Tampilkan postingan dengan label Misteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Misteri. Tampilkan semua postingan

Sejarah, Legenda dan Mitos Danau Tiga Warna Kelimutu

Danau Tiga Warna Kelimutu. Danau Kelimutu sangat populer karena menjadi buah bibir para wisatawan domestik dan mancanegara. Keunikah dan keindahan danau fenomenal ini membuat siapapun tak segan mengunjungi Flores untuk melihat kebenaran mitos bahwa air danaunya bisa berubah-ubah. Banyak yang mengaitkan perubahan air danau dengan mitos yang berkembang di masyarakat sekitar. Danau berketinggian 1.639 mdpl ini memiliki sejarah, asal-usul dan mitos yang cukup menarik untuk diketahui. Selain memiliki pesona alam yang indah, tentu tidak lengkap jika tidak tahu 'sesuatu' tentang Danau Kelimutu. 
Danau Tiga Warna Kelimutu
Danau Kelimutu


Read More

Misteri Gunung Slamet dan Mitos Terbelahnya Pulau Jawa

Misteri Gunung Slamet dan Mitos Terbelahnya Pulau Jawa. Gunung Slamet merupakan gunung berapi tertinggi ke-2 di Jawa setelah Gunung Semeru dengan tinggi 3.428 mdpl. Nama Gunung Slamet selama ini memang menunjukkan suatu keagungan dan itu tidak lain karena adanya asal usul dan berbagai cerita kuno yang beredar di masyarakat. Selain menampilkan pesona alam yang indah, konon ada mitos dan kisah misteri Gunung Slamet yang dipercaya oleh masyarakat sekitar maupun pendaki yang pernah mendaki di gunung tertinggi di Jawa Tengah ini.
Gunung Slamet
Gunung Slamet adalah yang pertama dari 10 Gunung Tertinggi di Jawa Tengah. Berada di perbatasan kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, Tegal dan Pemalang, Provinsi Jawa Tengah.  Banyaknya misteri yang beredar membuat Gunung Slamet dicap sebagai salah satu gunung angker oleh para pendaki.

Asal Usul Gunung Slamet

1. Nama Gunung Slamet
Asal-usul nama Gunung Slamet diambil dari bahasa Arab yang artinya membawa selamat. Sedangkan dalam bahasa Sunda, Gunung Slamet biasa disebut dengan Gunung Agung. Oleh masyarakat sekitar, Gunung Slamet - sesuai namanya dipercaya membawa berkah, keselamatan dan ketentraman. Nama Slamet diberikan karena gunung ini dipercaya tidak pernah meletus besar meski kondisinya tidak pernah diam.

2. Baturaden dan Pancuran Tujuh
Masyarakat sekitar mempercayai asal - usul Gunung Slamet yang ditemukan oleh seorang pangeran dari negeri Rum-Turki bernama Syeh Maulana Maghribi yang merupakan salah seorang penyebar agama Islam di Jawa.

Konon saat fajar menyingsing, Syeh Maulana melihat cahaya misterius menjulang di angkasa yang membuatnya tergerak untuk menyelidiki. Pangeran ditemani oleh ratusan pengawal dan pengikut setianya, Haji DatukMereka berlayar ke arah cahaya tersebut. Setelah sampai di Gresik, Jawa Timur, cahaya itu tiba-tiba muncul di sebelah barat, lalu mereka pun berlayar ke arah barat dan tiba di pantai Pemalang, Jawa Tengah.

Di Pemalang, Syeh Maulana bersama Haji Datuk berjalan ke selatan sambil menyebarkan agama Islam. Saat cahaya melewati daerah Banjar, Syeh Maulana menderita gatal di seluruh tubuh dan sulit disembuhkan. Hingga ketika sholat malam, pangeran mendapat ilham untuk pergi ke Gunung Gora.
Baca Juga : 
Di Gunung Gora, pangeran menyuruh Haji Datuk meninggalkannya dan menunggu di suatu tempat yang mengeluarkan kepulan asap dan ternyata di daerah tersebut terdapat sumber air panas dengan tujuh buah pancuran. Di lokasi inilah Syeh Maulana berobat dengn mandi secara teratur hingga akhirnya penyakit yang dideritanya sembuh. Akhirnya pangeran menamai tempat ini 'Pancuran Tujuh'
Pancuran Tujuh
Lalu Syeh Maulana memberi gelar Haji Datuk dengan sebutan Rasuludi yang dalam bahasa jawa berarti Batur Kang Adi (Abdi yang setia). Kemudian desa itu dikenal dengan nama 'Baturadi' yang lama-kelamaan menjadi 'Baturaden'

Itulah cerita asal-usul Gunung Slamet dari masyarakat di kawasan Baturaden, Purwokerto, Jawa tengah yang juga merupakan salah satu jalur pendakian.

Mitos Gunung Slamet

Gunung Slamet merupakan salah satu pusat pemersatu wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Bila dilihat dari letak geografi, Gunung Slamet membentang dari utara ke selatan yang dikelilingi 5 wilayah kabupaten yang berbatasan langsung. Jika dilihat di peta, kondisi ini membentuk suatu garis lurus dari utara ke selatan.
Peta Gunung Slamet
Sejak pertama meletus, Gunung Slamet tidak pernah diam. Letusan gunung Slamet akan membentuk rekahan besar yang membujur dari laut utara ke selatan yang akan diisi air laut hingga menyatu, sehingga wilayah barat dan timur akan menjauh. Mitos Gunung Slamet yang letusannya bisa membelah pulau jawa kerapkali menghantui masyarakat yang percaya. 

Menurut ramalan Sri Aji Joyoboyo yang hidup di awal abad ke-12, pulau Jawa akan terbelah dua akibat amblesnya permukaan tanah yang membujur dari laut utara hingga laut selatan. 
Letusan Gunung Slamet


Misteri Gunung Slamet

Masyarakat sekitar maupun pendaki tentu tidak asing dengan anggapan 'angker' Gunung Slamet. Beberapa legenda mistis ada di dalamnya yang menjadi bumbu cerita di setiap pendakian.

1. Puncak Surono

Merupakan gunung yang masih aktif, Gunung Slamet mempunyai kawah besar yang bernama Segara Wedi (lautan pasir). Puncak Gunung Slamet bernama puncak Surono. Menurut warga sekitar, konon dulu ada seorang pendaki bernama Surono yang meninggal di puncak Gunung Slamet karena jatuh ke jurang dan untuk menghormatinya, terdapat tugu penghormatan di atas puncak Gunung Slamet yang disebut puncak Surono.

2. Makhluk Kerdil

Misteri Gunung Slamet yang tak asing lainnya adalah adanya makhluk kerdil di jalur pendakian Gunung Slamet via Guci. Konon makhluk tersebut dulunya adakan  pendaki yang tersesat dan mencoba bertahan hidup dengan memakan daun hingga lama-kelamaan kehilangan jati dirinya sebagai manusia.

3. Pos Samarantu

Pos 4 - Samarantu berasal dari kata 'Samar' dan 'Hantu' yang cukup terkenal di jalur Pendakian Gunung Slamet via Bambangan. Konon banyak makhluk gaib yang akan mengganggu pendaki jika bermalam di pos ini. Pos ini dinamakan Samarantu karena adanya hantu yang samar-samar akan menyerupai manusia ketika mengganggu para pendaki.
Pos 4 - Samarantu


4. Air Terjun Guci

Air Terjun Guci di lereng Gunung Slamet, Slawi merupakan objek wisata sejuk dan nyaman. Konon airnya bisa menyembuhkan berbagai macam sakit kulit. Di balik air terjun Guci dipercaya sebagai sarang siluman Naga Cerek. Banyak yang memanfaatkan sebagai tempat olah batin maupun mencari pusugihan. Juru kunci setempat bisa menyampaikan permintaan pesugihan kepada Naga Cerek dengan ritual khusus yang wajib dilakukan malam Jum'at Legi dan Selasa Kliwon. Namun pesugihan ini tentu ada syaratnya yaitu nyawa anggota keluarga. Banyak pemandu wanita yang siap memberikan jawa pada setiap tamu yang lebih baik tidak dilakukan.
Air Terjun Guci
Itu adalah beberapa misteri di Gunung Slamet. Sampai sekarang masih belum jelas kenapa pendaki Surono begitu dihormati, lalu kenapa hanya pos samarantu yang terkenal angker dan bagaimana asal usul air terjun guci.

Semua itu tetap menjadi misteri Gunung Slamet yang belum terkuak dan semoga saja berdasarkan misteri yang cukup mistis bisa membuat setiap pendaki tidak berlaku yang menyimpang selama melakukan pendakian.


Baca Juga : 
Pendakian Gunung Wilis 2.300 mdpl via Bajulan

Sejarah Letusan Tambora - "Pompeii Dari Timur"
Menelisik 3 Pesona Gunung Papandayan yang Eksotis

Read More

Legenda Dewi Anjani dan 10 Misteri Gunung Rinjani

Asal Usul Gunung Rinjani Lombok. Siapa yang tidak mengenal Gunung Rinjani?. Gunung di dalam deretan 7 Summit Indonesia ini mendapat predikat sebagai gunung terindah di Indonesia. Gunung Rinjani memiliki pemandangan alam yang sangat luar biasa. Savana, hutan, bukit, danau dan air panas membentuk perpaduan yang luar biasa di dalam Taman Nasional Gunung Rinjani. Kecantikan Gunung Rinjani tidak jauh berbeda dengan Dewi Anjani - dewi cantik penguasa gunung berapi berketinggian 3.726 mdpl ini. Asal-usul Gunung Rinjani'pun dikaitkan dengan kisah legenda Dewi Anjani.
Asal Usul Gunung Rinjani Lombok
Gunung Rinjani
Gunung Rinjani terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Taman Nasional Gunung Rinjani memiliki luas sekitar 41.300 Ha (diusulkan penambahannya menjadi 76.000 Ha). Di sebelah barat puncaknya terdapat kaldera memanjang ke timur dengan luas sekitar 3.500 m x 4.800 m dan di kaldera ini terdapat Danau Segara Anak seluas 11 km persegi dengan kedalaman 230 m.

Gunung Rinjani dikenal karena alamnya yang memikat mata. Nama yang cantik memang sepadan dengan pemandangan alamnya yang mempesona. Kecantikan Gunung Rinjani tidak lepas dari Legenda Dewi Anjani yang dipercaya sebagai penguasa Gunung Rinjani. Siapakah Dewi Anjani dan apa hubungannya dengan Gunung Rinjani?

Legenda Dewi Anjani

Salah satu legenda Dewi Anjani menurut cerita rakyat Lombok, Dewi Anjani adalah anak dari Resi Gotama dan Dewi Windradi. Dia mempunyai dua saudara yaitu Guwarsa (Subali) dan Guwa Resi (Sugriwa). Hubungan gelap dari Dewi Windradi dan Bhatara Surya membuat Bhatara Surya memberikan pusaka kedewataan Cupumanik Astagina pada Dewi Windradi dengan syarat tidak boleh ditunjukkan pada siapapun walaupun anaknya sendiri.

Karena rasa sayang yang begitu besar, Dewi Windradi memberikan pusaka Cupumanik kepada Dewi Anjani. Dewi Anjani terpergok kedua saudaranya ketika mencoba pusaka tersebut, hingga terjadi keributan. Akibat kesalahan kecil dari Dewi Anjani, hubungan Dewi Windradi'pun terbongkar. Resi Gotama yang marah mengutuk Dwi Windradi menjadi batu dan melempar pusaka sakti ke udara yang diperebutkan ketiga anaknya. Cupu itu terbelah menjadi dua dan menjadi telaga. Mereka bertiga yang menyentuh telaga itu langsung terkutuk menjadi kera. Resi Gotama'pun menyuruh mereka untuk bertapa untuk menebus dosa.

Suatu ketika Batara Guru melewati Telaga Madirda, Dieng - tempat Dewi Anjani bertapa. Melihatnya kurus kering, dilemparkannya dedaunan sinom di pangkuan Dewi Anjani. Dewi Anjani memakannya dan karena daun itu, dia langsung hamil. Bayi yang dilahirkan berwujud kera putih yang diberi nama Hanoman.
Asal Usul Gunung Rinjani Lombok
Dewi Anjani
Cerita rakyat Lombok tersebut tidak diketahui secara jelas bagaimana hubungan Dewi Anjani dengan Gunung Rinjani. Legenda Dewi Anjani justru lekat kaitannya dengan Telaga Madirda di Dataran Tinggi Dieng. Mungkin ada legenda Dewi Anjani yang lain? Who knows?.

Asal Usul Gunung Rinjani

Asal usul Gunung Rinjani yang paling populer adalah kisah Datu Tuan. Konon dahulu di dekat Pelabuhan Lembar terdapat Kerajaan Tuan yang dipimpin Raja bernama Datu Tuan bersama permaisurinya Dewi Mas. Meski kerajaannya makmur, raja sering bersedih karena usia semakin tua belum dikaruniai anak. Suatu hari raja memohon pada istrinya untuk menikah lagi agar mereka bisa memiliki anak pewaris kerajaan. Setelah permaisuri setuju, raja meminang seorang gadis bernama Sunggar Tutul.

Sejak itu perhatian raja terhadap Dewi Mas berkurang. Kesabaran Dewi Mas mendapatkan balasan dari Yang Maha Kuasa, dia akhirnya mengandung. Kabar ini mengejutkan Sunggar Tutul sehingga dia merencanakan hasutan untuk Dewi Mas dengan mengatakan bahwa anak yang dikandung hasil dari hubungan gelap dengan Lok Deos. Raja yang murka segera mengusir Dewi Mas dari istana.

Dewi Mas dan pengiringnya membangun pemukiman di sebuah gili. Pada suatu hari datanglah nahkoda yang berlabuh ke gili dan menemukan Dewi Mas. Setelah bercerita, Dewi Mas meminta nahkoda mengantarkannya ke Bali. Akhirnya Dewi Mas dan pengikutnya membangun pemukiman baru di Bali. Dewi Mas melahirkan dua anak kembar dengan keajaiban. Seorang bayi laki-laki lahir dengan sebilah keris, diberi nama Raden Nuna Putra Janjak. Sedangkan bayi perempuan lahir dengan anak panah, diberi nama Dewi Rinjani.

Beranjak dewasa, Dewi Mas menceritakan kisahnya kepada kedua anaknya. Mengetahui bahwa ayahnya telah mengusir ibunya, Raden Nuna Putra Janjak sangat marah dan bersama pengiringnya berlayar ke Lombok. Sampainya di istana, terjadi keributan antara Raden Nuna Putra Janjak dengan penjaga. Dengan keris di tangannya, Raden Nuna sangat sakti hingga Datu Tuan harus turun tangan. Ketika mereka bertarung, terdengar suara dari langit yang mengatakan bahwa Raden Nuna adalah anak kandungnya. Datu Tuan menangis dan menyesal, kemudian segera menjemput permaisuri ke Bali.

Akhirnya mereka kembali ke istana, tiada dendam dengan Sanggar Tutul dan hidup damai. Datu Tuan menyerahkan tahta kerajaan kepada Raden Nuna Putra Janjak. Kemudian, Datu Tuan menyepi di gunung diiringi Dewi Rinjani. Di puncak gunung itu mereka bersemedi dan Dewi Rinjani diangkat oleh para jin untuk dijadikan ratu. Sejak saat itulah gunung tertinggi di pulau Lombok tersebut dinamakan Gunung Rinjani.


Sejarah Gunung Rinjani

Menurut cerita yang beredar di masyarakat, termasuk pecinta alam dan pendaki gunung, ada tiga versi kenapa gunung tertinggi di Nusa Tenggara tersebut dinamakan Rinjani, yaitu :
  1. Rinjani berasal dari bahasa jawa kuno 'Rinjan' yang berarti 'Tuhan'. 
  2. Rinjani diambil dari nama Dewi Rinjani yang mengantar Datu Tuan bertapa di atas gunung.
  3. Rinjani dilatarbelakangi kisah Putri Anjani yang menjadi hubungan dengan pria miskin namun tidak disetujui ayahnya, hingga akhirnya dia kabur menghabiskan sisa hidup di atas gunung. Para jin mengangkatnya menjadi ratu kerajaan mereka dan dinamailah gunung tersebut Rinjani. Namun, tidak jelas asal usul maupun legenda tentang Putri Anjani ini. 

Misteri dan Mitos Gunung Rinjani

Gunung Rinjani merupakan simbol sakral bagi suku Sasak dan suku Bali. Gunung cantik ini dikenal sebagai tempat Dewi Rinjani yang menurut legenda telah menjadi ratu jin, ada berbagai misteri yang ikut mewarnai keindahan Gunung Rinjani. Legenda, mitos dan larangan'pun sudah berkembang menjadi kepercayaan turun-temurun.

1. Dewi Anjani
Gunung Rinjani erat kaitannya dengan sosok Dewi Anjani. Masyarakat meyakini bahwa Dewi Anjani berparas cantik, terlahir dari perkawinan manusia Sasak dengan Jin dan masih keturunan Raja Selaparang. Masyarakat sering mengadakan upacara ritual dengan melarung emas berbentuk ikan ke Danau Segara Anak untuk menghormati keberadaan Dewi Anjani agar lingkungan sekitar Gunung Rinjani aman tentram.

2. Segara Muncar
Dari puncak Gunung Rinjani ke arah tenggara ada kaldera lautan debu yang dinamakan Segara Muncar. Konon pada saat tertentu terlihat istana ratu jin. Pengikutnya diyakini golongan jin yang baik. Segara Muncar menjadi salah satu nama tari kontemporer di Lombok yang menceritakan kisah malam pengantin Dewi Anjani.
Asal Usul Gunung Rinjani Lombok
Segara Muncar
Masyarakat Sasak percaya bahwa puncak Gunung Rinjani di jalur pendakian gunung adalah puncak semu, sedangkan puncak sejatinya dilindungi agar tidak tersentuh makhluk lain. 

3. Gunung Barujari
Gunung Barujari adalah anak Gunung Rinjani di Segara Anak. Menurut kepercayaan masyarakat, Gunung Barujari merupakan pusar Gunung Rinjani. Sebagian juga percaya bahwa meletusnya Gunung Barujari karena bangsa jin yang ada disana sedang membangun sesuatu. Hal ini nampak dari bebatuan yang tersusun rapi di sekitar kaki Gunung Barujari.
Asal Usul Gunung Rinjani Lombok
Gunung Barujari

4. Danau Segara Anak
Setiap tahun sebanyak dua kali, masyarakat Hindu Bali melakukan upacara di Segara Anak, sedangkan masyarakat Sasak bisa melakukannya berkali-kali. Danau Segara Anak dipercaya memberi suatu peringatan. Masyarakat percaya jika melihat danau terlihat luas, maka umur akan panjang, begitupula sebaliknya. Mitosnya, siapapun yang mandi atau berenang di danau harus tau diri dan tidak berniat jahat untuk menghindari gangguan dari penunggu danau.
Asal Usul Gunung Rinjani Lombok
Segara Anak

5. Air Panas Aiq Kalak
Sumber air panas di lereng Gunung Rinjani ini konon memiliki kesaktian. Selain biasa digunakan para pendaki untuk melepas lelah, orang-orang sakti biasanya mengetes kekuatan keris dan senjata di sumber air panas. Mitosnya, jika pusaka tidak memiliki kekuatan, maka akan langsung rusak atau bengkok. Demikian juga minyak obat bertuah dari minyak kelapa. Jika minyak yang disebut Siu Satus Tunggal direndam dan berubah semakin jernih, maka minyak tersebut memiliki kekuatan untuk menyembuhkan.
Asal Usul Gunung Rinjani Lombok
Air Panas Aiq Kalak
Bagi masyarakat Gumi Sasak, tempat pemandian ini dipercaya sebagai tempat pemandian Adipati Surabaya Raden Mas Jayanegara yang merupakan salah satu tokoh pewayangan di Lombok.

6. Tempat Para Wali
Masyarakat Sasak Lombok percaya bahwa di sekitar Danau Segara Anak ada sebuah masjid besar yang dibangun para gaib. Selain sebagai tempat ibadah, masjik tersebut konon dipercaya sebagai tempat diadakannya pertemuan para wali baik yang sudah tinggal disana maupun para wali yang masih hidup, namun memiliki kesaktian menembus alam gaib. Para wali inilah yang selalu menjaga Gunung Rinjani agar tidak meletus dan menyengsarakan penduduk Lombok.


Baca Juga :

7. Tempat Sakral
Ada beberapa tempat yang disucikan sebagai tempat bertapa dan juga tempat sakral untuk menyempurnakan ilmu. Menurut masyarakat setempat, penganut paham tarekat menunaikan ibadah haji ke Gunung Rinjani, mungkin maksudnya sebagai salah satu perenungan kebesaran Tuhan.  
Asal Usul Gunung Rinjani Lombok
Upacara Mulang Pekelem
Selain itu ada daerah tertentu di lereng Gunung Rinjani yang tidak boleh dimasuki (terlarang) karena diyakini daerah angker, dimana yang memasukinya akan hidup dan tinggal di daerah jin (hilang).

8. Gua Susu
Gua Susu berada sekitar 1 kilometer dari Segara Anak mengikuti jalur pendakian via Torean. Di dalam Gua Susu terdapat air panas dan dari stalagtitnya ada tetesan air yang konon berasa seperti susu, kadang berbeda-beda. Tempat ini sering digunakan peribadatan suatu golongan dan meditasi mencari kekuatan gaib. Mitosnya, mulut gua susu dipercaya akan lebih lebar jika yang masuk orang baik dan menjadi sempit jika yang masuk orang berniat jahat. 
Asal Usul Gunung Rinjani Lombok
Gua Susu

9. Bunga Sandar Nyawa (Edelweiss)
Semua pendaki gunung pasti tau bunga abadi bernama latin Anaphalis Javanica ini. Menurut kepercayaan masyarakat di sekitar Gunung Rinjani, tanaman ini adalah tanaman di dalam Taman Sari dari kerajaan Jin di alam gaib. Untuk memperoleh bunga ini, masyarakat jaman dahulu harus berani mempertaruhkan nyawa, itu sebabnya bunga ini juga disebut bunga Sandar Nyawa. Mitosnya, bunga ini tidak pernah layu dan mempunyai usia yang sama dengan makluk gaib. 
Asal Usul Gunung Rinjani Lombok
Bunga Sandar Nyawa (Edelweiss Rinjani)

10. Larangan Keluh Kesah
Keluh kesah seperti sudah mendarah daging di dalam diri pendaki ketika mendaki gunung yang seharusnya tidak dilakukan di gunung manapun. Namun, jangan berkeluh kesah di Gunung Rinjani. Kepercayaan yang berkembang terkait dengan Gunung Rinjani adalah soal kekawatiran. Mitosnya, bila mengkawatirkan sesuatu ketika pergi ke Gunung Rinjani, konon kekawatiranya bisa menjadi kenyataan. 

Asal usul Gunung Rinjani termasuk penamaannya, tidak bisa dibuktikan secara pasti dengan adanya berbagai versi legenda yang beredar. Berbagai misteri maupun mitos juga tidak sepenuhnya wajib dipercayai, tetapi menghormati dan menghargai kepercayaan masyarakat setempat mengenai Gunung Rinjani perlu dilakukan untuk menjaga keasrian alam Gunung Rinjani yang kini mulai tercemar akibat ulah manusia nakal yang tidak menghargai alam maupun budaya dan kepercayaan masyarakat setempat.


Baca Juga :




Read More

Lawang Sewu Semarang - Sejarah Kelam dibalik Seribu Pintu

Lawang Sewu Semarang. Jalan-jalan ke Semarang pasti tidak lepas dari tempat wisata sejarah Lawang Sewu. Gedung yang terkenal angker dengan seribu pintu ini selalu menjadi tujuan wisatawan ketika mengunjungi kota Semarang. Berada di simpang lima, bangunan indah, megah dan artistik penuh misteri ini selalu menarik minat siapapun yang lewat. Benarkah ada seribu pintu didalam?, atau benarkah gedung itu angker. Yah... mengenal misteri saja pasti kurang jika tidak mengenal sejarah Lawang Sewu.
gedung lawang sewu
Gedung Lawang Sewu
Lawang Sewu yang dalam bahasa Indonesia “Seribu Pintu” adalah sebuah gedung bersejarah yang ada di kota Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Gedung Lawang Sewu Semarang terletak di Jalan Pemuda, di bundaran Tugu Muda, menghadap ke Taman Wilhelmina. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Lawang sewu sebenarnya adalah kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS milik Belanda.

Baca : Sam Poo Kong -Klenteng Bekas Persinggahan Laksamana Cheng Ho
Disebut Lawang Sewu karena bangunan dua lantai ini memiliki pintu yang sangat banyak meski ada yang bilang pintunya tidak ada seribu atau bahkan lebih dari seribu. Sebagian pintu dengan 2 daun pintu dan sebagian 4 daun pintu yang terdiai dari 2 pintu dengan engsel ditambah 2 pintu jenis pintu geser. Bagian depan bangungan dihiasi menara kembar dan terbagi menjadi dua memanjang ke belakang. Di depan Lawang Sewu dulu melintas rel trem kota Semarang dan jalurnya sekarang masih ada di sekitar gedung.
gedung lawang sewu
Bangunan Dari Luar
Gedung tua peninggalan Belanda ini masih menyisakan bekas kejayaan. Bangunannya yang kokoh, artistik dan bergaya Eropa mengundang pengunjung dari dalam dan luar negeri untuk melihat keunikan dan kemistikan gedung kosong yang sudah menjadi tempat wisata bersejarah. Gedung ini selesai dipugar pada akhir Juni 2011 dan kembali dibuka untuk umum.
koridor lawang sewu
Koridor Lt.1 yang dibuat seperti koridor Kereta Api
Guide yang ramah akan mengantar berkeliling sambil menjelaskan sejarah mengenai Lawang Sewu. Guide hanya akan mengantar di area gedung, kecuali di ruang bawah tanah yang terkenal angker. Untuk masuk ke ruang bawah  tanah, diwajibkan menyewa jasa guide lagi dan menyewa sepatu boot dan senter karena ruang bawah tanah tergenang dengan penerangan minim.
koridor lawang sewu
Lorong di Lt.2
gedung lawang sewu
Keunikan Pintu-Pintu Gedung Lt.2
gedung lawang sewu
Kawasan Dalam Gedung
kereta api lawang sewu
Lokasi Rel dan Kereta Jaman Dahulu


Ruang Bawah Tanah Lawang Sewu

Lawang sewu mempunyai ruang bawah tanah yang pada jaman Belanda digunakan sebagai saluran pembuangan air. Setelah Jepang mengambil alih pemerintahan di Indonesia pada tahun 1942, ruang bawah tanah Lawang Sewu Semarang ini diubah menjadi penjara bawah tanah sekaligus pembuangan air dan digunakan untuk tempat pembantaian penduduk pribumi, pemuda Indonesia dan tentara Belanda sehingga Lawang Sewu menjadi saksi bisu kekejaman tentara Jepang membantai pemuda-pemuda yang melawan mereka.
ruang bawah tanah lawang sewu
Start Lorong Bawah Tanah
Ada banyak tempat penyiksaan di lorong bawah tanah Gedung Lawang Sewu yang pengap, yang paling berkesan diantaranya :
  1. Penjara Jongkok : Sebuah ruangan berpetak-petak dengan ukuran kurang lebih selebat 1,5 meter dan tinggi 1 meter. Tahanan berjumlah 7-8 orang harus jongkok di tempat yang tergenang air lalu ruangan ditutup dengan jeruji besi. Tahanan akan dikurung sampai meninggal. 
  2. Penjara berdiri : Ruangan kecil selebar 1 x 1 meter yang berjejer. Tahanan sejumlah 6-7 orang dirantai dan dimasukkan berdesakan dan dibiarkan sampai meninggal.
  3. Tempat pemasungan kepala  : Tahanan akan dipasung dengan pedang di dalam sebuah bak dan setelah dipasung, badan dan kepala akan ditenggelamkan ke sungai dengan jalan bawah tanah.
Dengan banyaknya korban penyiksaan, lorong bawah tanah menjadi tempat paling angker di Lawang Sewu dan pernah menjadi tempat uji nyali di salah satu stasiun televisi swasta. Kadang guide lorong bawah tanah yang rata-rata adalah paranormal, mengundang salah satu arwah untuk menampakkan diri di ujung lorong setelah semua penerangan di lorong dimatikan dalam waktu beberapa menit. Selain itu, guide juga menawarkan pengunjung berbicara langsung dengan arwah yang dimasukkan ke salah satu pengunjung, kalau mau.

Di sekitar gedung Lawang Sewu ada beberapa souvenir yang dijual di tempat pembelian tiket seperti stiker dan gantungan kunci yang dijual dengan harga terjangkau, namun masih belum ada kaos khas Lawang sewu yang dijual disana.

Tips Wisata ke Lawang Sewu Semarang :

  1. Wisata sejarah Lawang Sewu Semarang dibuka pada jam 07.00 dan ditutup pada pukul 21.00.
  2. Tidak diwajibkan untuk menyewa guide, tetapi di lorong bawah tanah diwajibkan menyewa guide.
  3. Jagalah sikap ketika mengunjungi gedung bersejarah Lawang Sewu.
  4. Taati peraturan yang ada dan tidak merusak barang apapun di kawasan wisata sejarah Lawang Sewu.
  5. Jangan mengotori area wisata ataupun melakukan vandalisme.

Read More

Misteri dan Sejarah Letusan Gunung Agung

Gunung Agung Bali. Gunung Agung merupakan salah satu gunung berapi aktif yang masuk dalam deretan cincin api di Indonesia. Dengan ketinggian 3.142 mdpl, Gunung Agung merupakan gunung tertinggi di Bali yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya Batara Mahadewa atau Hyang Tolangkir. Dipercaya sebagai gunung yang disucikan, Gunung Agung masih lekat dengan kepercayaan masyarakat Hindu setempat, seperti adat dan istiadat. Untuk itulah, siapapun yang mengunjungi atau mendaki Gunung Agung tidak boleh sembarangan.
Legenda, Misteri dan Sejarah Letusan Gunung Agung
Gunung Agung
Gunung Agung terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia. Di lereng Gunung Agung berdiri kokoh Pura Besakih, pura tertinggi di Bali yang dibangun pada tahun 1284 M oleh Resi Markandeya. Selain untuk tempat beribadah, Pura Besakih juga menjadi jalan awal Pendakian Gunung Agung dengan beberapa aturan yang harus ditaati. 

Adanya gunung tertinggi disertai tempat peribadatan umat Hindu membuat tempat ini begitu istimewa, belum lagi adanya adat istiadat yang masih dilakukan di gunung suci Pulau Bali ini. Gunung Agung tentu menyimpan legenda, sejarah bahkan misteri yang menarik untuk ditelusuri.

Asal Usul Gunung Agung

Masyarakat meyakini bahwa Gunung Agung merupakan tempat bersemayam Batara Mahadewa dan hal itu tidak lepas dari legenda Gunung Agung yang sudah melekat pada masyarakat sekitar. 

Konon saat para dewa memindahkan Gunung Meru yang ada di India, ada tiga bagian gunung yang jatuh dan membentuk gunung baru. Ketiga gunung yang terbentuk itu adalah Gunung Semeru di Pulau Jawa, Gunung Agung di Pulau Bali dan Gunung Rinjani di Pulau Lombok. Ketiganya menjadi gunung berapi tertinggi di masing-masing pulau dan diyakini sebagai gunung suci. 
Legenda, Misteri dan Sejarah Letusan Gunung Agung
Pura Besakih
Gunung Agung menjadi sakral karena masyarakat percaya bahwa semakin tinggi tempat maka semakin suci, dan di tempat suci itulah Sang Hyang Widi Wasa bersemayam. Untuk itulah Pura Besakih berdiri kokoh tepat di lereng Gunung Agung. Ada dua hal yang dipercaya masyarakat sebagai asal mula nama 'besakih' yaitu :
  • Besakih diambil dari bahasa Sansekerta berarti Selamat.
  • Besakih diambil dari nama seekor naga yang menghuni kawah Gunung Agung.

Misteri dan Mitos Gunung Agung

Sebagai gunung keramat, Gunung Agung menyimpan berbagai misteri dan mitos di dalamnya, yaitu :

1. Naga Besukih
Gunung Agung - Pura Besakih, tak lepas dari kisah naga yang menghuni kawahnya. Naga Besukih ini diceritakan di dalam legenda selat Bali. Dalam legenda tersebut, Naga Besukih diyakini sebagai penjaga harta karun yang ada di kawah Gunung Agung
Legenda, Misteri dan Sejarah Letusan Gunung Agung
Legenda Naga Besukih

2. Tempat Bersemayam Mahadewa
selain dipercaya menjadi tempat bersemayam Batara Mahadewa, Gunung Agung diyakini sebagai replika Gunung Semeru yang dibelah oleh Dewa Pasupati. Gunung Agung juga dipercaya sebagai jelmaan gunung di sorgaloka tempat bersemayam Batara Siwa.

Untuk itulah pada zaman itu, tidak ada seorangpun yang berani mendaki Gunung Agung tanpa diiringi pendeta. Mendaki Gunung Agung harus membawa sesaji dan tidak boleh menggunakan perhiasan atau barang lain seperti sepatu, arloji maupun uang, karena dihadapan dewa, manusia harus sederhana.

3. Sumber Air Suci
Ada sebuah sumber air di lereng Gunung Agung yang dianggap suci oleh masyarakat setempat, sehingga mengambilnya'pun tidak boleh sembarangan karena air digunakan untuk upacara adat. Sebelum mengambil harus bersembayang dahulu. Untuk itulah Pendakian Gunung Agung sangat diwajibkan memakai jasa guide setempat, karena jika hal buruk yang menyebabkan kematian terjadi di Gunung Agung, perlu diadakan upacara penyucian gunung.

4. Kera Putih
Bojog putih atau Sang Wanara Petak diidentikkan dengan sosok Hanoman yang diyakini membawa pertanda baik. Biasanya kera putih Gunung Agung ini muncul pada hari-hari baik tertentu, seperti saat gelaran pujawali Purnamaning di Pura Pasar Agung dan ritual Mulang Pakelem di kawah Gunung Agung. Menurut pamangku Pura Pasar Agung, kera putih ini dipercaya sebagai pengiring utusan Ida Batara Gunung Agung sekaligus penjaga keutuhan Gunung Agung.
Legenda, Misteri dan Sejarah Letusan Gunung Agung
What are you doing?

5. Pantangan Pendakian
Sampai kini, para pendaki Gunung Agung, tidak diperkenankan membawa daging sapi dalam bentuk apapun, karena sapi disucikan umat Hindu. Selain itu ada mitos dilarang memakai pakaian berwarna merah atau hijau dan pendakian tidak diperkenankan saat hari raya umat Hindu atau saat ada ibadah di Pura Besakih.


Upacara Adat

Sebagai gunung yang dikeramatkan, ada banyak upcara adat yang dilakukan di Gunung Agung, yaitu :
  1. Upacara untuk mengingatkan umat untuk menjaga kelestarian alam di sekitar tempat suci dilakukan setiap tahun dengan sesaji berupa kambing dan kerbau yang diceburkan ke dalam kawah atau sesai berupa buah-buahan kepada Dewa Kera Hanoman.
  2. Upacara Wana Kertih :  Dilakukan untuk memohon terwujudnya kelestarian lingkungan dan harmonisasi alam agar tidak terjadi bencana. Letusan gunung dipercaya terkait dengan ulah manusia, sehingga masyarakat selalu menjaga hubungan dengan penguasa gunung.
  3. Ritual menyucikan Gunung Agung dilakukan jika terjadi musibah, seperti orang hilang atau meninggal di Gunung Agung.
  4. Upacara Eka Dasa Rudra : upacara setiap 100 tahun saka. Ditujukan untuk meresapi segala ciptaan Tuhan yang tidak terbatas. 
  5. Upacara Pengelempana : Untuk memohon kepada Ida Shang hyang Widhi Wasa agar kondisi Gunung Agung tidak memburuk (saat erupsi).
  6. Upacara Meayu-ayu : Upacara untuk memohon agar terhindar dari bahaya yang ditimbulkan dari Gunung Agung.
Kegiatan Upacara Adat
Masih ada beberapa upacara adat maupun upacara keagamaan selain yang disebutkan di atas yang biasanya dilakukan di area lereng Gunung Agung khususnya Pura Besakih. Untuk itulah, siapapun yang ingin mendaki ke Gunung Agung sebaiknya bertanya pada masyarakat setempat tentang adanya kegiatan tersebut. 


Sejarah Letusan Gunung Agung

Gunung Agung merupakan gunung aktif paling eksplosif di Indonesia dibandingkan Gunung Merapi dan Gunung Sinabung. Eksplosif berarti letusan melontarkan batuan pijar, pecahan lava, hujan piroklastik dan abu. Berada di deretan cincin api sebagai gunung api  yang masih aktif, Gunung Agung memiliki sejarah letusan yang tercatat mulai dari tahun 1808. 
Legenda, Misteri dan Sejarah Letusan Gunung Agung
Letusan Gunung Agung
Sampai kini tercatat 4 letusan Gunung Agung yang pernah terjadi :
  1. 1808 : letusan melontarkan abu dan batu apung dengan jumlah besar.
  2. 1821 : letusan normal tanpa keterangan rinci.
  3. 1843 : diawali gempa bumi, letusan memuntahkan abu vulkanik, pasir dan batu apung. Tahun selanjutnya pada 1908, 1915 dan 1917 di berbagai area kawah dan pematang gunung tampak tembusan fumarola, yaitu lubang di dalam kerak bumi yang mengeluarkan uap dan gas seperti karbon dioksida, sulfur dioksida, asam hidroklorik dan hidrogen sulfida.
  4. 1963 : diawali gempa bumi, letusan dasyat bersifat magnatis sangat merusak dengan 1.148 korban meninggal dan 296 korban luka. Letusan ini berakhir pada 27 Januari 1964.
Setelah beristirahat cukup lama, Gunung Agung menunjukkan aktivitas vulkanis pada September 2017. Gunung suci yang dipercaya sebagai tempat bersemayam para dewa mungkin akan kembali bergejolak sebelum kembali tertidur pulas. Hm.... beautiful Balinese sanctity...

Read More

Mitos dan Situs Pemujaan Spiritual Gunung Arjuno

Misteri Gunung Arjuno. Gunung api Arjuno - Welirang merupakan gunung api istirahat yang berada di perbatasan Kota Batu, Kabupaten Malang dan Kabupaten Pasuruan. Dengan tinggi 3.339 mdpl, Gunung Arjuno merupakan gunung tertinggi ketiga di Jawa Timur. Nama Arjuno berasal dari salah satu tokoh pewayangan Mahabharata. Seperti gunung berapi lainnya di Jawa, Gunung Arjuno termasuk salah satu yang disakralkan. Adanya beberapa situs bersejarah menjadikan Gunung Arjuno juga menjadi tujuan para pelaku spiritual, sehingga menimbulkan kesan mistis di sepanjang jalur pendakiannya.
misteri gunung arjuno
Pegunungan Arjuno - Welirang
Berada di perbatasan tiga wilayah, ada beberapa jalur pendakian yang bisa dilalui. Namun hanya ada tiga jalur utama yang ngetrend di kalangan pendaki yaitu : 
Ketiga jalur tersebut mempunyai karakteristik dan suasana yang sangat berbeda, tapi mitos yang terdapat di dalamnya tetap sama dan selalu menjadi cerita menarik para pendaki, sekaligus menjadi pantangan yang secara tidak langsung menjadi aturan. 

Gunung Arjuno - Welirang pernah meletus pada tahun 1950 dan 1952. Ini merupakan waktu istirahat terpendek Gunung Arjuno - Welirang yang tercatat dalam sejarah

Legenda Gunung Arjuno

Arjuno menjadi nama gunung ini tidak lain karena sebuah legenda turun temurun tentang asal mula Gunung Arjuno. Konon, Arjuna bertapa di sebuah puncak gunung dengan sangat tekun hingga tubuhnya memiliki sinar dengan kekuatan yang luar biasa dan berdampak besar. Bumi bergoncang, kawah condrodimuko menyemburkan lahar, banjir, penyakit dimana-mana, bahkan gunung tempatnya bertapa terangkat ke langit.




legenda gunung arjuno
Legenda Gunung Arjuno
Hal ini membuat para dewa kuatir, sehinga membuat Batara Guru mengutus Batara Narada untuk menyelesaikan masalah, yaitu membangunkan Arjuna dari pertapaannya. Batara Narada gagal membangunkan Arjuna dengan segala cara. Akhirnya diutuslah Batara Ismaya bersama dengan Togog untuk membangunkan tapa Arjuna. Karena kesaktiannya, mereka berdua berubah menjadi besar melampaui puncak gunung dan mengeruk bagian bawah gunung tempat Arjuna bertapa, memotongnya dan melemparkan potongan gunung itu ke tempat lain.

Seketika Arjuna terbangun dan memperoleh nasehat dari Batara Ismaya. Nah, gunung tempat Arjuna bertapa itupun bernama Gunung Arjuno, sedangkan potongannya bernama Gunung Wukir. 

Situs dan Tempat Pemujaan Gunung Arjuno

Bersebelahan dengan Gunung Penanggungan yang dikenal dengan ratusan situs purbakala, tak membuat keadaan yang berbeda dengan Gunung Arjuno. Ada beberapa situs yang dijadikan tempat ziarah para pelaku spiritual, menimbulkan suasana yang mistis di area Gunung Arjuno. Kebanyakan situs tersebut bisa ditemui di jalur Pendakian Gunung Arjuno via Purwosari.

Berikut adalah beberapa situs sekaligus tempat pemujaan yang ada di sepanjang lereng Gunung Arjuno :

  1. Onto Boego : Tempat ziarah dan bersemedi untuk kalangan tertentu. Menurut juru kunci, goa ini dijaga oleh seekor ular naga. 
  2. Candi Madrim : Berbentuk punden berundak dengan 3 ukuran teras berbeda. Di teras atas ada beberapa batu andesit yang dibungkus kain putih dan 1 lumpang batu sebagai objek pemujaan. 
  3. Situs Eyang Abiyoso : Situs punden berundak yang telah dipugar. Ada 1 batu andesit besar seperting lesung, 1 umpak batu andesit segi empat dan 1 arca dwarapala. 
  4. Situs Eyang Sekutrem : Bangunan tempat menyimpan arca dan sebagai tempat ziarah, diduga bekas bangunan punden berundak. 
  5. Sendang Dewi Kunti : Tempat pemujaan dan sumber air. 
  6. Hyang Sakri : Tempat pemujaan. 
  7. Pondok Rahayu : Sebuah gubuk yang nampak seperti 'gubuk hantu' di tengah hutan yang masih akrab dengan 'aksara jawa'. 
  8. Situs Eyang Semar : Area tempat pemujaan dengan sebuah patung semar. Mitosnya, Eyang Semar adalah penasehat kepercayaan Arjuna dan di tempat tersebut melakukan moksa. 
  9. Mangkutoromo : Situs arkeologi berupa punden berundak yang paling besar di sepanjang jalur pendakian. 
  10. Candi Sepilar : Situs arkeologi yang berada tak jauh di atas Mangkutoromo. Merupakan bagian yoni, sedangkan bagian lingga ada di arah sebelah kanan.
Situs Pemujaan Gunung Arjuno
Tempat-tempat tersebut diyakini sebagai tempat pemujaan dengan adanya dupa dan bunga. Jadi jangan heran jika tercium bau dupa dan merasakan sensasi spiritual ketika mendaki Gunung Arjuno via Purwosari.

Mitos Gunung Arjuno 

Banyaknya situs sejarah dan tempat pemujaan di sekitar lereng Gunung Arjuno, membuat siapapun tidak bisa main-main seenaknya di gunung ini. Berbagai mitos'pun tumbuh dengan sendirinya dari mulut ke mulut. Berikut adalah berbagai mitos Gunung Arjuno :

1. Petilasan Petapa
Banyaknya petilasan peninggalan Kerajaan Majapahit dan Singasari. Masyarakat masih percaya bahwa orang yang melakukan moksa masih menjaga tempat-tempat tersebut. Selain itu, beredar mitos bahwa anak Arjuna dengan Bathari Dresnala yang bernama Bambang Wisanggeni juga menjaga petilasan-petilasan tersebut.
petilasan eyang semar
Petilasan Eyang Semar

2. Alas Lali Jiwo
Para pendaki Gunung Arjuno dan Gunung Welirang tentu tidak asing dengan nama Alas Lali Jiwo (Hutan Lupa Diri) yang kemistisannya sangat populer. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, orang yang mempunyai niat jahat, akan tersesat dan lupa diri di tempat tersebut. Menurut ahli spiritual, daerah alas lali jiwo banyak dihuni oleh para jin.

3. Pasar Setan
Pasar Setan atau disebut juga pasar dieng ada di jalur pendakian menuju puncak Gunung Arjuno via Tretes, tepatnya di area cukup luas yang terdapat banyak makam. Saat siang hari, lokasi tersebut hanyalah tanah lapang, namun saat malam hari, konon di tempat ini terdengar suara ramai seperti di pasar.
pasar setan
Area Pasar Setan

4. Acara Ngunduh Mantu
Selain suara gaib dari pasar setan, ada juga suara gamelan yang terdengar di sekitar Alas Lali Jiwo. Suara gamelan yang tiba-tiba ada dan tiba-tiba menghilang dipercaya sebagai acara ngunduh mantu bangsa jin. Mitosnya, jika mendengar bunyi gamelan, sebaiknya segera turun agar tidak dibawa bangsa jin alias tersesat dan hilang.

5. Pantangan 
Ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar para pendaki Gunung Arjuno. Beberapa diantaranya adalah tidak boleh naik dalam jumlah ganjil, tidak boleh menggunakan baju merah, untuk wanita haid dilarang melanjutkan naik ke puncak dan dilarang merusak situs-situs petilasan. Jika jumlah ganjil, hendaknya membawa sebuah tongkat untuk menggenapi. Pantangan-pantangan ini biasanya dikatakan juru kunci Mangkutoromo sebelum pendaki melanjutkan Pendakian Gunung Arjuno.

Banyaknya cerita-cerita mistis seperti pendaki hilang, pendaki tersesat, pendaki berpindah jalur pendakian hingga pendaki kerasukan setan karena melanggar pantangan, selalu menjadi bumbu cerita utama mitos Gunung Arjuno. Cerita lain? ask your friends who've come here.

Seperti penganut kepercayaan tertentu yang melakukan kegiatan spiritualnya di lereng Gunung Arjuno, pantangan dan mitos tersebut tidak sepenuhnya harus dipercaya. Meski mitos ada untuk mencegah hal-hal yang tidak dinginkan terjadi, kadang mitos juga dibuat untuk melindungi adat, budaya dan kepercayaan setempat, maupun melindungi situs arkeologi dari ulah para pendaki nakal. So, hold on to your faith !

Read More