagaimana perjalanan hidup Bung Karno pada waktu itu, hingga kemudian lahirlah cikal bakal dasar negara di Kota Ende yang dikenal dengan Pancasila. 
Cheers...

Tips Mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno :
  1. Jangan merusak, mengotori atau melakukan vandalisme di area situs Rumah Pengasingan Bung Karno Ende.
  2. Merupakan tempat bersejarah, jagalah sikap di area rumah. 
  3. Area rumah pengasingan ada di perkampungan yang padat. Jika hari libur khususnya libur nasional biasanya ramai. Pertimbangkan transportasi pribadi yang akan digunakan karena pastinya susah parkir.
  4. Lokasi Rumah Pengasingan Bung Karno tidak jauh dari Taman Perenungan Bung Karno, bisa sekalian dikunjungi dengan transportasi maupun jalan kaki.

Read More

Candi Borobudur - Sejarah Mahakarya Abad 9

Candi Borobudur. Siapa yang tidak mengenal Borobudur?, yang pernah menjadi salah satu keajaiban dunia?. Borobudur merupakan objek wisata berupa candi Budha terbesar di Indonesia sekaligus merupakan kuil dan monumen Budha terbesar di dunia. Keunikan dan sejarah yang menjadi daya tarik Candi Borobudur masih melekat di kalangan wisatawan. Tentunya ini menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia karena memiliki warisan sejarah yang luar biasa. Namun taukah bahwa Candi Borobudur yang megah ini adalah sebuah mahakarya pada jamannya?.
candi borobudur
Candi Borobudur
Candi Borobudur berada di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Letaknya 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km sebelah barat Surakarta, 40 km di barat laut Yogyakarta, 15 km ke arah selatan kota Magelang. Letak Candi Borobudur di atas Bukit Menoreh yang dikelilingi oleh gunung yaitu Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Selain untuk berziarah umat Budha, Borobudur menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik wisatawan dari dalam dan luar negeri. Candi Borobudur menjadi objek wisata yang ramai dikunjungi, juga menjadi pusat ibadat penganut Budha di Indonesia khususnya saat perayaan Waisak.

Sejarah Candi Borobudur

Pembangunan Candi Borobudur cukup misterius karena pada abad ke 7, manusia belum mengenal perhitungan arsitektur yang tinggi tapi Candi Borobudur dibangun dengan perhitungan arsitektur yang canggih. Banyak ilmuwan yang meneliti pembangunan Borobudur namun belum ada yang berhasil mengungkap sejarah pembangunan Candi Borobudur.
Sejarah Candi Borobudur
Candi Borobudur Masa Lalu
Didasari oleh penemuan suatu tulisan singkat yang dipahatkan pada pigura asli relief kaki candi (Karwa Wibhangga), Candi Borobudur diperkirakan didirikan oleh para penganut agama Budha Mahayana sekitar tahun 800-an masehi saat pemerintahan wangsa Syailendra. Tulisan itu menggunakan huruf palawa yang digunakan pada abad 8 M.

Sebuah Prasasti yang menceritakan sedikit tentang sejarah Borobudur. Bernama Prasasti Sri Kahulunan tahun 842 M menyebutkan "Kawulan i Bhumi Sambhara". Bhumi Sambara diduga nama lain dari Borobudur dan merupakan tempat untuk pemujaan. Tahun 1365 M, kitab Negarakertagama juga sedikit menyebut kata "Budur".

Baca : Candi Prambanan - Sejarah dan Legenda yang Menakjubkan

Diduga Candi Borobudur dirancang oleh arsitek pada masa itu bernama Gunadharma dan pembangunannya selesai ketika Dinasti Syailendra dengan Rajanya Samaratungga memerintah. Abad 8 merupakan abad kejayaan Wangsa Syailendra yang merupakan Wangsa kerajaan Budha. Ditemukannya candi-candi kecil di kaki dan lereng gunung yang mengitari Candi Borobudur, ditarik kesimpulan bahwa sejarah Candi Borobudur adalah dibangun oleh Wangsa Syailendra pada abad 8 M.

Candi Borobudur Warisan Dunia

Candi borobudur memiliki 10 tingkat yang terdiri dari 6 tingkat berbentuk bujursangkar, 3 tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah Stupa utama sebagai puncaknya. Terdapat beberapa stupa yang terdapat patung Budha di setiap tingkatnya yang seluruhnya berjumlah 72. Bangunan megah ini dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu.
bagian candi borobudur
Penampang Borobudur
Tiket Candi Borobudur untuk wisatawan domestik Rp.25.000. Wisata Candi Borobudur dibuka pada pukul 06.00 - 17.00. Untuk masuk ke kawasan objek wisata, wisatawan diwajibkan memakai sarung batik yang sudah disediakan. Menikmati Candi Borobudur tidak hanya berjalan naik ke tingkat teratas dan menyusuri lorongnya, Borobudur Sunrise dan Borobudur Sunset membuat keindahan lebih terasa dan menciptakan perasaan damai.

Selain bangunan candi yang megah ada sebuah musium di Borobudur yang patut dikunjungi. Disebut Musium Karmawibhangga, ini merupakan musium arkeologi di sebelah utara Candi Borobudur. Musium ini menampilkan gambar relief Candi Borobudur yang terukir pada kaki tersembunyi Borobudur, beberapa balok batu yang terlepas dan temuan artefak arkeologi di sekitar Borobudur. Terdapat juga Museum Samudra Raksa yang menampilkan Kapak Borobudur. Wisatawan tidak dipungut biaya apapun karena sudah termasuk dalam harga tiket.
Musium Karmawibhangga
Musium Karmawibhangga

Dalam sebuah musium Borobudur ada tayangan vidio meletusnya Gunung Merapi tahun 2010 yang memorak porandakan Jogja termasuk Candi Borobudur. Selain itu di musium ada juga jas terbesar sekitar 10 meter lebih tingginya, ada juga manusia kerdil, barang-barang kuno, kapal, dan lain sebagainya. Di sepanjang jalan menuju ke Candi Borobudur maupun jalan keluar area, akan melewati pasar-pasar yang menjual berbagai oleh-oleh khas Jawa Tengah dan juga aksesoris Candi Borobudur.
bioskop mini meletusnya gunung merapi
Bioskop Mini Vidio Meletusnya Merapi 2010

Selain Berkunjung ke Candi Borobudur, wisatawan pasti tidak akan menyayangkan untuk berkunjung ke Candi Prambanan yang merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun sebagai tandingan Borobudur pada masanya.



Read More

Taman Perenungan Bung Karno Ende - Tempat Lahirnya Butir Pancasila

Taman Perenungan Bung Karno. Pohon sukun mungkin tampak biasa tumbuh di kebun  atau halaman rumah, berbeda dengan pohon sukun di Ende yang memiliki nilai penting bagi bangsa Indonesia. Ya, pohon sukun yang berada di pusat Kota Ende tersebut menjadi saksi bisu serta pohon permenungan Presiden Pertama Ir.Soekarno dalam menemukan butir-butir Pancasila yang telah menjadi dasar negara. Kini, tempat tersebut diabadikan menjadi tempat wisata sejarah di Ende yaitu Taman Perenungan Bung Karno.
Taman Perenungan Bung Karno Ende
Taman Perenungan Bung Karno
Tempat wisata Taman Permenungan Bung Karno terletak di Kelurahan Kotaraja, Ende Utara, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Berada sekitar 300 meter dari Rumah Pengasingan Bung Karno. Taman Permenungan ini bersebelahan dengan Lapangan Pancasila (Lapangan Perse) dan Museum Tenun Ikat.

Kota Ende memang memiliki sejarah yang erat dengan presiden pertama Republik Indonesia Ir.Soekarno, karena disinilah Soekarno sempat diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda sebelum Indonesia Merdeka. Taman Perenungan Bung Karno ini sangat rindang, sejuk dan menenangkan. Dulu, di taman ini ada sebuah pohon sukun unik yang memiliki cabang dari bawah sebanyak lima. 

Dibawah pohon sukun inilah Soekarno kerap duduk untuk membaca buku, sambil menatap ke arah laut teluk Sawu. Dari pohon bercabang lima inilah Bung Karno mendapatkan inspirasi yang kelak disebut Pancasila. Namun, pohon sukun yang sekarang bukanlah pohon yang sama. Pohon yang lama sudah tumbang pada 1970 karena angin dan digantikan pohon baru sejak 17 Agustus 1981. Pohon itu kini berganti nama menjadi Pohon Pancasila.
Taman Perenungan Bung Karno Ende
Pohon Pancasila
Taman Perenungan Bung Karno di Ende ini sudah dipercantik, dimana disebelah pohon sukun terdapat patung bangku sepanjang 17 meter dan Bung Karno yang terbuat dari perunggu, yang dibangun di atas kolam air berukuran 8 x 45 meter. Ukuran tersebut menyesuaikan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Patung tersebut menggantikan patung lama Soekarno yang menggunakan pakaian kebesaran TNI.

Dulunya tempat ini bernama Taman Rendo yang berarti taman melepas rindu. Konon di taman ini Bung Karno kerap melihat ke arah pantai dan rindunya kepada keluarganya di Jawa menguat. Beliau rindu akan kemerdekaan dan rindu untuk lepas dari penjajah. Ende'pun menjadi tempat perkembangan penting dalam diri Bung Karno dari manusia 'singa podium' menjadi 'manusia perenung'. Kehidupan rakyat Ende yang berasal dari suku bangsa dan agama, tetapi hidup rukun, telah menjadi inspirasi Soekarno dan menjadi bahan renungannya setiap hari di bawah pohon sukun. 
Taman Perenungan Bung Karno Ende
Area Taman Perenungan Bung Karno
Sedangkan Lapangan Pancasila dulunya adalah satu-satunya stadion sepak bola yang disebut Lapangan Perse (Persatuan Sepak Bola Ende) yang terkenal pada tahun 1970'an. Dulu setiap puncak pertandingan antar klub atau kabupaten pasti digelar di lapangan ini. Tempat yang memiliki sejarah dengan munculnya Pancasila ini kemudian menjadi Lapangan Pancasila pada 1 Juni 2013 bertepatan peresmian patung Bung Karno oleh Wakin Presiden Boediono. 


Catatan Sejarah Pembuangan Soekarno ke Ende

Pancasila memang tidak muncul tiba-tiba, tetapi dari permenungan Bung Karno selama diasingkan di Ende. Sejarah menyebutkan bahwa Ir. Soekarno pernah dibuang ke Ende, Pulau Flores pada tahun 1934 hingga 1938. Pada 14 Januari 1934, Bung karno dan istrinya Inggit Garnasih, ibu mertuanya ibu Amsi dan anak angkatnya Ratna Djuami tiba di rumah tahanan di Kampung Ambugaga, Ende. Penjajah Belanda memang sengaja membuangnya ke tempat terpencil agar terputus hubungan Soekarno dengan para loyalitasnya. Namun di tempat pengasingan, Soekarno lebih banyak berfikir, mempelajari agama Islam, belajar pluralisme hingga bergaul dengan para pastor di Ende. (Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara)

Tempat favorit Soekarno adalah di bawah pohon sukun. Selain kerap merenung di bawah pohon sukun, tokoh proklamator ini juga sering bermain bola dengan masyarakat setempat. Ketika lelah, dia duduk di bangku kecil di bawah pohon sukun berbatang lima. Dia melihat cabang-cabang sukun dan mulai berpikir tentang Indonesia hingga menemukan konsep dasar Pancasila. 
Taman Perenungan Bung Karno Ende
Patung Bung Karno Merenung
Rumusan Pancasila Soekarno ini kemudian masih dimusyawarahkan dengan berbagai tokoh nasional yang kemudian dijadikan lima sila yang dikenal sebagai Piagam Jakarta yang lahir pada 22 Juni 1945. Sempat mengalami penghalusan bahasa, jadilah Pancasila yang seperti sekarang ini.  Nama Pancasila diambil dari dua kata Sansekerta, panca berarti lima dan sila berarti prinsip atau asas.


"Di kota ini kutemukan lima butir mutiara, di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila" _Ir. Soekarno

Tips wisata di Taman Perenungan Bung Karno :

  1. Tempa wisata sejarah Taman Perenungan Bung Karno ini cukup ramai sehingga lokasi parkir juga ramai. Bisa parkir di dalam lapangan Pancasila jika tidak ada tempat.
  2. Sebagai taman yang bernuansa sejarah, jagalah sikap dengan tidak naik di patung bangku dan patung Bung Karno.
  3. Jagalah kebersihan di area wisata dan jangan melakukan vandalisme.
  4. Meski tidak terawat, jagalah kebersihan di kawasan Musium Tenun Ikat yang bersebelahan langsung dengan Taman Perenungan Bung Karno. 


Read More

Menelusuri Temuan Baru Situs Candi Gambar Wetan Blitar

Candi Gambar Wetan Blitar. Menelusuri peninggalan sejarah kerajaan memang sangat menarik, terlebih jika berhubungan dengan Kerajaan Majapahit. Selain di Trowulan, situs-situs peninggalan kerajaan terbesar di nusantara ini tersebar di beberapa daerah, salah satunya di Blitar, Jawa Timur. Kota proklamator ini tidak hanya memiliki Candi Penataran, tetapi candi-candi lain seperti Candi Sawentar, Candi Kotes, Candi Simping dan sebagainya. Salah satu tempat yang sangat menarik adalah Candi Gambar Wetan. Kenapa?, karena penggalian yang terus dilakukan telah menemukan struktur candi yang lebih luas.
Candi Gambar Wetan Blitar
Candi Gambar Wetan
Candi Gambar Wetan terletak di Desa Gambar, Kec.Nglegok, Kabupaten Blitar (-7.968139,112.238087) . Berada sekitar 19 kilometer ke arah utara pusat Kota Blitar. dan sekitar 7 kilometer ke arah utara Candi Penataran. Untuk menuju Candi Gambar Wetan, rutenya tidak mudah, tetapi akses jalannya yang cukup susah. Rute Candi Gambar Wetan cukup mengikuti rute ke tempat wisata Bukit Teletubbies, nanti ada petunjuk ke arah candi.

Ada dua rute alternatif untuk menjuju Candi Gambar wetan :
  1. Pertigaan Kantor Desa Penataran - Pacuh - DAM Kali Bladak - Perkebunan Gambar - Candi.
  2. Penataran - Kedawung - Sumberasri - Pertigaan Garuda ke kanan - Perkebunan Gambar - Candi

Lokasi Candi Gambar Wetan letaknya memang tersembunyi di dalam perkebunan, tetapi sudah ada jalur yang bisa dilalui untuk sampai ke lokasi. Candi Gambar Wetan berada di atas bukit, di sebelah selatan Gunung Kelud dan juga di sebelah aliran lahar Gunung Kelud. Tak heran jika jalan yang harus dilalui cukup berpasir, sempit dan berkelok. 

Sekilas Tentang Candi Gambar Wetan

Candi Gambar Wetan Blitar
Area Depan Candi Gambar Wetan
Candi Gambar Wetan merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit di masa pemerintahan Tribuana Tunggadewi yang kemudian diwariskan kepada Hayam Wuruk untuk pemujaan Gunung Kelud. Candi Gambar Wetan dipercaya juga menjadi tempat peristirahatan Hayam Wuruk dan Raja Majapahit lain dalam perjalanannya menuju Gunung Kelud dan Candi Penataran

Area Candi Gambar Wetan memiliki luas sekitar 6.600 meter2. Awal mula ditemukannya situs candi adalah ketika petugas perkebunan mencangkul tanah dan mengenai sisi candi, kemudian ditemukan arca. Setelah itu mulai dilakukan penggalian pertama pada tahun 1992. Menurut petugas, di Candi Gambar Wetan pernah ditemukan  relief Werkudara di Dam Sangiran, tetapi sebelum diresmikan pemerintah, banyak penjarahan oleh warga sekitar. Sebelumnya, ketika penjajahan Belanda, penjarahan juga terjadi untuk dijadikan pajangan di rumah Direksi Kebesaran, tetapi kini relief telah diambil dan diamankan ke museum.  


Ekskavasi Candi Gambar Wetan

Candi Gambar Wetan Blitar
Area Penggalian 2018
Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, mendokumentasikan ekskavasi Candi Gambar Wetan sebagai berikut :
  1. 1992 : Penggalian pertama ditemukan struktur anak tangga.
  2. 2012 : Ekskavasi tahap I 
  3. 2014 : Ekskavasi tahap II
  4. 2015 : Ekskavasi tahap III
  5. 2016 : Ekskavasi tahap IV dilakukan berdasarkan hasil temuan dan Test Pit tahun 1992, tetapi ternyata struktur tangga baru berbentuk batur.
  6. 2017 : Penggalian teras pertama, ditemukan arca Dwarapala.
  7. 2018 : Penggalian pada 19 - 28 Februari 2018 ditemukan pasangan arca dari penggalian 2017 serta struktur bangunan utama candi.
  8. 2020 : Rencana akan dikupas tunttas tentang struktur area Candi Gambar Wetan.


Area Candi Gambar Wetan terbilang asri. Sebuah pohon pule besar  yang tampak sangat tua menjadikan area candi teduh, ditambah beberapa tanaman mawar dan rumput hijau yang tumbuh segar. Area-area disekitar candi juga terawat dengan baik. Area di sekitar struktur tangga candi hingga candi utama adalah lokasi penggalian yang selama ini dilakukan hingga sekarang dan kedepannya.

Berikut area Candi Gambar Wetan :

1. Struktur Tangga Candi
Tepat di bawah pohon pule, ada tangga candi yang menjadi struktur utama di area Candi Gambar Wetan, sekaligus sebuah jalan untuk naik ke bukit dimana terdapat candi utama. Di bawah tangga ada satu arca, tetapi pasangannya ada di luar pagar area candi dan masih digunakan untuk ritual oleh masyarakat sekitar.
Candi Gambar Wetan Blitar
Pasangan Arca Tangga Candi

2. Teras Candi Pertama
Setelah menaiki tangga yang cukup tinggi, area candi mulai tampak. Sebuah teras candi dengan arca di kanan kirinya menjadi candi pertama yang akan dijumpai. Disini terdapat dua arca Dwarapala. Masyarakat sekitar menyebut arca ini sebagai Arca Mbah Bodo dan Arca Mbah Dewo.
Candi Gambar Wetan Blitar
Teras Pertama Candi

3. Teras Candi Kedua
Teras berikutnya masih berupa area penggalian yang didalamnya terdapat struktur candi yang tidak jauh beda dengan teras candi pertama. Terdapat dua buah arca Dwarapala yang masing-masing ditemukan pada penggalian tahun 2017 dan tahun 2018. Di area ini juga terdapat batuan candi yang menyertakan angka tahun. Menurut juru kunci  tahun tersebut adalah tahun 1279 yaitu ketika jaman Kerajaan Majapahit. 
Candi Gambar Wetan Blitar
Penggalian Teras Kedua 2017 - 2018

4. Candi Utama
Candi utama ada di area paling belakang. Jika sebelumnya hanya ada satu bangunan candi tempat penyucian di sisi paling kanan, kini setelah penggalian baru yang berakhir pada 28 Februari 2018, ditemukan struktur candi di tengah dan di sebelah kiri yang dianggap sebagai candi utama. Dengan ditemukannya struktur candi utama yang memiliki luas 8 meter2, keutuhan situs ini semakin membuat arkeolog maupun masyarakat sekitar bertanya-tanya, sebenarnya seberapa besar situs Candi Gambar Wetan ini?, karena jika diperhatikan dengan jelas, di sepanjang jalan setapak menuju area candi, juga tampak susunan batu menyerupai anak tangga. Hm... sepertinya area Candi Gambar Wetan ini sebenarnya sangat luas. 
Candi Gambar Wetan Blitar

Candi Gambar Wetan Blitar

Candi Gambar Wetan Blitar

Candi Gambar Wetan Blitar
Potongan Kaki dan Angka Tahun
Banyaknya struktur bangunan yang masih terpendam, bebatuan candi masih diletakkan ala kadarnya di area penggalian. Ada beberapa bagian yang rusak dari bangunan yang telah runtuh ini. Di bagian sisi batuan candi terdapat relief menarik yang belum terkuak jalan ceritanya.

Candi Gambar Wetan menjadi salah satu tempat wisata sejarah yang sangat menarik bagi arkeolog maupun masyarakat sebagai sarana edukasi. Selain itu, adat budaya masyarakat sekitar juga masih dilakukan di area candi, seperti ritual mantu, syukuran bersih desa dan tolak bala. Kini tinggal menunggu waktu bagaimana sejarah Candi Gambar Wetan perlahan akan terkuak.
Candi Gambar Wetan Blitar
Struktur Tangga Candi

Tips Wisata ke Candi Gambar Wetan Blitar :

  1. Area jalan yang cukup terjal dan sempit, sebaiknya menggunakan kendaraan roda 2. Pastikan kendaraan yang digunakan dalam kondisi fit.
  2. Ketika musim hujan, jalan cukup becek, gunakan sandal anti selip.
  3. Jika tempat wisata sepi, pagar area candi digembok. Biasanya masyarakat sekitar masuk lewat pintu timur arah sungai aliran lahar di dekat arca.
  4. Untuk pos perijinan membayar dengan sukarela. 
  5. Jangan merusak area candi termasuk tempat penggalian maupun relief yang baru saja ditemukan.
  6. Jangan mengotori area candi dan melakukan vandalisme.

Read More

Legenda dan Sejarah Gunung Semeru

Legenda dan Sejarah Gunung Semeru. Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 mdpl dan masuk dalam daftar 7 Summit Indonesia, sekaligus menjadi gunung berapi tertinggi ke-3 di Indonesia. Gunung aktif bertipe stratovolcano ini sudah pasti sangat dikenal para pecinta alam khususnya pendaki gunung nusantara, karena selain fenomena meletus tiap 20 menit sekali yang bisa disaksikan langsung, Gunung Semeru memiliki pesona alam mempesona berupa Danau Ranu Kumbolo. Namanya yang populer di kalangan pecinta alam, bahkan wisatawan mancanegara, Gunung Semeru memiliki legenda menarik yang perlu untuk diketahui.
Legenda dan Sejarah Gunung Semeru
Gunung Semeru
Gunung Semeru berada di dua wilayah yaitu Kabupaten Malang dan Lumajang. Gunung Semeru masuk di dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang kaya akan budaya suku Tengger yang menjadi daya tarik utama wisatawan. 

Selain menyimpan keindahan panorama, Gunung Semeru menyimpan sejarah penting bagi umat Hindu. Gunung Semeru memiliki tempat khusus bagi umat Hindu dan Budha di Indonesia karena dianggap sebagai gunung suci yang berada di India. Gunung Semeru sendiri berasal dari bahasa sansekerta yang berarti Sumeru 'Meru Agung'. Semeru juga diartikan sebagai 'Lingga Acala'. Lingga berarti "tidak bergerak ; sesuatu bukan ciptaan manusia", dan Acala berarti "gunung ; karang".

Penjelajah Awal Semeru

Bagaimana pesona alam Gunung Semeru diketahui para petualang?. Yah, tentu ada orang di dunia yang pernah menjelajahi Gunung Semeru hingga kemudian terbentuk jalur pendakian resmi yang kini bisa dengan mudah dilalui oleh para petualang. Jauh sebelumnya, Gunung Semeru memang pernah didaki oleh beberapa orang, yaitu :
  1. 1838 : Clignet, ahli geologi asal Belanda mendaki Gunung Semeru untuk pertama kalinya lewat jalur pendakian Widodaren. Dia adalah orang pertama yang mendaki Gunung Semeru.
  2. 1911 : Van Gogh dan Heim, mendaki Gunung Semeru lewat lereng utara yang kini dikenal dengan jalur Ranupane.
  3. 1945 : Junhuhn, ahli botani asal Belanda melakukan pendakian pertama Gunung Semeru lewat jalur pendakian Ayek-ayek.
Setelah 1945, Pendakian Gunung Semeru pada umumnya dilakukan lewat jalur Ranu Pane.

Legenda Gunung Semeru

Dalam kitab Tantu Panggelaran pada abad 15, konon keadaan bumi miring karena Gunung Meru di India terlalu berat. Pulau Jawa menjadi tidak stabil. Terapung di lautan luas dan terombang-ambing karena ombak yang begitu ganas. Melihat pulau yang tidak menentu tersebut, para Dewa bersepakat untuk memaku Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke Pulau Jawa. Untuk melakukan tugasnya, para Dewa merubah dirinya. Dewa Wisnu menjelma sebagai kura-kura raksasa, Dewa Brahma menjelma sebagai ular yang sangat penjang. 
Legenda dan Sejarah Gunung Semeru
Legenda Gunung Semeru
Gunung Meru diletakkan di punggung kura-kura raksasa, sedangkan ular panjang bertugas melilit mereka agar tidak jatuh selama perjalanan. Sesampainya di pulau Jawa, Gunung Semeru diletakkan di bagian barat pulau Jawa, tetapi tidak seimbang karena bagian timur terangkat ke atas. Akhirnya para dewa memindahkan Gunung Meru ke timur. Saat membawanya ke timur, bagian Gunung Meru tercecer dan membentuk barisan pegunungan dari barat ke timur. Meski begitu, pulau Jawa masih tetap miring. Akhirnya para dewa memotong sebagian gunung dan menempatkannya di bagian barat laut.

Konon, penggalan Gunung Meru ini membentuk Gunung Penanggungan atau Gunung Pawitra. Sedangkan bagian utama gunung dikenal dengan nama Gunung Semeru dan dipercaya sebagai tempat bersemayam Dewa Siwa. Dikatakan juga dalam teks-teks "purana" India yang tergolong kitab Upaweda bahwa tuhan mahatunggal yang bersemanyam di puncak Mahameru dikenal sebagai Gunung Himawan atau Kailasa yang bersaljut abadi. Disanalah Dewa Siwa menurunkan ajaran-ajarannya kepada Dewi Parwati, Sang Dewi gunung. Sementara Pulau Jawa adalah nama yang diberikan dewa Siwa karena pulau ini dulunya banyak ditumbuhi pohon Jawawut.

Semeru Sebagai Gunung Suci

Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java, menyebut kata Semiru (Gunung Semeru) dan diyakini bahwa pemerintahan tertua di tanah Jawa berada di kaki Gunung Semeru bernama Giling Wesi yang didirikan oleh Tritresta sebagai penguasa pertama. 

Semeru disebutkan dalam prasasti Pasrujambe di Kabupaten Lumajang bahnwa dulu daerah tersebut merupakan padepokan dan tempat tinggal resi, tepatnya di Dusun Munggir. Resi Pasopati adalah penyebar Hindu di Jawa yang disebut-sebut moksa di Gunung Semeru

Menurut masyarakat Hindu di Bali dan Jawa, pemindahan Gunung Meru merupakan pemindahan kayangan para dewa dan nilai-nilai luhur dalam agama Hindu, karena sebelum dipindahkan, Gunung Meru dipercaya sebagai tempat bersemayamnya para dewa sekaligus tempat terhubungnya bumi dan kahyangan. Sampai sekarang'pun Gunung Semeru diyakini sebagai tempat abadi para dewa. 
Legenda dan Sejarah Gunung Semeru
Pura Mandhara Giri Semeru Agung
Menurut masyarakat Bali, Gunung Semeru juga dipercaya sebagai bapak dari Gunung Agung. Untuk menyembah para dewa, umat Hindu Bali dan umat Hindu Tengger mendirikan Pura Mandhara Giri Semeru Agung. Upacara sesaji kepada dewa-dewa di Gunung Semeru tiap 8-12 tahun sekali dilakukan orang Bali hanya ketika ada yang menerima suara gaib dari dewa Gunung Semeru

Arcopodo

Dikenal sebagai gunung suci, Gunung Semeru tentu memiliki misteri yang menyelimutinya, salah satunya adalah Arca Pada. Arcopodo dikenal sebagai pos terakhir dalam Pendakian Gunung Semeru. Nama Arcopodo ini berasal dari kata 'arca' dan 'pada' yang berarti 'arca yang sama'. Konon, Arca Pada ini menjaga sebuah gapura gaib yang hanya bisa dilihat oleh orang tertentu yang memiliki ilmu tinggi alam gaib.
Norman Edwin, 1984.
Arcopodo pertama kali ditemukan oleh Norman Edwin dan Herman O Lantang, mapala Universitas Indonesia tahun 1984. Dua tahun kemudian, Norman kembali ke tempat dua arca dan menuliskannya temuannya di majalah Swara Alam tahun 1986 dan setelah itu Arca Pada tidak diketahui keberadaanya seolah hilang secara misterius. Namun, pada November 2011 ketika Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas melakukan penelusuran untuk membuktikan keberadaan arca yang dianggap hilang lebih dari seperempat abad itu, ternyata kedua arca tidak pernah hilang dan tetap di tempatnya. Sepasang arca ini tepat menghadap ke utara, dimana tepat menghadap puncak Mahameru. 
Legenda dan Sejarah Gunung Semeru
Arca Pada
Menurut penduduk sekitar, jalur pendakian saat itu memang dirubah ke jalur baru seperti sekarang untuk melindungi keberadaan arca dari orang-orang tak bertanggung jawab. Selain itu juga terjadi kerusakan jalur karena perubahan kondisi alam, sehingga jalur baru dibuat. Keberadaan arca kembar ini tentu saja berhubungan dengan Gunung Semeru sebagai gunung suci bagi umat Hindu. 

Merujuk dari buku karya Prof. Soekmono, Arcopodo adalah Arca perwujudan dari Dewa Kala dan Anukala yang mempunyai tugas untuk menjada gerbang gapura candi pada gapura sebelah barat. Sedangkan bagian timur dijaga oleh Dewa Gana, gapura selatan dijaga oleh Dewa Agasti dan gapura utara dijaga oleh Dewa Gauri  (Dr. Pigeaud 1924:96-97). 

Menurut Dwi Cahyono, salah satu dosen arkeolog Universitas Negeri Malang, Arcopodo diperkirakan peninggalan jaman kerajaan Majapahit. Menurutnya kata Arcopodo juga berasal dari kata Arca dan Pada yang artinya 'tempat arca'. Salah satu arca kemungkinan adalah sosok salah satu dari pandawa, yaitu Bima karena badan dan tangannya mirip dengan foto arca Bima. Bima adalah perwujudan tokoh tolak bala dan dalam hal ini Bima bertugas menghalau bencana dari puncak Gunung Semeru yang aktif.

Arcapada bisa diartikan sebagai Adam - Hawa dan Kamajaya - Kamaratih (Hindu). Dalam kepercayaan Hindu, Kamajaya dan Kamaratih memulai kehidupan dari Sumber Mani, sumber air di bawah Arcapada. Sesuai namanya, Sumber Mani merupakan awal mula adanya kehidupan atau kehidupan selanjutnya. Sumber Mani adalah air suci pertama paling tinggi, kemudian turun menjadi Ranu Kumbolo, Ranu Pani, Ranu Regulo, Watu Klosot dan terakhir Selokambang.

Kini Gunung Semeru semakin dikenal oleh banyak petualang yang mencapai ratusan pendaki tiap minggunya. Sebagai tempat yang suci, sudah sepantasnya pendakian ke Gunung Semeru dilakukan dengan tidak melanggar aturan yang sudah dibuat oleh pihak taman nasional. Selain itu, menjaga sikap dan perilaku di gunung ini ataupun gunung yang lain juga harus dilakukan.

Read More